Reinkarnasi dalam Pandangan Nasir Makarim al-Shirazi

Reinkarnasi dalam Pandangan Nasir Makarim al-Shirazi

Di dalam buku al-Ittisal bi al-Arwah Bayna al-Haqiqah wa al-Khayal, Qum: Madrasah al-Imam ‘Ali bin Abi Talib, cet. I, 1424 H., Nasir Makarim al-Shirazi, salah seorang ulama Iran kontemporer, membahas subjek reinkarnasi (tanasukh aw ‘udah al-arwah).

Pertama-tama dia mendefinisikan reinkarnasi sebagai kembalinya roh-roh ke dalam kehidupan dalam badan yang lain di dunia ini (h. 15). Lalu, dia mengutip perkataan al-Hulli ketika mengomentari perkataan Nasir al-Din al-Tusi di dalam Tajrid al-I‘tiqad tentang reinkarnasi, yaitu, “Reinkarnasi adalah ruh yang menjadi asas kepribadian dan keberadaan seseorang, jika berpindah ke badan lain, maka ruh itu menjadi asas keberadaan badan lain tersebut.”

Makna ini, menurut al-Shirazi, terkandung juga di dalam perkataan Ibnu Sina di dalam kitab al-Isharat, al-Tusi di dalam Sharh al-Isharat, dan Mulla Sadra di dalam al-Asfar, al-Lahiji di dalam Gawhar Murad, dan Hadi Sabziwari di dalam Sharh al-Manzumah (h. 16).

Masih tentang definisi, al-Shirazi terakhir mengutip Muhammad Farid Wajdi di dalam Da’irah Ma‘arif al-Qarn al-Ishrin 10/173 yang mengatakan, “Reinkarnasi adalah mazhab yang meyakini bahwa ruh setelah berpisah dengan badan akan kembali ke badan binatang atau manusia lain sampai mencapai kesempurnaan atau pantas hidup di antara ruh-ruh yang mulia di alam yang mulia” (h. 16).

Al-Shirazi menyebut ada pengertian yang lebih luas daripada pengertian tersebut, yaitu pengertian yang memandang reinkarnasi dapat terjadi pada empat fase. Keempat fase ini adalah:

  1. Al-naskh: kembalinya ruh ke badan manusia lain.
  2. Al-maskh: menempatinya (hulul) ruh pada badan binatang.
  3. Al-faskh: menempelnya (ta‘alluq) ruh pada tumbuhan.
  4. Al-raskh: menempelnya ruh pada benda mati (h. 17).

Banyak orang mengatakan bahwa keyakinan ini lahir di India dan Cina serta berakar pada agama-agama klasik (al-adyan al-qadimah). Al-Shahristani di dalam al-Milal wa al-Nihal mengatakan, “Keyakinan ini telah merusak banyak bangsa.” Menurut al-Shirazi, tidak ada satu pun aliran Islam yang meyakini reinkarnasi karena kembalinya ruh ke dalam kehidupan baru di dunia ini akan bertentangan dengan nas-nas ayat-ayat al-Quran. Pengecualian atas hal ini hanya berlaku pada satu aliran pada masa lalu yang disebut al-Tanasukhiyyah. Tapi, aliran ini sudah tidak ada pada zaman sekarang dan tinggal tersisa namanya saja di dalam buku-buku al-milal wa al-nihal (h. 18).

Selanjutnya al-Shirazi (h. 21-25) menjelaskan tiga motif yang mendasari keyakinan kepada adanya reinkarnasi.

Pertama, pengingkaran terhadap adanya kebangkitan dan alam akhirat.

Pada satu sisi, para penganut akidah reinkarnasi tidak mengenal, mengingkari, atau menganggap mustahil adanya akhirat. Pada sisi lain, mereka berpandangan bahwa jika manusia tidak mendapatkan balasan atas perbuatannya, maka ini bertentangan dengan keadilan Tuhan. Karena itu, mereka berkeyakinan bahwa orang-orang baik akan kembali ke badan yang lain di dunia ini; ke badan yang lebih baik dan lebih berbahagia daripada yang pertama untuk melihat perbuatan-perbuatan baiknya terdahulu; sedangkan orang-orang jahat akan kembali ke badan yang hidup dalam kepedihan dan siksaan, atau badan yang tidak sempurna untuk merasakan akibat dari perbuatan-perbuatan buruknya. Dengan cara inilah ruh dibersihkan dan memperoleh kesempurnaan.

Kedua, adanya anak-anak yang sakit dan cacat.

Sebagian orang, kata al-Shirazi, ketika melihat anak-anak yang terlahir cacat, berpikiran mengapa anak-anak yang tidak bersalah itu diciptakan Tuhan dalam keadaan demikian, lantas memastikan bahwa ruh yang berada pada badan-badan tersebut adalah ruh yang jahat, berdosa, dan lalim, dan ditempatkan Tuhan di badan-badan tersebut untuk memperlihatkan balasan atas perbuatan-perbuatan mereka dan dikembalikan ke dunia untuk merasakan siksaan.

Ketiga, motif psikologis.

Manusia menghadapi banyak kekalahan di dalam hidupnya. Reaksi atas kekalahan ini beragam. Ada yang lari ke dunia khayal untuk mendapatkan apa yang luput dari dirinya. Ada juga yang menjadikan “kembalinya ruh ke dalam kehidupan di dunia ini” sebagai cara untuk menenangkan pikirannya yang galau. Para “pecundang” ini mengkhayalkan ruh mereka akan kembali ke dunia di badan yang lain untuk mewujudkan keinginan dan harapan mereka di dalam kehidupan yang baru. Faktor psikologis lain yang mendorong munculnya keyakinan ini adalah pendidikan yang dibalut oleh kebencian dan dendam.

Setelah memaparkan motif-motif tersebut, al-Shirazi memaparkan dalil-dalil yang telah dikemukakan para filsuf tentang kesalahan keyakinan reinkarnasi. Al-Shirazi mengemukakan empat dalil, lalu mengiringinya dengan paparan tentang perspektif al-Quran tentang reinkarnasi.

Apa saja dalil-dalil tersebut? Marrah Gayyah, Insha Allah.

About these ads

One thought on “Reinkarnasi dalam Pandangan Nasir Makarim al-Shirazi

  1. @ Ahmad Fadhil
    Jika memang dalam madzhab syi’ah menentang dan menolak konsep reinkarnasi, lalu mengapa disisi lain para Imam Syi’ah banyak meriwayatkan hadits-hadits yang menceritakan adanya reinkarnasi.
    Ada sebuah riwayat dari jalur ahlul bait yang menceritakan manusia dirubah bentuknya menjadi cecak
    Dari Salih, dari al-Wasya’, dari Kiram, dari Abdullah bin Talhah berkata: Aku telah bertanya Abu Abdullah (Imam Ja’far Shodiq) mengenai cicak (al-Wazagh), maka beliau berkata: Kotor, pertukaran bentuk telah berlaku (rijsun wa huawa maskhun). Apabila anda membunuhnya, maka hadats. Kemudian beliau berkata: Sesungguhnya bapaku telah duduk di dalam ruangan bersama seorang lelaki yang sedang berbicara kepadanya, tiba-tiba seekor cicak menjelir lidahnya, maka bapaku berkata kepada lelaki itu: Adakah anda mengetahui apa yang dikatakan oleh cicak itu? Lelaki itu berkata: Aku tidak mengetahui apa yang dikatakan olehnya. Beliau berkata: Cicak berkata: Demi Allah, jika kamu menyebut Usman dengan cacian, niscaya aku akan mencaci Ali sehingga dia pergi dari sini. Bapaku berkata: Tidak mati seorangpun dari Bani Umayyah melainkan ditukar bentuknya menjadi cicak (laisa yamuutu min Bani Umayyati mayyitun illa musikha wazghan). Sesungguhnya Abd al-Malik bin Marwan di saat kematiannya berubah menjadi seekor cicak (musikha wazghan). Aku dan anaknya berada di sisinya. Manakala mereka kehilangannya, maka ia menjadi isu yang besar kepada mereka, mereka tidak mengetahui apa yang mereka lakukan. Kemudian mereka sepakat mengambil batang kurma, lalu mereka membuatnya seperti bentuk seorang lelaki. Mereka telah melakukannya. Mereka memakaikan batang kurma itu dengan baju besi. Kemudian mereka melipatkannya pada kafannya. Tiada seorangpun yang melihatnya melainkan aku dan anak lelakinya. (Al-Kulaini, Raudhat al-Kaafi, viii, hlm 257-8, hadis no. 305 “Pertukaran bentuk kepada cicak”)

    مستدرك الحاكم : عن أبي ذرّ ، قال رسول الله « ص » : اذا بلغ بنو أبي العاص ثلاثين رجلا اتخذوا مال الله دولا وعباد الله خولا ودين الله دغلا ] مستدرك الحاكم ج 4 ص 480[ .
    ويروى : نظيره عن أبي سعيد الخدري وغيره .
    ويروى : عن عبدالرحمن بن عوف ، قال : كان لايولد لاحد مولود الا أتى به النبي « ص » فدعا له ، فأدخل عليه مروان بن الحكم ، فقال : هو الوزغ ابن الوزغ الملعون ابن الملعون. ]نفس المصدر ص 479 [ .
    ويروى : عن أبي هريرة ، قال رسول الله « ص » : إني اُريت في منامي كأنّ بني الحكم بن ابي العاص ينزون على منبري كما تنزء القردة] نفس المصدر 480[
    اقول : في حياة الحيوان ـ وفي الصحيحين : إن النبي « ص » امر بقتل الوزغ وسماه فويسقا ، وقال : كان ينفخ النار الى ابراهيم ونزأ عليه : وثب .
    وأما مروان فهو ابن الحكم بن أبي العاص بن أمية بن عبد شمس بن عبد مناف . فهو ابن عم عثمان بن عفان بن أبي العاص .
    ويروى : لما بايع معاوية لابنه يزيد ، قال مروان : سنّة أبي بكر وعمر ، فقال عبدالرحمن بن أبي بكر : سنة هِرَقل وقيصر … مر الحديث في بني أمية. ]نفس المصدر ص [481
    ويروى أيضا : إن الحكم استأذن على النبي « ص » فعرف النبي « ص » صوته

    http://www.rafed.net/books/tarikh/alhaghaegh-fi-tarikh-al-islam/48.html

    Dari riwayat-riwayat di atas sangat jelas sekali bahwa bahwa ada proses reinkarnasi karena perbuatan dosa di dunia ini, bahkan dalam riwayat di atas disebutkan dengan tegas : “Tidak mati seorangpun dari Bani Umayyah melainkan ditukar bentuknya menjadi cicak”.
    Mungkin anda menyebutnya dengan kutukan atau maskhun, bukankah itu hanya beda nama saja, tapi isi dan prosesnya sama dengan reinkarnasi.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s