Satu Hari Bersama Pak Mulyadhi

Satu Hari Bersama Pak Mulyadhi

Ini tulisan saya untuk buku “You Are My Inspiration” yang digagas Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara. Buku ini akan berisi tulisan orang-orang yang mengenal Prof. Mulyadhi, lalu terinspirasi oleh apa saja dari diri beliau, baik bukunya, pengajarannya di kelas, atau bahkan status facebooknya. Insya Allah akan ada 60 kontributor untuk buku ini.

You Are My Inspiration: Satu Hari Bersama Pak Mulyadhi

Ahmad Fadhil

Sekitar 10 tahun lalu, seorang teman menyebut saya Mulyadhian. Saya menanggapinya dengan tersenyum. Waktu itu, dalam kegiatan Workshop Rekonstruksi Kurikulum IAIN SMH Banten, saya mengusulkan untuk mengganti nama mata kuliah Filsafat Islam I, II, dan III di Jurusan Akidah Filsafat menjadi Pengantar Filsafat Islam, Filsafat Islam Mayor, dan Filsafat Islam Minor. Usulan saya disetujui.

Sebulan lalu, Desember 2014, waktu Yasin Mohamed, Profesor Filsafat Islam dari Afrika Selatan, datang ke IAIN Banten, tempat saya bekerja sekarang, teman saya memperkenalkan saya kepadanya, “Ini murid Prof. Mulyadhi.” Saya menanggapinya dengan senyum juga.

Boleh jadi memang begitu. Tahun 2007-2008, ketika ikut sabbatical di Qom Iran, lalu saya terpesona oleh hidup dan mulianya Filsafat Islam di sana, yang muncul ke dalam pikiran saya adalah sosok guru saya, Pak Mulyadhi. Saya terinspirasi untuk menulis tentang “Posisi Dan Urgensi Mulyadhi Kartanegara Dalam Renaisans Filsafat Islam Di Indonesia.” Sayang tulisan itu terus mengeram di kepala. Tidak pernah menetas.

Sudah lebih dari 15 tahun saya mengenal Pak Mulyadhi. Tapi, di sini saya hanya akan menceritakan satu hari saja bersama beliau. Satu hari yang mengubah hidup saya. Satu hari yang mengarahkan langkah saya sampai hari ini.

Sebenarnya saya lupa kapan pastinya pertama kali saya bertemu dengannya. Yang saya ingat, saat itu saya mahasiswa S2 Jurusan Ilmu Filsafat di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Saya ikut mata kuliah Filsafat Islam, dosennya Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara. Selesai pertemuan pertama, dia mengajak saya pulang nebeng mobilnya dan mampir di rumahnya di Perumahan Dosen di dalam Kampus UIN Jakarta. Inilah momen satu hari bersama Pak Mulyadhi yang telah mengubah pandangan saya, sikap saya, lalu perilaku saya terhadap Filsafat Islam 360 derajat.

Bagaimana bisa? Apa yang dia lakukan kepada saya pada hari itu?

Sebelum menceritakan hal itu, izinkan saya menceritakan hal ini dulu. Saya mengenal kata Filsafat Islam pertama kali di tahun pertama saya belajar di MAPK Darussalam. Pembimbing asrama saya mahasiswa di Institut Agama Islam Darussalam Ciamis. Di kamarnya ada buku Seluk Beluk Filsafat Islam. Di bagian pengantar buku itu, ada kalimat, kira-kira, “Banyak orang menyangka bahwa Filsafat Islam hanyalah Filsafat Yunani dalam kemasan bahasa Arab.” Saya pikir, “Wah, ini menghina sekali. Islam kan ya’lu wa la yu’la ‘alayh. Meluhuri segala sesuatu dan tidak ada yang lebih luhur darinya. Kalau di Islam ada filsafat, pasti lebih luhur dari Filsafat Yunani.”

Saya belajar filsafat pertama kali di Pesantren Darussalam Ciamis pada tahun 1992. Al-Sullam al-Munawraq, sebuah buku daras logika yang dikemas dalam bentuk syair, diajarkan di pesantren itu oleh Guru Utama kami, KH. Irfan Hielmy. Kharisma beliau membuat saya menyukai ilmu yang diajarkannya. Menghafal bait-bait buku itu pun menjadi aktifitas yang menyenangkan. Lalu, saya mendapat kesempatan belajar di Universitas al-Azhar Kairo. Saya berangkat dengan niat ingin menjadi doktor hadis. “Sudah ada doktor tafsir (Pak Quraisy Shihab) dari al-Azhar, biar saya yang jadi doktor hadisnya,” niat saya waktu itu.

Tapi, Mesir surga buku. Buku banyak sekali dan mudah sekali diperoleh. Buku terbanyak yang berjodoh untuk saya beli pada tahun-tahun awal di Mesir adalah buku-buku yang berbau filsafat. Pemikir Mesir seperti al-‘Aqqad, Zaki Najib Mahmud, dan Anis Mansur adalah kesukaan saya. Maka, ketika saya harus masuk ke salah satu jurusan di Fakultas Ushuluddin, dan pihak Universitas menetapkan saya masuk Jurusan Tafsir, saya tidak terlalu antusias. Beruntung ada teman dari Sudan yang ditetapkan dimasukkan ke Jurusan Akidah Filsafat dan dia tidak mau masuk jurusan itu. Kami bertukar jurusan. Dia ke Jurusan Tafsir. Saya ke Jurusan Akidah Filsafat.

Perubahan arah inilah yang—alhamdulillah—membawa saya kepada pertemuan dengan figur yang membuat saya hingga kini “terus menerus tersesat” di dalam belantara Filsafat Islam. Figur Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara. Saya bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Pak Mulyadhi yang membuat saya tersesat di belantara ini. Ini namanya tersesat di jalan yang benar. Hingga saat ini saya betah nelisiki daun demi daun, bunga demi bunga, pohon demi pohon, bahkan semak demi semak, hewan demi hewan, di belantara ini. Belantara Filsafat Islam. Belantara ini indah. Jika suatu saat saya sudah tahu jalan keluarnya, lalu keluar, saya pasti akan terus kembali memasuki belantara ini.

Sekarang tiba saatnya saya menceritakan bagaimana Pak Mulyadhi memberi saya pandangan yang benar-benar baru tentang Filsafat Islam?

Di kelas, Pak Mulyadhi berbicara Filsafat Islam Mayor dan Minor. Yang saya pahami dari penjelasan beliau, Filsafat Islam Mayor adalah para filsuf yang sudah terkenal seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, Miskawayh, al-Ghazali, Ibnu Rushd. Tidak terlalu banyak nama yang bisa disebutkan. Padahal, aneh sekali jika pada masa itu filsuf-filsuf Islam itu hanya segelintir orang-orang itu. Aneh sekali jika pada masa al-Kindi hanya al-Kindi yang menggeluti filsafat. Aneh sekali jika setelah dia meninggal tidak ada filsuf lagi sampai muncul al-Farabi. Aneh sekali jika al-Farabi sendirian yang sibuk dengan filsafat Islam. Dst. Untuk itu perlu ada kajian Filsafat Islam Minor, kajian tentang para filsuf yang nama-namanya saja belum dikenal oleh para pengkaji filsafat Islam, apalagi dipelajari bukunya.

Pak Mulyadhi mengatakan bahwa seharusnya pada masa itu banyak orang berbicara filsafat bersama dengan al-Kindi. Kajian ini terus marak dari satu masa ke masa berikutnya dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan memang itulah yang terjadi. Di rumahnya di Kompleks Dosen UIN Syarif Hidayatullah beliau memberikan saya sebuah buku—ah ini sifat baik beliau yang belum bisa saya tiru, memberi buku gratis pada murid—Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai Dari Chicago. Di buku ini beliau menjelaskan bagaimana penguasa Islam pada masa itu, mulai dari khalifah sampai gubernur atau bangsawan di suatu tempat, meramaikan kajian filsafat dengan membuka galeri-galeri diskusi filsafat di rumah atau istana mereka.

Masih pada hari yang sama, saya pikir pembicaraannya sudah dimulai sejak saya nebeng di mobil Pak Mulyadhi dari Salemba ke Ciputat, beliau bercerita tentang rencana menerbitkan disertasinya di Universitas Chichago. Dalam rencananya ini, beliau ingin melibatkan saya sebagai penerjemah teks-teks bahasa Arab dari buku Mukhtasar Siwan al-Hikmah karya Umar bin Sahlan al-Sawi. Saat itu saya sudah hobby menerjemah. Maka, dengan senang hati saya menerima kepercayaannya.

Saat saya menyerahkan hasil terjemahan disertasi itu, saya mengantarnya ke rumah beliau di Yogyakarta karena pada saat itu beliau bertugas sebagai Executive Director of Center for Religious and Cross-cultural Studies, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Disertasi beliau kini telah terbit dengan judul The Best Chicken Soup Of The Philosopher oleh Penerbit Hikmah. Di sini saya melihat satu sisi unik lagi dari diri beliau. Beliau memperlihatkan saya dua naskah tulisan tangan untuk bukunya yang akan segera terbit. Kalau saya tidak salah, tidak salah judulnya Menembus Batas Waktu dan Menyibak Tirai Kejahilan. Buku tulis tangan, itu luar biasa.

Di rumahnya, Pak Mulyadhi memperlihatkan kepada saya koleksi bukunya. Salah satunya beliau anjurkan agar saya jadikan kajian tesis, yaitu Al-Imta‘ Wa al-Mu’anasah karya Abu Hayyan al-Tawhidi. Beliau menyebut buku ini sebagai 1001 Malam-nya para filsuf. Dengan membaca buku ini saya tahu kebenaran kata-kata Pak Mulyadhi. Pada abad ke-4 Hijriah, di seluruh dunia Islam terdapat galeri-galeri diskusi yang diasuh oleh para penguasa, bangsawan, atau hartawan. Di galeri-galeri ilmiah ini berkumpul para ilmuwan, sastrawan, pujangga, dan filsuf untuk membicarakan hal-hal yang serius dalam berbagai cabang ilmu dan berbagai mazhab pemikiran, atau untuk sekadar mengobrol dan bersenda gurau. Salah satunya adalah Galeri Ibnu Sa‘dan yang menjadi penyebab lahirnya buku al-Imta‘ Wa al-Mu’anasah.

Walaupun saya tidak berjodoh dengan buku ini untuk menjadi kajian tesis, karena tesis saya mengkaji buku lain yang diberikan oleh Pak Mulyadhi, yaitu Budd al-‘Arif karya Ibnu Sab‘in, saya menjadi suka pada figur Abu Hayyan al-Tawhidi. Saya menikmati keterangan gamblang tentang kondisi Irak pada pertengahan kedua abad keempat Hijriah, yaitu pada masa pemerintahan Buwaihiyah. Abu Hayyan mengupas banyak masalah sosial, mengungkap kepribadian para pangeran, para menteri, dan galeri-galeri diskusi mereka, kepribadian para ilmuwan dan pembahasan, perdebatan, serta persaingan di antara mereka, pertentangan para ahli tata bahasa dengan para ahli logika, seperti polemik yang sangat indah antara Abu Said as-Sairafi dengan Mata bin Yunus al-Qubbai tentang keunggulan logika Yunani daripada bahasa Arab, dan pendapat para ilmuwan tentang suku bangsa-suku bangsa dan keunggulan antar bangsa dan lain-lain.

Buku al-Imta’ wa al-Mu’anasah menjadi model bagi filsuf muslim generalis yang membuka diri dan menguasai berbagai bidang keilmuan mulai sastra, puisi, prosa, bahasa, filsafat, logika, politik, fauna, makanan, minuman, banyolan, nyanyian, musik, sejarah, analisa tokoh-tokoh politik, ilmuwan, filsuf, dan sastrawan pada masa itu, dan juga menjadi cendikiawan yang mampu mengupas kehidupan sosial kontemporer dengan cara yang sangat menyenangkan dan mengintimkan pembacanya.

Untuk membuktikan tentang banyaknya, atau buanyaknya, orang yang menggeluti filsafat Islam, Pak Mulyadhi menyuruh saya mencari buku al-Fihrist Ibnu al-Nadim di rak bukunya. Saya ambil, saya lihat daftar isinya, saya baca selintas isinya, dan samar-samar saya mendengar Pak Mulyadhi membaca mantra, “Jika kita menginginkan renaisans filsafat Islam di Indonesia, mungkin kita butuh waktu tiga ratus tahun. Itu pun jika kita bekerja sangat-sangat keras sejak saat ini.” Saya tidak yakin benar Pak Mulyadhi berbicara seperti itu, tapi yang pasti beliau telah menghipnotis saya hingga membuat saya tidur dan tidak bangun-bangun dari mimpi indah memasuki Dunia Filsafat Islam.

Qawa’id Imla’ 01: Hamzah Wasl

Qawa’id Imla’ 01: Hamzah Wasl

Praktikum Qira’at al-Qur’an Wa al-Tahfiz

Ahmad Fadhil

 

Qawa‘id al-Imla’

Pelajaran Pertama: Hamzah Wasl

Tulislah kata-kata berikut ini:

  1. اِسْمٌ، اِبْنٌ، اِبْنَةٌ، اِمْرُؤٌ، اِثْنَانِ، اِثْنَتَانِ
  2. اَلْحَمْدُ، اَلْعَالَمِيْنَ، اَلرَّحْمَنُ، اَلرَّحِيْمُ، اَلدِّيْنُ، اَلصِّرَاطُ، اَلْمُسْتَقِيْمُ، اَلْمَغْضُوْبُ، اَلضَّالِّيْن
  3. اُكتُبْ، اِنْكَسَرَ، اِنْطَلِقْ، اِنْطِلَاقًا، اِسْتَخْرَجَ، اِسْتَخْرِجْ

Perhatikan huruf-huruf alif (ا) di awal setiap kata tersebut. Huruf-huruf alif itu disebut Hamzah Wasl. Hamzah Wasl artinya hamzah tambahan yang ada di awal kata untuk menjadi penyambung dengan huruf mati yang ada setelahnya. Huruf ini dibaca jika ia berada di awal ucapan dan tidak dibaca jika ia tersambung dengan kata lain sebelumnya. Huruf alif di dalam kata-kata ini ditulis tanpa hamzah (ء).

Hamzah pada kata اسم dibuang baik sebagai tulisan maupun bacaan dalam lafal basmalah karena sering digunakan, tidak dibuang pada lafal lainnya.

Hamzah pada lafal ابن menjadi Hamzah Qat‘ (akan diterangkan pengertiannya pada pertemuan selanjutnya) jika lafal tersebut dibentuk menjadi tathniyah (إبنان) atau jam‘ (أبناء).[1]

 

Latihan

Bacalah ayat-ayat al-Quran berikut ini: Al-Fatihah: 1, al-‘Alaq: 1, Al ‘Imran: 45, al-An‘am: 118, al-A‘la: 1, al-Baqarah: 177, al-Tahrim: 12, al-Nisa’: 176, Al ‘Imran:  35, al-Ma’idah: 106, al-Baqarah: 60, al-A‘raf: 156, al-‘Asr 1-3, Al ‘Imran: 53; lalu tulislah ayat-ayat berikut:

  1. بِسۡمِ ٱللهِ, اقْرَأْ بِاسْمِ, مِنْهُ اسْمُهُ, ذُكِرَ ٱسۡمُ, سَبِّحِ اسْمَ, وَالْمَسَاكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ, وَمَرْيَمَ ابْنَةَ عِمْرَانَ, إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ, إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ, حِيْنَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ, مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ
  2. Tulislah QS al-‘Asr.
  3. واكتب لنا في هذه الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة إنا هدنا إليك
  4. ربنا أمنا بما أنزلت واتبعنا الرسول فاكتبنا مع الشاهدين

 Senin, 15 Oktober 2012.

Sekularisme Parsial Dan Sekularisme Absolut

Sekularisme Parsial Dan Sekularisme Absolut

http://www.elmessiri.com/articles_view.php?id=31

بين العلمانية الجزئية والعلمانية الشاملة

د. عبد الوهاب المسيرى

 

SEKULARISME PARSIAL DAN SEKULARISME ABSOLUT

‘Abd al-Wahab al-Masiri

Terjemah oleh Ahmad Fadhil

ما هي العلمانية؟ هذا السؤال قد يبدو بسيطا، و الإجابة عليه أكثر بساطة، فالعلمانية هي فصل الدين عن الدولة ، أليس كذلك؟ قد يندهش القارئ إن أخبرته أن إجابتي علي هذا السؤال بالنفي و ليس بالإيجاب. و لتوضيح وجهة نظري أري أنه من الضروري أن أطرح قضية منهجية خاصة بالتعريف.

Apakah sekularisme itu? Pertanyaan ini nampak sederhana dan jawabannya lebih sederhana. Sekularisme adalah upaya memisahkan agama dari negara. Bukankah begitu? Pembaca mungkin akan terkejut jika saya katakan bahwa jawaban saya bagi pertanyaan ini adalah tidak, dan bukannya ya. Untuk menjelaskan pandangan ini, saya pikir penting untuk terlebih dulu membahas wacana metodologis yang berkaitan dengan definisi.

  Read more

Memenuhi Kebutuhan Orang Lain

Memenuhi Kebutuhan Orang Lain

MEMENUHI KEBUTUHAN ORANG LAIN

Allah SWT menghendaki berjalannya tradisi saling menolong dan solidaritas di tengah-tengah masyarakat. Itulah hukum yang harus berlaku di tengah-tengah masyarakat agar masyarakat itu dapat menunaikan tugas dan perannya, sebagaimana tolong menolong juga menjadi hukum yang berlaku di antara anggota-anggota tubuh seorang manusia agar dia dapat menunaikan tugas dan tanggung jawabnya.

Read more

Ibrahim Tak Pernah Bohong

Ibrahim Tak Pernah Bohong

Muhammad Hadi Ma’rifah di dalam buku Shubhat wa Rudud Hawla al-Qur’an al-Karim, h. 28-29 mengatakan bahwa beberapa hadith yang diriwayatkan Abu Hurairah menerangkan bahwa Ibrahim pernah tiga kali berbohong. Dua kali berkaitan dengan Allah, yaitu perkataannya inni saqim (al-Saffat: 89) dan bal fa’alahu kabiruhum hadha (al-Anbiya’: 63) dan ketiga berkaitan dengan istrinya, Sarah, yaitu pengakuannya bahwa Sarah adalah saudara perempuannya (Shahih al-Bukhari, 4/171 dan 7/7; Shahih Muslim 7/98; Musnad Ahmad 2/403-404).

Read more

Tujuh Kiat Agar Gemar Membaca

Tujuh Kiat Agar Gemar Membaca

Supaya bisa gemar atau rajin membaca:

Satu, jangan memaksa diri untuk membaca.

Membaca di sini maksudnya membaca buku-buku yang bebas dibaca. Kalau buku yang wajib dibaca seperti buku pelajaran, ya harus dipaksa.[1]

Dua, berusahalah memilih buku yang tepat.

Tidak ada satu buku yang cocok untuk semua orang, tidak ada satu penulis yang bisa disenangi semua orang. Pilih sendiri buku yang cocok bagi Anda, penulis yang Anda senangi. Jangan membenci atau berhenti membaca secara total hanya karena ada satu dua buku yang susah Anda pahami atau tidak dapat Anda nikmati. Dalam satu bidang bacaan, ada banyak sekali buku.[2]

Tiga, tentukan apa tujuan Anda membaca.

Mengapa Anda ingin menjadi pembaca? Mengapa Anda ingin gemar membaca? Bayangkan kondisi yang lebih baik yang dapat Anda peroleh setelah membaca suatu buku atau setelah menjadi kutu buku.[3]

Empat, jangan tergesa-gesa dalam membaca.

Jangan galau kalau Anda membaca lebih lambat daripada orang lain. Pembaca pemula lebih baik membaca dengan lambat. Kalau sudah bosan membaca tinggalkan saja, jangan memaksa untuk meneruskan. Kerjakan yang lain, setelah itu baca lagi.[4]

Lima, jangan ragu untuk mencoret-coret atau membuat catatan di buku.

Buku bukan guci antik yang tidak boleh tergores. Buku cuma alat untuk bersenang-senang. Kalau perlu menekuk halaman “hanca”, tekuk saja. Membuat catatan dapat memberikan kesan “pribadi” bagi buku yang Anda baca. Tapi ingat, pesan ini berlaku jika dan hanya jika buku itu milik Anda. Dilarang keras menekuk dan membuat catatan di buku milik orang lain.[5]

Enam, bergayalah seperti kutu buku.

Koleksi buku sebanyak mungkin walaupun tampaknya Anda tidak akan habis membaca buku-buku koleksi Anda. Rajin-rajin datang ke perpustakaan dan toko buku untuk melihat, meminjam, dan membeli buku bagus yang belum Anda punya. Selalu sediakan buku dalam jarak yang mudah Anda jangkau: di dalam tas, dasbor mobil, pinggir ranjang. Lama kelamaan hubungan Anda dengan buku pasti akan semakin erat.

Tujuh, ingat sekali lagi, tujuan membaca adalah bersenang-senang. Manfaat lainnya boleh datang belakangan.

Jangan jadikan membaca sebagai rutinitas. Bila perlu, siapkan ruang tertentu yang Anda untuk membaca seperti Anda menyediakan ruang untuk salat. Membaca boleh dijadikan sebagai ritual yang sakral dan indah. Atau, usaha apa saja yang meninggalkan kesan membaca adalah sesuatu yang menyenangkan.[6]


[1] Sajid al-‘Abdali, Iqra’: Kayfa Taj‘al al-Qira’ah Juz’an Min Hayatik, Dubai: Dar Madarik li al-Nashr, cet. I, September 2011, h. 19.

[2] Sajid al-‘Abdali, Iqra’: Kayfa Taj‘al al-Qira’ah Juz’an Min Hayatik, h. 20.

[3] Sajid al-‘Abdali, Iqra’: Kayfa Taj‘al al-Qira’ah Juz’an Min Hayatik, h. 21.

[4] Sajid al-‘Abdali, Iqra’: Kayfa Taj‘al al-Qira’ah Juz’an Min Hayatik, h. 21.

[5] Sajid al-‘Abdali, Iqra’: Kayfa Taj‘al al-Qira’ah Juz’an Min Hayatik, h. 22.

[6] Sajid al-‘Abdali, Iqra’: Kayfa Taj‘al al-Qira’ah Juz’an Min Hayatik, h. 23.