Usul Fiqh

SILABUS

Deskripsi Mata Kuliah

Mata kuliah ini membahas pengertian, subjek, manfaat, keutamaan, dan sejarah Ilmu Usul Fiqh serta hubungannya dengan ilmu lain; dua tema utama dalam Ilmu Usul Fiqh yaitu hukum dan sumber hukum; beberapa kaidah usul fiqh serta beberapa kaidah fiqh; dan kondisi ilmu Usul Fiqh kontemporer.

Standar Kompetensi

  1. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian, subjek, manfaat, keutamaan, dan sejarah Ilmu Usul Fiqh serta hubungannya dengan ilmu-ilmu lain.
  2. Mahasiswa dapat menjelaskan jenis hukum Islam.
  3. Mahasiswa dapat menjelaskan sumber hukum Islam.
  4. Mahasiswa dapat menjelaskan beberapa kaidah Ilmu Usul Fiqh.
  5. Mahasiswa dapat menjelaskan beberapa kaidah fiqh.
  6. Mahasiswa dapat menjelaskan perkembangan Ilmu Usul Fiqh kontemporer.

Indikator Kompetensi

  1. Mahasiswa mampu memaparkan definisi usul, fiqh, dan usul fiqh baik secara etimologis maupun terminologis.
  2. Mahasiswa mampu mencari ayat-ayat al-Quran yang memuat kata fiqh dan menghapal 3 ayat al-Quran yang memuat kata fiqh dan terjemahnya.
  3. Mahasiswa memahami subjek kajian Ilmu Fiqh dan membedakannya dari subjek kajian ilmu-ilmu lain.
  4. Mahasiswa memahami manfaat dan keutamaan mempelajari Ilmu Usul Fiqh.
  5. Mahasiswa mampu menguraikan pengertian jenis-jenis hukum Islam dan memberikan contoh-contohnya.
  6. Mahasiswa memahami kedudukan al-Quran sebagai sumber hukum Islam yang pertama.
  7. Mahasiswa memahami kedudukan Sunnah sebagai sumber hukum Islam yang kedua.
  8. Mahasiswa dapat menyebutkan sumber hukum lain dan pengertiannya masing-masing.
  9. Mahasiswa mampu menyebutkan beberapa kaidah dalam Ilmu Usul Fiqh dan aplikasinya.
  10. Mahasiswa mampu menyebutkan beberapa kaidah fiqh dan aplikasinya.
  11. Mahasiswa mengetahui kondisi perkembangan Ilmu Usul Fiqh kontemporer.

Topik Inti

  1. Pendahuluan: Pengertian, Subjek, Manfaaat, Keutamaan, Sejarah, dan Hubungan Ilmu Usul Fiqh Dengan Ilmu-Ilmu Lain.
  2. Hukum Islam: Wajib, Sunnah, Haram, Makruh, Mubah, Sahih, Fasid.
  3. Sumber Hukum Islam: al-Quran, Sunnah, dan Sumber Hukum Yang Lain.
  4. Kaidah-Kaidah Usul Fiqh.
  5. Kaidah-Kaidah Fiqh.
  6. Fiqh dan Usul Fiqh Kontemporer.

Penilaian

UTS dan UAS (50 %), tugas individu dan kelompok dan keaktifan berdiskusi (50 %).

Daftar Pustaka

  1. ‘Abd al-Karim Zaydan, al-Wajiz fi Usul al-Fiqh, Beirut: Mu’assasah al-Risalah, cet. VI, 1987.
  2. ‘Abd al-Wahhab Khallaf, ‘Ilm Usul al-Fiqh, Kairo: Maktabah al-Da‘wah al-Islamiyyah, tt..
  3. ‘Ali Jum‘ah Muhammad, ‘Ilm Usul al-Fiqh wa ‘Alaqatuh bi al-Falsafah al-Islamiyyah, Kairo: al-Ma‘had al-‘Alami li al-Fikr al-Islami, cet. I, 1417 H./1996 M.
  4. Ahmad Farraj Husayn dan ‘Abd al-Wadud Muhammad al-Saryati, Usul al-Fiqh al-Islami, Iskandariyyah: Mu’assasah al-Thaqafah al-Jami‘iyyah, 1410 H./1990 M..
  5. Khalid Ramadan Hasan, Mu‘jam Usul al-Fiqh, al-Rawdah, cet. I, 1998 M.
  6. Muhammad al-Amin al-Shanqiti, Mudhakkirah fi Usul al-Fiqh, Madinah al-Munawwarah: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam, 2001 M.
  7. Muhammad al-Hudari Bik, Usul al-Fiqh, Kairo: al-Maktabah al-Tijariyyah, tt..
  8. Muhammad ‘Ali al-Shahristani, Madkhal ila ‘Ilm al-Fiqh, London: al-Jami‘ah al-‘Alamiyyah li al-‘Ulum al-Islamiyyah, cet. I, 1416 H./1996 M..
  9. Muhammad Su‘ad Jalal, Muqaddimah fi al-Ta‘rif bi ‘Ilm Usul al-Fiqh wa al-Fiqh, cetakan al-Ittihad al-Dawli li al-Bunuk al-Islamiyyah.
  10. Samih ‘Atif al-Zayn, ‘Ilm Usul al-Fiqh al-Muyassar, Beirut: Dar al-Kitab al-Lubnani dan Dar al-Kitab al-Misri, cet. I, 1410 H./1990 M.

Pustaka Anjuran

  1. Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 1
  2. Nasrun Haroen, Ushul Fiqh 1
  3. TM. Hasbi ash-Shiddiqy, Pengantar Hukum Islam  1 dan II.
  4. Satria Efendi, Ushul Fiqh.

 

Serang, 27 Februari 2013

 

Ahmad Fadhil, Lc., M.Hum.

No. Hp: 081380433898

Email: bangapad@yahoo.co.id

Blog: af4machtum.wordpress.com

Akun fb: bangapad

 

PENGERTIAN ILMU USUL FIQH

Ahmad Fadhil

 

الوَرَقَاتُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ لِلْإِمَامِ الْجُوَيْنِي

Kitab al-Waraqat fi ‘Usul al-Fiqh

Karya Imam al-Juwayni

بِسمِ اللَّه الرَّحمَنِ الرَّحِيم

Bismillahirrahmanirrahim

أَما بَعْدُ فَهَذِهِ وَرَقَاتٌ تَشْتَمِلُ عَلَى مَعْرِفَةِ فُصُولٍ مِنْ أُصُولِ الْفِقْهِ،

Amma bakdu. Ini adalah kitab al-Waraqat yang memuat pengetahuan tentang beberapa bagian dalam Usul Fiqh.

وَذَلِكَ مُؤَلَّفٌ مِنْ جُزْءَيْنِ مُفْرَدَيْنِ،

Kata itu tersusun dari dua bagian.

فالأَصْلُ: ما يُبْنَى عَلَيْهِ غَيْرُهُ،

Pertama, al-asl (pondasi). Yaitu, sesuatu yang menjadi dasar bagi yang selainnya.

وَالْفَرْعُ: مَا يُبْنَى عَلَى غَيْرِهِ،

(Lawan dari) al-far‘ (cabang), yaitu sesuatu yang dibangun di atas yang lain.

وَالْفِقْهُ: مَعْرِفَةُ الأحكَامِ الشّرْعِيَّةِ الَّتِي طَرِيقُهَا الاجْتِهَادُ

Kedua, al-fiqh, yaitu pengetahuan tentang hukum-hukum syariat yang diperoleh melalui ijtihad.

وَأُصُولُ الْفِقْهِ: طُرُقُهُ عَلَى سَبِيلِ الإِجْمَالِ، وَكَيْفِيَّةُ الاستِدْلالِ بِهَا .

Usul Fiqh adalah metode-metode fiqh dalam bentuk yang global dan tata cara menarik kesimpulan dengannya.

 

Definisi Usul

Kata أُصُول adalah bentuk jama dari kata أَصْل. Secara etimologis asl berarti “dasar bagi yang lain”. Sebagai istilah, kata asl menjadi sebutan bagi beberapa hal, di antaranya:

Pertama, دَلِيل. Jika seseorang mengatakan, “أَصْلُ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ (Dasar dalam masalah ini adalah al-Kitab dan Sunnah),” maka yang dia maksud adalah, “Dalil masalah ini adalah al-Kitab dan Sunnah.”

Kedua, القَاعِدَة. Jika seseorang mengatakan, “الأَصْلُ أَنَّ الْفَاعِلَ مَرْفُوْع (Menurut dasarnya, fa‘il itu harus dibaca marfu‘),” maka maksudnya adalah “Menurut kaidahnya, fa‘il itu marfu‘.”[1]

 

Definisi Fiqh

Fiqh secara etimologis berarti فَهْم (paham).[2] Penggunaan kata fiqh di dalam al-Quran[3] menunjukkan bahwa fiqh tidak berarti sekadar fahm, melainkan الإِدْرَاكُ الْعَمِيْق فِي أَمْرٍ مِنَ الْأُمُوْر (pengetahuan yang mendalam tentang suatu perkara), تَعَمُّق (pendalaman), atau الفَهْم الدَّقيق (pemahaman yang mendalam).[4]

Misalnya, dalam firman Allah (al-Tawbah: 122):

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

Kata fiqh pada zaman Rasul saw juga bermakna pemahaman yang mendalam tentang kaidah, aturan, dan tujuan agama Islam.

Misalnya, sabda Rasul saw:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْن (متفق عليه),

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, maka Dia membuat orang itu memiliki pemahaman agama yang mendalam.” [5]

Dari pengertian tersebut dapat kita katakan bahwa jika pengetahuan manusia tentang sesuatu ada dua macam, yaitu pengetahuan yang dangkal dan yang mendalam, maka kata fiqh menunjuk pada pengetahuan yang mendalam. Ketika Islam menyuruh umatnya untuk tafaqquh fi al-din, ini berarti umat Islam harus memahami Islam berdasarkan pemahaman yang komprehensif, yang mencakup berbagai bidang mulai dari pokok akidah, filsafat (ru‘yah kawniyyah), etika, pendidikan, ibadah, hukum sosial, hingga tata krama individual dan sosial.

Seiring perkembangan ilmu di dunia Islam, mulai abad ke-2 H., kata fiqh digunakan dalam pengertian khusus, yaitu berkaitan dengan hukum atau deduksi hukum saja.[6]

Kata ini pun memiliki pengertian teknis ilmiah, yaitu:

العِلْمُ بِالْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ الْمُكْتَسَبَةِ مِنْ أَدِلَّتِهَا التَّفْصِيْلِيَّةِ

(Ilmu tentang hukum syariat praktis yang diperoleh dari dalil yang terperinci).[7]

“Hukum” secara etimologis berarti penetapan sesuatu atas sesuatu. Dalam definisi ini, yang dimaksud dengan “hukum” adalah “ketetapan yang berasal dari Allah untuk mengatur hidup manusia”.[8] Adanya kata “syariat” selain menegaskan hal tersebut, juga untuk menunjukkan bahwa kajian tentang “hukum-hukum akal” tidak termasuk dalam bahasan fiqh.[9]

Fiqh membahas hukum “praktis”. Maksudnya, membahas hukum yang berkaitan dengan “perbuatan” manusia atau pedoman dari Pembuat Syariat Islam atas manusia untuk mengatur kehidupan sosial, relasi antar manusia, serta hak dan kewajiban di antara mereka, juga perintah dan pedoman tentang kewajiban manusia kepada Tuhan dan cara beribadah kepada-Nya. Jadi, hukum syariat yang berkaitan dengan “akidah” dan “tata krama” tidak termasuk dalam pembahasan fiqh.[10]

Jadi, secara garis besar, fiqh Islam mencakup dua bidang. Pertama, relasi muslim dengan Tuhan (hukum ibadah). Kedua, relasi muslim dengan masyarakat Islam secara khusus maupun masyarakat manusia secara umum (nizam qanuni, legal system).

Secara lebih mendetail, hukum fiqh dapat dibagi menjadi 6 bagian:

  1. Hukum tentang ibadah kepada Allah, seperti salat dan puasa. Ini disebut ibadah.
  2. Hukum tentang keluarga, seperti nikah, cerai, keturunan, nafkah, wasiat, dan warisan. Ini disebut ahwal shakhsiyyah.
  3. Hukum tentang aktivitas antar manusia, keuangan, transaksi, dan urusan di pengadilan. Ini disebut mu‘amalah. Bagian ketiga dan kedua dalam istilah hukum modern disebut qanun madani.
  4. Kaidah yang berkaitan dengan kekuasaan pemerintah atas rakyat serta hak dan kewajiban mereka. Ini disebut ahkam shar‘iyyah atau siyasah shar‘iyyah. Dalam istilah hukum bagian ini disebut qanun idari dan qanun dusturi.
  5. Hukum dan kaidah yang berkaitan dengan hukuman bagi penjahat dan penetapan ketertiban di masyarakat. Ini disebut ‘uqubat.
  6. Kaidah yang mengatur relasi negara Islam dengan negara lain termasuk aturan damai dan perang atau huquq dawliyyah.[11]

Hukum Islam bersumber dari “dalil”. Dalil berarti “penunjuk” atau “sesuatu yang darinya hukum disimpulkan.”[12] Dalil itu dapat menjadi penunjuk bagi hukum syariat praktis dengan cara direnungi dengan benar. Kata “terperinci” dalam definisi tersebut artinya “parsial” atau “furu‘”.

“Dalil yang terperinci” adalah dalil yang berkaitan dengan masalah tertentu, seperti firman Allah (al-Isra’: 32): وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا (Dan janganlah kalian mendekati zina), yang secara khusus berkaitan dengan keharaman zina. Ayat ini adalah dalil terperinci yang berkaitan dengan masalah tertentu, yaitu zina. Ayat tersebut berbeda dengan firman Allah (al-Isra’: 34): وَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيْمِ (dan janganlah kalian mendekati harta anak yatim), karena ayat ini adalah dalil terperinci bagi masalah terperinci yang lain, yaitu haramnya memakan harta anak yatim.[13]

 

Definisi Usul Fiqh

Usul Fiqh adalah ilmu yang membahas kaidah mendeduksi hukum syariat Islam dari dalil-dalilnya.[14] Ilmu Usul Fiqh adalah sekumpulan kaidah umum yang digunakan dalam mendeduksi hukum-hukum furu syariat dari dalil-dalil terperincinya.[15] Usul Fiqh adalah kaidah-kaidah dan dalil-dalil umum yang mengantarkan kepada fiqh.[16]

Kaidah-kaidah tersebut misalnya:

  1. Perintah berimplikasi kewajiban (al-amr yaqtadi al-wujub).
  2. Larangan berimplikasi keharaman (al-nahy yaqtadi al-tahrim).
  3. Sunnah berupa perbuatan Nabi saw adalah argumen atas manusia (al-sunnah al-fi‘liyyah hujjah ‘ala al-‘ibad).
  4. Kesepakatan berdasarkan pendapat ulama yang tidak diucapkan tidak dapat dijadikan argumen (al-ijma‘ al-sukuti la yuhtajj bihi).
  5. Perintah untuk mengerjakan sesuatu pada waktunya bukanlah perintah untuk mengerjakan sesuatu itu di luar waktunya (al-amr bi al-ada’ laysa amran bi al-qada’).[17]

 

Tujuan ilmu Usul Fiqh

  1. Menjelaskan karakter umum hukum syariat.
  2. Menjelaskan cara mendeduksi hukum dari dalilnya.
  3. Menjelaskan orang yang dapat mendeduksi hukum dan kompetensi yang harus dimiliki.
  4. Menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh mujtahid jika menghadapi dalil-dalil yang bertentangan.[18]

 

Perbedaan antara Kaidah Usul dengan Kaidah Fiqh

Kaidah usul adalah pedoman atau alat untuk menyimpulkan hukum fiqh.

Kaidah fiqh adalah pernyataan umum yang memuat banyak hukum fiqh parsial.

Kaidah fiqh sama dengan nas yang memuat banyak makna. Misalnya, kaidah fiqh yang berbunyi, الأُمُورٌ بِمَقَاصِدِهَا, sama dengan sabda Rasulullah saw, إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّات.

Contoh lain, kaidah fiqh yang berbunyi, الْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْر, sama dengan firman Allah SWT (al-Baqarah: 286), لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا.

Jadi, kaidah fiqh adalah pernyataan umum yang memuat bagian-bagian yang khusus, atau sesuatu yang disimpulkan dari ayat atau hadith yang umum seperti dalam dua contoh tersebut.

Pada contoh pertama, kita melihat bahwa pernyataan “Semua perbuatan itu dinilai berdasarkan tujuannya,” mencakup banyak masalah furu, baik dalam bidang ibadah, muamalah, serta kejahatan dan hukuman. Salat, zakat, jualbeli, menikah, bercerai, dan perbuatan lain, semuanya dinilai berdasarkan niat dan kehendak. Dengan kata lain, semuanya tercakup di dalam pernyataan tersebut.

Karena pernyataan tersebut mencakup banyak hal, maka dia disebut “kaidah”; dan karena yang tercakup di dalamnya adalah masalah hukum praktis, maka disebut dia “fiqh”. Kaidah fiqh berbeda dengan kaidah usul yang tidak memuat furu praktis, melainkan memuat alat untuk mengetahui furu praktis dari dalil syariat. Dengan belajar Ilmu Usul Fiqh, kita akan tahu apa yang dimaksud dengan alat tersebut.[19]

Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas tentang Ilmu Usul Fiqh, kita perlu membahas urgensi atau nilai penting dari Ilmu Fiqh.

 

Urgensi Ilmu Fiqh

Ilmu Fiqh adalah ilmu yang sangat penting karena ia adalah “poros” semua ilmu lain. Semua ilmu mengarahkan temuannya ke muara yang bernama Ilmu Fiqh. Ilmu ini juga sangat penting karena dengan ilmu inilah manusia mengetahui hal-hal yang haram dan halal, hal-hal yang disukai dan dibenci Allah.

Ilmu Fiqh dapat diilustrasikan dengan mata air kehidupan yang menghilangkan dahaga jiwa manusia. Berkat ilmu ini kita mengetahui tata cara hidup yang membawa kepada kesejahteraan, mengetahui apa yang harus kita tinggalkan untuk menghindari bahaya, bencana, dan kesedihan. Berkat ilmu ini juga kita mengetahui cara menggunakan nikmat Allah di dunia dan meraih nikmat yang lebih sempurna di akhirat.[20]

Ilmu Fiqh adalah salah satu ilmu Islam yang paling luas, paling bercabang, dan paling tua sejarahnya. Islam telah melahirkan fuqaha yang tak terhitung jumlahnya. Banyak di antara mereka termasuk jenius dunia. Buku fiqh tak terhitung banyaknya dan banyak sekali yang sangat penting nilainya. Seorang faqih dapat membahas masalah apa saja yang mencakup semua aspek kehidupan manusia. Apa pun yang dibahas pada zaman sekarang dalam tema hukum, sudah dibahas, bahkan lebih mendalam, di dalam bab-bab fiqh.[21]

Hukum yang dibangun di atas fiqh memiliki karakter relijius karena hukum fiqh adalah hukum Tuhan. Fiqh Islam berbeda dengan hukum konvensional atau hukum buatan manusia yang sumbernya tidak memiliki karakter relijius. Di dalam hukum konvensional, tidak ada istilah halal dan haram. Hukum konvensional tidak berkaitan dengan akidah, tidak menyentuh batin dan hati nurani, dan hanya memperhatikan aspek material atau apa yang bisa dan tidak bisa dibuktikan di depan hakim.

Dalam fiqh Islam, jika orang yang berhutang sudah membayar, tapi tidak ada catatan dan saksi, lalu orang yang berpiutang mengingkari dan menuntut pembayaran lagi, maka hakim akan memutuskan orang yang berhutang harus membayar lagi. Tapi, dalam pandangan fiqh Islam, putusan ini tidak membuat harta yang diambil oleh orang yang berpiutang itu menjadi halal. Dia akan tetap dihukum pada Hari Akhirat oleh Allah. Jadi, di dalam fiqh Islam, ada pengawas batin bagi seorang muslim berupa akidah, dan iman yang mencegahnya memanipulasi hukum. Pengawasan moral ini tidak terdapat di dalam hukum konvensional.[22]

Fiqh adalah wujud nyata pengaruh Islam pada perbuatan manusia atau masyarakat. Maju mundurnya Islam dapat diukur dengan pasang surutnya aplikasi fiqh dalam kehidupan pribadi atau masyarakat. Mundurnya umat Islam pada saat ini sama dengan surutnya fiqh dari panggung kehidupan. Karena itu, kebangkitan umat Islam dan tantangan kebudayaan kontemporer menuntut para ulama untuk merumuskan formula tentang orisinalitas dan keterbukaan Islam.

Pada 7 abad yang lalu para leluhur kita hidup dalam kondisi budaya yang sama “edannya” dengan zaman kita. Pada saat itu, mereka hidup dalam tekanan serangan Pasukan Salib dan Pasukan Mongol. Leluhur kita melakukan kesalahan dalam menentukan pilihan budaya. Mereka memilih untuk menutup diri, melawan segala bentuk inovasi, dan membekukan gerak budaya dalam rangka menjaga identitas.

Sekarang, kita pun sedang didorong oleh Barat untuk memilih antara melupakan orisinalitas peradaban kita atau menutup diri dari peradaban Barat untuk menjaga keunikan atau kekhasan kepribadian kita. Pilihan pertama berarti menyerah pada budaya Barat. Pilihan kedua adalah seperti yang telah dilakukan oleh sejumlah orang yang berlebih-lebihan dalam menghormati hingga level mengkultuskan salaf.

Kedua alternatif itu harus kita tolak dan kita harus mengambil jalan tengah. Yaitu, kita harus semakin teguh memegang nilai-nilai orisinal sambil mengembangkan hal-hal yang berkaitan dengan perubahan budaya. Pilihan ini sulit karena akan menyinggung tema-tema yang dianggap sebagian orang sebagai kesakralan. Pilihan ini juga rumit karena menuntut pemahaman yang menggabungkan antara falsafah budaya modern dengan risalah ilahiyah serta khazanah umat Islam.[23]

Manusia hidup di alam semesta dan berhubungan dengan segala yang ada di dalamnya. Ada berbagai bentuk hubungan antara dirinya dengan isi alam semesta. Ada hubungan keluarga, masyarakat, atau negara. Berbagai jenis hubungan itu menuntut adanya pengaturan, pedoman, petunjuk, atau pengarahan terhadap perbuatan manusia agar setiap hubungan tersebut menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan baik bagi individu, keluarga, masyarakat, atau negara. Pedoman, petunjuk, dan pengarahan bagi perbuatan manusia itulah yang disebut dengan hukum.[24]

Kita dapat melihat banyak contoh keharmonisan alam semesta pada satu makhluk tertentu atau antar sesama makhluk, juga contoh keharmonisan antara manusia dengan lingkungan di sekitarnya. Keharmonisan ini terjadi pada saat manusia mengikuti aturan. Tapi, di samping itu, kita dapat melihat juga contoh-contoh kekacauan di alam semesta yang disebabkan pelanggaran manusia terhadap aturan yang telah ditetapkan. Tidak salah jika dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang secara alamiah mesti mengikuti aturan demi menjaga keharmonisan.

Islam telah menetapkan hukum bagi semua aspek kehidupan manusia. Di samping hukum ibadah, Islam punya Hukum Pidana (jinayah) yang meliputi aturan tentang sanksi dan hukuman, macam-macam kejahatan seperti membunuh, berzina, menuduh orang lain berzina, mencuri, merampok, dll. Islam juga punya Hukum Privat (al-ahwal al-shakhsiyyah) yang meliputi aturan tentang anak-anak mulai dari mengandung, kelahiran, nasab, pengasuhan, nafkah, pendidikan, anak yatim, perkawinan, pertunangan, poligami, perceraian, warisan, dll. Lalu, Islam memiliki Hukum Ekonomi (mu‘amalah) yang meliputi aturan tentang jual beli, riba, sewa, hutang, wasiat, sita, dll.[25]

Untuk dapat mengetahui dan menerapkan hukum-hukum tersebut, tentu saja terlebih dulu kita harus mempelajarinya. Apakah mempelajarinya mudah atau tidak?[26]

Berdasarkan definisi-definisi yang sudah dikemukakan, Ilmu Fiqh adalah ilmu tentang hukum furu syariat yang berkaitan dengan perbuatan manusia baik dalam ibadah, muamalah, hubungan keluarga, kejahatan, hubungan sesama muslim, hubungan muslim dengan non muslim, damai dan perang, dll; apakah perbuatan itu wajib, haram, mandub, makruh, atau mubah; apakah perbuatan sah, rusak, dll, berdasarkan dalil tafsili yang ada di dalam al-Quran, Sunnah, dan dalil lainnya yang dijadikan rujukan.[27]

Al-Quran menetapkan bahwa “fatwa” dan “ijtihad” dari seorang faqih adalah kelanjutan dari penyampaian risalah Nabi saw dan kebalikan dari dusta atas Allah sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya:

قُلْ آللهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللهِ تَفْتَرُوْنَ.[28]

Sejak awal sejarah Islam, di tengah umat Islam, memang sudah muncul kata lain yang pengertiannya mirip dengan kata fiqh, yaitu kata ijtihad. Kata ini akan kita bahas di dalam pelajaran lain. Sekarang, cukup dikatakan bahwa ketiga kata ini adalah sinonim.[29] Seorang faqih adalah seorang mujtahid dan seorang yang mampu memberikan fatwa setelah memenuhi syaratnya. Sedangkan selain faqih disebut muqallid (orang yang bertaklid).[30]

Untuk bisa mencapai derajat faqih, mujtahid, atau mufti, seseorang harus menguasai banyak ilmu, di antaranya:

  1. Sastra Arab, yaitu Nahwu, Saraf, Lughah, dan Balaghah. Sebab, bahasa al-Quran dan hadith adalah Bahasa Arab. Faqih tidak mungkin memahami al-Quran dan hadith tanpa memahami Bahasa Arab.
  2. Tafsir. Faqih harus merujuk kepada al-Quran, maka dia harus menguasai Ilmu Tafsir walaupun secara global.
  3. Logika. Karena semua ilmu yang berkaitan dengan pembuktian dan argumentasi butuh Ilmu Logika, maka faqih harus menguasai Ilmu Logika.
  4. Ilmu Hadith (Ilmu Dirayah Hadith, af). Faqih wajib mengetahui jenis-jenis hadith dan mengkajinya secara intensif.
  5. Ilmu Rijal, yaitu pengetahuan tentang kondisi para perawi hadith. Hadith-hadith yang termaktub di dalam kitab-kitab hadith tidak bisa diterima begitu saja, tapi harus diperiksa kondisi para perawinya. Ilmu Rijal adalah ilmu yang mengajarkan cara memeriksanya.
  6. Ilmu Usul Fiqh. Ini adalah ilmu terpenting bagi faqih, ilmu yang sangat menarik dan indah buah karya umat Islam.[31]

Menjadi ahli fiqh itu sulit. Tapi, setelah penjelasan tersebut, maka penting bagi kita untuk menetapkan bahwa kita suka mempelajarinya. Kita harus bersyukur kepada Allah bahwa Dia sudah memasukkan kita ke dalam golongan orang yang berkesempatan bahkan diharuskan mempelajari hukum-Nya. Sebab, sekadar masuk ke dalam golongan pelajar pun sudah merupakan nikmat yang sangat besar. Ada hadith yang menerangkan bahwa di hadapan ilmu manusia terbagi menjadi lima golongan, yaitu pengajar, ilmuwan, pelajar, pencinta ilmu, dan kelompok kelima yang akan hancur karena tidak termasuk salah satu dari keempat kelompok tersebut. Jadi, meskipun susah, meskipun ada banyak hambatan untuk mempelajari hukum-hukum ini, kita harus menghadapinya.


[1] ‘Abdullah bin Yusuf al-Juday‘, Taysir ‘Ilm Usul al-Fiqh, Beirut: Mu’assasah al-Rayyan, cet. I, 1418 H./1997 M., h. 11.

[2] ‘Abdullah bin Yusuf al-Juday‘, Taysir ‘Ilm Usul al-Fiqh, h. 11.

[3] Kata فقه disebut di dalam al-Quran sebanyak tujuh kali, yaitu di dalam QS. al-An‘am: 25, al-Isra’: 46, al-Kahf: 57, al-Tawbah: 122, al-Kahf: 93, Taha: 28, dan al-Munafiqun: 7. Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Mu‘jam Mufahras li Alfaz al-Qur’an, entri فقه.

[4] Mustafa Ahmad al-Zarqa, al-Fiqh al-Islami wa Madarisuh, Damaskus: Dar al-Qalam dan Beirut: Dar al-Shamiyyah, cet. I, 1416 H./1995 M., h. 9; Murtada Muttahhari, Madkhal ila al-‘Ulum al-Islamiyyah: Fiqh, terj. Hasan ‘Ali al-Hashimi, Beirut: Dar al-Wala’, cet. II, 1432 H./2011 M., h. 11-12.

[5] Mustafa Ahmad al-Zarqa, al-Fiqh al-Islami wa Madarisuh, h. 9-10.

[6] Murtada Mutahhari, Madkhal ila al-‘Ulum al-Islamiyyah: al-Usul, terj. Hasan ‘Ali al-Hashimi, Beirut: Dar al-Wala’, cet. I, 2009 M./1430 H., h. 11-13

[7] ‘Abdullah bin Yusuf al-Juday‘, Taysir ‘Ilm Usul al-Fiqh, h. 11.

[8] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 9.

[9] Di dalam buku al-Tashri‘ al-Islami Manahijuh wa Maqasiduh karya Muhammad Taqi al-Mudarrisi yang disebut-sebut sebagai Neo-Usul Fiqh, bab pertamanya justru bertema “Akal Dan Shariat”. Bab ini memuat empat subbab: (1) Pengertian akal, (2) Akal mengenalkan kepada syariat, (3) Syariat menyempurnakan akal, (4) Putusan-putusan rasional (al-ahkam al-‘aqliyyah).

[10] Mustafa Ahmad al-Zarqa, al-Fiqh al-Islami wa Madarisuh, h. 10; ‘Abdullah bin Yusuf al-Juday‘, Taysir ‘Ilm Usul al-Fiqh, h. 12.

[11] Mustafa Ahmad al-Zarqa, al-Fiqh al-Islami wa Madarisuh, h. 10-12. Al-Zarqa memasukkan hukum yang berkaitan dengan akhlak dan tata krama, disebut adab, ke dalam bagian fiqh.

[12] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 17.

[13] ‘Abdullah bin Yusuf al-Juday‘, Taysir ‘Ilm Usul al-Fiqh, h. 12-13.

[14] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 7.

[15] Muhammad Sulayman ‘Abd Allah al-Ashqar, al-Wadih fi Usul al-Fiqh li al-Mubtadi’in ma‘a As’ilah li al-Munaqashah wa Tamrinat, Kairo: Dar al-Salam, cet. II, 1425 H./2004 M., h. 7.

[16] ‘Abdullah bin Yusuf al-Juday‘, Taysir ‘Ilm Usul al-Fiqh, h. 13.

[17] Muhammad Sulayman al-Ashqar, al-Wadih, h. 7-8.

[18] Muhammad Sulayman al-Ashqar, al-Wadih, h. 9.

[19] ‘Abdullah bin Yusuf al-Juday‘, Taysir ‘Ilm Usul al-Fiqh, h.13-14.

[20] Muhammad ‘Ali al-Shahristani, Madkhal ila ‘Ilm al-Fiqh, Beirut: Dar al-Nasr, cet. I, 1416 H./1996 M., h. 5-6.

[21] Murtada Muttahhari, Fiqh, h. 11.

[22] Mustafa Ahmad al-Zarqa, al-Fiqh al-Islami wa Madarisuh, h. 13-15.

[23] Muhammad Taqi al-Mudarrisi, al-Tashri‘ al-Islami Manahijuh wa Maqasiduh, jilid 2, Teheran: Intisharat al-Mudarrisi, cet. I, 1411 H, h. 5-6.

[24] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 9-10.

[25] Lihat software Al Quran & Terjemahnya Versi 1.1, Rajab 1424 H./September 2003.

[26] Tentang kesulitan mempelajari Usul Fiqh, baca al-Qiyam al-Daruriyyah wa Maqasid al-Tashri‘ al-Islami, Fahmi Muhammad ‘Ulwan, Kairo: al-Hay’ah al-Misriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1989, h. 14-17.

[27] Muhammad Sulayman ‘Abd Allah al-Ashqar, al-Wadih fi Usul al-Fiqh li al-Mubtadi’in ma‘a As’ilah li al-Munaqashah wa Tamrinat, Kairo: Dar al-Salam, cet. II, 1425 H./2004 M., h. 8-9.

[28] ‘Ali Khazim, Madkhal ila ‘Ilm al-Fiqh ‘inda al-Muslimin al-Shi‘ah, Beirut: Dar al-Ghurbah, cet. I, 1413 H./1993 M., h. 15.

[29] Murtada Mutahhari, al-Usul, h. 15.

[30] Muhammad Sulayman ‘Abd Allah al-Ashqar, al-Wadih, h. 9.

[31] Murtada Mutahhari, al-Usul, h. 13-14.

 

SUBJEK, FAIDAH, DAN KEUTAMAAN ILMU USUL FIQH

Ahmad Fadhil

 

وأَبْوَابُ أُصولِ الْفِقْهِ: أَقْسَامُ الْكَلامِ،

Bab-bab Usul Fiqh meliputi: bagian-bagian kalimat,

وَالأَمْرُ وَالنَّهْيُ،

Perintah dan larangan,

وَالعَامُّ وَالخَاصُّ،

Umum dan khusus,

وَالمُجْمَلُ وَالْمُبَينُ،

Global dan detail,

وَالنَّصُّ وَالظَّاهرُ،

Nas dan zahir,

وَالأَفْعَالُ،

Perbuatan-perbuatan,

وَالنَّاسِخُ وَالْمَنْسوخُ،

Penghapus dan yang dihapus,

وَالإجْمَاعُ،

Ijma,

وَالأَخْبَارُ،

Berita,

وَالْقِياسُ،

Qiyas,

وَالْحَظْرُ وَالإبَاحَةُ،

Pelarangan dan pembolehan,

وَتَرْتِيبُ الأدَلَّةِ،

Urutan dalil-dalil,

وَصِفَةُ الْمُفْتِي وَالْمُسْتَفْتِي،

Karakter mufti dan peminta fatwa,

وَأَحْكَامُ الْمُجْتَهِدينَ .

Aturan-aturan bagi para mujtahid.

الاجتهاد والتقليد

Ijtihad dan taklid

وَلَيْسَ لِلْعَالِمِ أَنْ يُقَلِّدَ،

Ulama tidak boleh bertaklid.

والتَّقْلِيدُ : قَبُولَ قَوْلِ القَائِلِ بِلا حُجَّةٍ،

Taklid adalah menerima perkataan seseorang tanpa meminta argumennya.

فَعَلَى هَذَا قَبُولُ قَوْلِ النَّبِيِّ لاَ يُسَمَّى تَقْلِيداً،

Jadi, menerima perkataan Nabi saw tidak disebut taklid.

وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: التَقْلِيدُ قَبُولُ قَوْلِ الْقَائِلِ وَأَنْتَ لا تَدْرِي مِنْ أَيْنَ قَالَهُ،

Ada yang berpendapat, taklid adalah menerima perkataan seseorang tanpa mengetahui alasannya.

فَإِنْ قُلْنَا إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَليهِ وَسلَّم كَانَ يَقُولُ بِالْقَياسِ، فَيَجُوزُ أَنْ يُسَمَّى قَبُولُ قَوْلِهِ تَقْلِيداً .

Jika kita katakan bahwa Nabi saw berpendapat dengan menggunakan qiyas, maka menerima perkataannya dapat disebut taklid.

وَأَمَّا الاجْتِهَادُ فَهُوَ: بَذْلُ الْوُسْعِ فِي بُلُوغِ الْغَرَضِ،

Ijtihad adalah mengerahkan usaha dalam mencapai tujuan.

فَالْمُجْتَهِدُ إنْ كَانَ كَامِلَ الآلَةِ فِي الاجْتِهَادِ فَإنْ اجْتَهَدَ فِي الْفُرُوعِ فأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِن اجتَهَدَ فِيهَا وأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ،

Jika mujtahid memiliki alat yang lengkap untuk berijtihad, lalu jika dia berijtihad dalam masalah furu dan ijtihadnya benar, maka dia mendapat dua pahala, dan jika dia berijtihad dalam masalah itu dan ijtihadnya salah, maka dia mendapat satu pahala.

وَمِنهُم مَنْ قَالَ: كُلُّ مُجْتَهِدٍ فِي الْفُرُوعِ مُصِيبٌ،

Ada yang berpendapat bahwa semua mujtahid dalam masalah furu‘ benar dalam ijtihadnya.

وَلا يَجُوزُ أَنْ يُقَالَ: كُل مُجْتَهِدٍ فِي الأُصُولِ الْكَلامِيَّةِ مُصِيباً، لأَنَّ ذَلِكَ يُؤَدِّي إِلَى تَصْوِيبِ أَهْلِ الضَّلالَةِ مِنَ النَّصَارَى وَالْمَجُوسِ وَالْكُفارِ، وَالْمُلْحِدِينَ،

Tapi, tidak boleh dikatakan bahwa semua mujtahid dalam masalah dasar-dasar akidah benar dalam ijtihadnya, karena hal ini berakibat membenarkan semua aliran yang sesat seperti Nasrani, Majusi, Kafir, dan Ateis.

وَدَلِيلُ مَنْ قَالَ: «لَيْسَ كُل مُجْتَهِدٍ فِي الفُرُوعِ مُصِيباً»، قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَليهِ وَسلَّم: «مَنِ اجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَمَنِ اجتَهَدَ وَأَخْطَأَ فَلَهُ أجْرٌ وَاحِدٌ»،

Dalil orang yang mengatakan, “Tidak semua mujtahid dalam masalah furu‘ benar ijtihadnya,” adalah sabda Nabi saw, “Orang yang berijtihad, lalu benar, maka baginya dua pahala, dan orang yang berijtihad, lalu salah, maka baginya satu pahala.”

وَجْهُ الدَّلِيلِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَليهِ وَسلَّم خَطَّأَ الْمُجْتَهِدَ تَارَةً وَصَوَّبَهُ أُخْرَى .

Segi argumentasi dari dalil itu adalah Nabi saw terkadang membenarkan mujtahid, dan terkadang menyalahkannya.

 

Subjek Ilmu Usul Fiqh

Umat Islam pasti memiliki semangat untuk membela agama. Jika semangat ini tidak dikendalikan dengan ilmu agama, boleh jadi justru menjerumuskan kepada hal-hal yang tidak diinginkan seperti pertumpahan darah, pelanggaran atas kehormatan dan harta orang lain. Karena itu, ilmu agama harus disebarkan dengan segala cara agar semangat itu membawa manfaat bagi umat manusia karena syariat Islam diturunkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh makhluk.

Dalam konteks ini, pondasi ajaran Islam, yaitu al-Quran dan Sunnah, harus menjadi perhatian utama dan subjek pelajaran semua muslim. Tujuan asasi dari mempelajari al-Quran dan Sunnah adalah mengantarkan seluruh umat Islam memedomaninya dalam kehidupan sehari-hari. Tapi, hukum tertentu bagi perbuatan tertentu tidak selalu dapat langsung diketahui oleh orang yang mampu membaca al-Quran dan Sunnah.

Al-Juwayni mendefinisikan fiqh sebagai “Pengetahuan tentang hukum-hukum syariat yang diperoleh dengan cara ijtihad.” Berdasarkan definisi ini, pengetahuan tentang hukum yang disimpulkan dari al-Kitab dan Sunnah memiliki dua jalan. Pertama, diperoleh tanpa ijtihad, yaitu pengetahuan yang berkaitan dengan hukum yang diterangkan dengan jelas di dalam al-Kitab al-Sunnah. Kedua, diperoleh dengan ijtihad, yaitu pengetahuan tentang hukum yang tidak diterangkan dengan jelas di dalam al-Quran dan Sunnah. Pengetahuan jenis kedua saja yang dapat disebut fiqh, yang pertama tidak.[1]

Untuk pengetahuan jenis kedua inilah diperlukan Ilmu Usul Fiqh, yaitu ilmu yang memberikan kita pedoman atau cara mendeduksi hukum dari sumbernya atau ilmu yang membahas hukum syariat dari segi cara mendeduksinya dari dalil-dalilnya secara umum.[2] Usul Fiqh berbeda dengan Ilmu Usul Fiqh. Usul Fiqh adalah dalil-dalil yang menjadi sumber hukum. Ilmu Usul Fiqih adalah pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang mengatur pengambilan hukum dari dalil-dalilnya.[3]

Muhammad Baqir al-Fadili al-Bahsudi mengutip pendapat beberapa ahli Ilmu Usul Fiqh tentang subjek ilmu ini. Menurut pengarang al-Qawanin, subjek Ilmu Usul Fiqh adalah, “Empat dalil dalam statusnya sebagai dalil.” Menurut pengarang al-Fusul, “Empat dalil dari segi dia adalah dia.” Menurut pengarang al-Kifayah, “Universal yang diaplikasikan pada subjek-subjek yang beragam.” Menurut Baqir al-Sadr, “Dalil-dalil yang berpartisipasi dalam proses deduksi.”[4]

Dari penjelasan ini, terlihat persamaan dan perbedaan antara Ilmu Fiqh dengan Ilmu Usul Fiqh. Subjek Ilmu Fiqh hukum praktis dan dalilnya yang terperinci, sedangkan subjek Ilmu Usul Fiqh adalah metode deduksi atau penarikan kesimpulan. Kedua ilmu ini sama-sama mencermati dalil. Tapi, jika Ilmu Fiqh mencermati dalil untuk menelurkan hukum praktis parsial, maka Ilmu Usul Fiqh mencermatinya untuk mengetahui cara menelurkan hukum darinya, hirarki nilai argumentatifnya, dan kondisinya. Ilmu Usul Fiqh-lah yang menjelaskan nilai argumentatif al-Quran, posisinya di atas Sunnah, dalil qat‘i dan dalil zanni, metode yang dipakai saat terjadi kontradiksi zahir nas, dst.[5]

 

Keutamaan Ilmu Usul Fiqh

Semua ilmu agama perlu diperhatikan dan diagungkan, dan Ilmu Usul Fiqh berada di puncak ilmu-ilmu agama tersebut, karena ilmu ini membimbing peneliti hukum-hukum syariat dan membantunya untuk mencapai kebenaran.[6]

Abu al-Qasim al-Garnati di dalam Taqrib al-Wusul ila ‘Ilm al-Usul mengatakan bahwa ilmu ada tiga macam, yaitu ilmu rasional, ilmu tradisional, dan ilmu gabungan antara rasional dan tradisional. Ilmu yang paling utama adalah ilmu yang terakhir, dan Ilmu Usul Fiqh adalah salah satunya. Ilmu Usul Fiqh adalah alat utama untuk memahami al-Kitab dan Sunnah; ilmu yang mengangkat seseorang dari derajat muqallid ke derajat mujtahid; dan ilmu yang membantu orang untuk mengetahui aspek-aspek tarjih sehingga dia mengetahui pendapat yang rajih dan pendapat yang marjuh, serta membedakan antara pendapat yang sahih dengan yang tidak sahih.[7]

Al-Shawkani di dalam Irshad al-Fuhul mengatakan bahwa Ilmu Usul Fiqh adalah ilmu yang menjadi acuan dan rujukan para ulama dalam menetapkan duduk masalah dan dalil-dalilnya dalam kebanyakan hukum. Masalah-masalah dan kaidah-kaidah Ilmu Usul Fiqh sudah dijadikan aksioma oleh mayoritas peneliti dan penulis. Jika salah seorang di antara mereka berpendapat lalu berargumentasi dengan pernyataan ahli Ilmu Usul Fiqh, maka orang-orang yang berbeda pendapat pakar sekalipun akan tunduk kepadanya, karena mereka yakin bahwa kaidah-kaidah Ilmu Usul Fiqh dibangun di atas pondasi yang sangat kuat.[8]

Ilmu Usul Fiqh adalah ilmu yang paling agung karena ilmu inilah yang paling berpengaruh dalam membentuk rasionalitas fiqh, mengajarkan metode-metode yang telah dipakai para imam mujtahid dalam mendeduksi fiqh mereka, dan menerangi jalan seorang yang hendak berijtihad karena ilmu ini menjelaskan ciri-ciri syariat Islam bagi orang yang hendak mendeduksi hukum-hukum syariat bagi masalah-masalah baru yang dihadapi umat manusia. Selain itu, ilmu ini membantu pelajar Ilmu Hukum untuk mengerti hukum positif.[9]

Mutahhari mengatakan, “Ilmu Usul Fiqh adalah ilmu yang menyenangkan dan indah karena ilmu ini memuat ketelitian rasional yang memesona pikiran para pelajar. Ilmu ini sebanding dengan logika dan filsafat dalam aspek olah pikiran dan melatih pelajar untuk teliti dalam berpikir. Selain itu, para pelajar ilmu-ilmu klasik berpandangan bahwa ilmu Usul Fiqh sangat berpengaruh dalam menajamkan pikiran mereka”.[10]

 

Faidah Mempelajari Ilmu Usul Fiqh

Setiap ilmu yang dipelajari seseorang dengan kelelahan dan kesusahpayahan pasti memiliki buah dan faidah yang dapat dipetik. Jika faidah belajar Ilmu Fiqh adalah mampu membetulkan perbuatan dan perkataan sehingga sesuai dengan hukum Allah, maka apakah faidah dari belajar Ilmu Usul Fiqh?

Abu ‘Asim al-Barakati al-Misri, dengan merujuk buku al-‘Ulum al-Islamiyyah karya Ahmad al-Hajji al-Kurdi dan Ma ‘alim Usul al-Fiqh ‘Inda Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah karya Muhammad bin Husayn bin Hasan al-Jizani, menyebutkan 20 faidah mempelajari Ilmu Usul Fiqh, yaitu:

  1. Menjaga syariat Islam. Ilmu Usul Fiqh menjaga dalil-dalil syariat agar tidak dilanggar manusia dan menjaga argumentasi dan sandaran hukum. Ilmu Usul Fiqh juga menjelaskan sumber-sumber primer dan sekunder dalam penetapan hukum sehingga syariat terjaga pilar-pilarnya.
  2. Menetapkan dasar-dasar penarikan kesimpulan dengan cara menjelaskan dalil-dalil yang benar dan yang palsu. Misalnya, dengan menjelaskan hadis-hadis yang tidak terbukti berasal dari Nabi saw, seperti Hadis Daif atau yang lebih lemah lagi, atau pendapat yang tidak berdalil, tidak memiliki nilai argumentatif.
  3. Memudahkan ijtihad dan menetapkan hukum yang tepat bagi setiap peristiwa baru.
  4. Mencegah penafsiran nas-nas al-Kitab dan Sunnah dengan hawa nafsu. Ilmu Usul Fiqh menetapkan dan mengatur penafsiran dengan kaidah universal, integral, disepakati, dan mencegah pelanggar batas.
  5. Melindungi umat dari perpecahan dan perselisihan yang berasal dari pemahaman yang salah atas al-Quran dan Sunnah.
  6. Menjelaskan cara-cara menyatukan dalil-dalil yang selintas nampak bertentangan dan membantah kontroversi yang dilontarkan atas kondisi tersebut.
  7. Membawa hukum-hukum al-Kitab dan Sunnah ke tataran aplikatif dan eksekutif dengan menelurkan hukum-hukum dari nas-nas yang mengandungnya.
  8. Melatih kemampuan fiqh seorang pelajar hingga dia memiliki pemahaman yang benar dan lengkap tentang hukum fiqh dan metode-metode deduksinya.
  9. Mengetahui penyebab perbedaan pendapat ulama sehingga dapat memakluminya.
  10. Mengeliminasi banyak perbedaan pendapat fiqh dan menunjukkan pendapat yang diterima dan ditolak, serta yang bernilai dan tidak bernilai.
  11. Menyerukan kepatuhan pada dalil dan meninggalkan fanatisme dan taklid buta.
  12. Menghilangkan fanatisme mazhab di kalangan fuqaha dengan menjadikan kaidah-kaidahnya sebagai kriteria dalam menilai mazhab-mazhab dan pendapat-pendapat fiqh.
  13. Menjelaskan cara berdalil yang benar karena dalil yang benar kadang-kadang digunakan sebagai dalil dengan cara yang salah.
  14. Mengenalkan dasar-dasar masing-masing mazhab fiqh.
  15. Menjelaskan aturan fatwa, syarat mufti, dan adabnya.
  16. Menetapkan aturan diskusi, yakni merujuk dalil-dalil yang sahih dan muktabar.
  17. Menjaga akidah Islam dengan melindungi dasar-dasar berargumentasi dan membantah syubhat para penyimpang.
  18. Menunjukkan kelapangan, kemudahan, dan keindahan syariat Islam.
  19. Melindungi fiqh Islam dari keterbukaan yang bodoh dan ketertutupan yang dungu.
  20. Mengaitkan Ilmu Usul dengan ilmu-ilmu lain, seperti Nahwu dan Balaghah.[11]

Tapi, sebagaimana telah dijelaskan, Ilmu Usul Fiqh adalah ilmu alat atau ilmu metode. Maksudnya, Ilmu Usul Fiqh adalah alat yang digunakan mujtahid dalam menyimpulkan hukum-hukum dari dalil-dalilnya. Dengan demikian, yang dapat mengambil manfaat dari ilmu ini adalah para mujtahid. Lalu, apa faidahnya bagi kita, pelajar ilmu secara umum yang tidak mencapai derajat mujtahid? Meskipun faidah primer ilmu ini seperti yang telah disebutkan, tapi faidah sekundernya dapat dirasakan oleh selain mujtahid, yaitu:

Pertama, dengan mengetahui kaidah-kaidah mendetail tentang cara menelurkan hukum dari dalil-dalilnya ini, kepercayaan pelajar atau umat Islam secara umum pada kedalaman dan keaslian hukum Islam dapat bertambah, sehingga mereka pun semakin membanggakan dan menerima sepenuhnya jawaban-jawaban fiqh yang diberikan oleh para mujtahid yang berkaitan dengan urusan mereka sehari-hari.[12]

Kedua, belajar Ilmu Usul Fiqh memberi banyak manfaat kepada para pelajarnya, seperti membuat mereka lebih memahami al-Quran dan Sunnah, mengetahui bahwa syariat Islam tidak saling kontradiksi, memahami pendapat para ulama, memahami pernyataan-pernyataan orang seperti di dalam wasiat, wakaf, pengadilan, dll, mengetahui hukum peristiwa atau kejadian baru dalam kehidupan sehari-hari, meraih derajat ijtihad, mengetahui bahwa ijtihad ulama tidak sembarangan dan perbedaan pendapat di antara mereka bukan tanpa dasar, mengetahui kemampuan diri mereka untuk berijtihad atau keharusan untuk bertaklid.[13]
Usul Fiqh di antara Ijtihad dan Taqlid

Ijtihad adalah “Mengerahkan usaha untuk memperoleh argumen bagi realitas atau atas tugas praktis yang zahir.” Dalam agama Islam, ijtihad adalah faktor utama yang membuat agama Islam mampu mengiringi tuntutan zaman dan mencakup segala aspek dalam kehidupan manusia. Ijtihad bertujuan membuat umat Islam mampu menerapkan teori Islam dalam kehidupan karena penerapan tidak mungkin terwujud selama gerakan ijtihad belum menentukan ciri-ciri teoritis dan rincian-rinciannya.[14]

Ijtihad adalah “instrumen” untuk menjelaskan kewajiban keagamaan yang berkaitan dengan individu dan aparat pemerintah (al-nizam al-hakim) untuk mewujudkan tujuan agama. Ijtihad bukan sekadar proses mengkaji kewajiban individu yang berkaitan dengan urusan ibadah dan kewajibannya terhadap Tuhan. Falsafah ijtihad adalah menetapkan arah perjalanan peristiwa sehari-hari atau semua masalah kehidupan manusia dari perspektif agama. Ijtihad pada hakikatnya adalah adalah juru bicara agama.[15]

Pengertian kata ijtihad,[16] di dalam hadis Nabi saw, dalam pengertian para fuqaha. Nabi saw tidak menyebut dirinya dan para sahabat sebagai mujtahid.[17] Berbeda dengan kata fatwa. Pada masa awal Islam, kata fatwa sudah dipakai dalam pengertiannya sekarang. Misalnya, di dalam Bihar al-Anwar 1/226:

اهرب من الفتيا هربك من الاسد ولا تجعل رقبتك للناس جسرا.

Banyak ulama meyakini bahwa Rasul saw mendorong para sahabat untuk berijtihad seperti termaktub dalam hadis Mu‘adh bin Jabal. Selain itu, mereka meyakini sebagian putusan Rasul merupakan buah ijtihad. Mereka hanya berbeda pendapat tentang apakah ijtihad rasul mungkin salah atau tidak.[18]

Ijtihad dalam pengertian Usul Fiqh adalah penggunaan ra’y pada kondisi-kondisi yang dipastikan taklif ilahi tentangnya tidak ditentukan atau ditentukan tapi samar sehingga orang merujuk pada akal dan rasanya dan menetapkan apa yang paling dengan dengan rasa, akal, kebenaran, dan keadilan, serta paling mirip dengan ajaran-ajaran Islam sebagai hukum Islam. Dengan demikian, seperti al-Quran dan Sunnah, ijtihad pun menjadi salah satu sumber penetapan hukum Islam. Ijtihad digunakan hanya jika hukum tentang sesuatu tidak terdapat di dalam al-Quran, Sunnah, atau Ijma. Jika ada, maka tidak boleh.[19]

Ada hadis yang menerangkan bahwa jika seseorang menafsirkan al-Quran dengan pikirannya, maka orang itu akan masuk neraka. Hadis ini tidak melarang orang untuk memahami al-Quran secara langsung dengan akal mereka, melainkan melarang penafsiran al-Quran dengan mengikuti selera dan hawa nafsu pribadi. Al-Quran secara tegas telah menyuruh manusia untuk mentadabburi makna ayat-ayatnya. Jadi, manusia berhak untuk langsung merenungi ayat-ayat al-Quran untuk memahami maknanya sekuat tenaga mereka. Selain itu, Rasul saw juga telah memprediksi munculnya hadis palsu, lalu untuk mengatasi hal itu, dia menyuruh manusia untuk menghadapkan hadis kepada al-Quran, dan jika bertentangan dengan al-Quran, maka hadis itu harus ditolah.[20]

Tema ijtihad akan dibahas lebih luas pada kesempatan lain.[21] Sekarang kita akan membahas pengertian taqlid sebagai lawan dari ijtihad.

Allah mencela orang yang bertaklid. Dia berfirman (al-Tawbah: 31), “Mereka menjadikan ahbar dan ruhban mereka sebagai Tuhan selain Allah”.

Berkaitan dengan ayat ini, salah seorang imam Ahlul Bayt mengatakan, “Demi Allah, para ahbar dan ruhban itu tidak menyeru orang-orang itu untuk menyembah mereka. Jika mereka menyeru orang-orang itu untuk menyembah mereka, maka orang-orang itu tidak akan mematuhi. Tapi, mereka menghalalkan bagi orang-orang itu sesuatu yang haram, dan menghalalkan bagi orang-orang itu sesuatu yang haram. Maka, tanpa sadar orang-orang itu menyembah mereka”.[22]

Dalam hadis yang lain, seorang Imam Ahlul Bayt mengatakan, “Demi Allah, mereka tidak puasa dan tidak salat untuk ahbar dan ruhban mereka, tapi para ahbar dan ruhban itu menghalalkan bagi mereka sesuatu yang haram dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang halal, lalu mereka mengikutinya.”

Cara menjadikan ahli agama sebagai Tuhan banyak sebab dan jenisnya. Yang dijelaskan dalam hadis ini termasuk jenis shirk ta‘ah. Ini merupakan syirik meskipun bukan syirik yang berkaitan dengan wujud, sifat, atau hak ibadah kepada Tuhan.[23]

 

Usul Fiqh: senjata para pewaris Nabi

Ulama adalah pewaris Nabi. Pesantren dan ulama militan sepanjang sejarah adalah benteng Islam yang kokoh dalam menghadapi serangan dan penyimpangan. Mereka menjajakan kalimat halal dan haram ilahi secara murni dan konsekwen. Mereka mengerjakan tugas mahasulit, yaitu mengkaji ilmu-ilmu al-Quran, tilas dan jejak Rasul yang mulia, lalu membukukan, mensistematisasi, menginvestigasi, dan memurnikannya. Semua ini bukan pekerjaan yang mudah, apalagi tanpa sokongan dana, bahkan di tengah upaya untuk memudarkan rambu-rambu risalah Islam.

Kita memiliki khazanah Islam yang sangat kaya. Tapi, khazanah ini mayoritas masih tersegel dengan bahasa asing. Bahasa Arab dan bahasa Persia, misalnya. Di dalam khazanah ini sudah terkandung metodologi yang paling tepat untuk mengkaji ilmu-ilmu Islam. Boleh jadi kita tidak akan perlu menadahkan tangan dan melirik metodologi penelitian dari Barat jika kita memiliki kemampuan untuk membaca khazanah berbahasa Arab dan Persia itu.

Ulama adalah tempat bersandarnya orang-orang yang tertindas. Ilmu mereka adalah telaga kautsar yang menghilangkan dahaga. Jihad ilmu dan budaya yang mereka lakukan benar-benar lebih mulia daripada darah para syuhada. Tapi, ulama bukan itu saja. Mereka juga orang yang telah menanggung semua derita dan menelan kepahitan dalam membela agama dan negara. Mereka dipenjara, diasingkan, disiksa, dicela.

Para ulama Islam bukan musuh kemajuan, apalagi musuh kemanusiaan, mereka justru musuh orang yang menghalangi kemajuan dan orang menindas kemanusiaan. Karena itu, merekalah yang menjadi sasaran pertama dari serangan para perampok, para penjajah, dan penghisap darah umat manusia.

Para ulama memperoleh ilmu agama lewat kezuhudan, ketakwaan, serta perlawanan dan pengendalian terhadap hawa nafsu. Setelah mereka memperoleh level keilmuan dan kejiwaan yang tinggi, mereka tetap harus berperilaku sama dengan saat mereka menjadi pelajar. Jadi, sepanjang hayat, hidup ulama adalah hidup dalam kezuhudan, kemiskinan, dan berpaling dari dunia dengan segala gemerlapnya.[24]


[1] Al-Ansari, Sharh al-Waraqat, h. h. 10-11

[2] Muhammad Sulayman ‘Abd Allah al-Ashqar, al-Wadih fi Usul al-Fiqh li al-Mubtadi’in ma‘a As’ilah li al-Munaqashah wa Tamrinat, Kairo: Dar al-Salam, cet. II, 1425 H./2004 M., h. 10.

[3] Khalid ‘Abdullah Bahamid, Sharh al-Waraqat, Riyad: Dar al-I‘tisam li al-Nashr, cet. I, 1422 H., h. 4.

[4] Muhammad Baqir al-Fadili al-Bahsudi, al-Qawa‘id wa al-Furuq hawla Ummahat al-Mabahith al-Usuliyyah wa al-Fiqhiyyah wa al-Mantiqiyyah wa al-Falsafiyyah, Qum: Dar al-Tafsir, cet. I, 1424 H., h. 29.

[5] Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt., h. 6.

[6] ‘Ali Hasb Allah, Usul al-Tashri‘ al-Islami, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, cet. VII, 1417 H./1997 M., h. jim.

[7] Jalal al-Din Muhammad bin Ahmad al-Mahalli al-Shafi‘i, Sharh al-Waraqat fi ‘Ilm Usul al-Fiqh, Riyad: Maktabah Nizar Mustafa al-Baz, cet. I, 1417 H./1996 M., h. 11.

[8] Jalal al-Din Muhammad bin Ahmad al-Mahalli al-Shafi‘i, Sharh al-Waraqat fi ‘Ilm Usul al-Fiqh, Riyad: Maktabah Nizar Mustafa al-Baz, cet. I, 1417 H./1996 M., h. 12.

[9] Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt., h. 1-2.

[10] Mutahhari, al-Usul, h. 33.

[11] http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=256568, diakses pada hari Senin, 30 Juli 2012, 23:53.

[12] http://2bac.medharweb.net/modules.php?name=News&file=article&sid=207, diakses pada hari Selasa, 31 Juli 2012, 00:11.

[13] Sa‘d bin Nasir al-Shuthri, Sharh al-Waraqat fi Usul al-Fiqh, Riyad: Dar Kunuz Ishbiliyyah li al-Nashr wa al-Tawzi‘, cet. I, 1425 H./2004 M., h. 11-13.

[14] Kamal al-Haydari, Ma‘alim al-Tajdid al-Fiqhi, h. 24 dan 27.

[15] Kamal al-Haydari, Ma‘alim al-Tajdid al-Fiqhi, h. 35.

[16] Lihat bahasan tentang prinsip ijtihad dalam Islam oleh Mutahhari dalam bukunya Ru’a Jadidah fi al-Fikr al-Islami, j. 3, h. 379-422. Di sana dia membahas al-Akhbariyyun, hak akal dalam berijtihad, persimpangan jalan, dan sikap Shi‘ah.

[17] Mutahhari, Ru’a Jadidah fi al-Fikr al-Islami, j. 3, h. 381.

[18] Mutahhari, Ru’a Jadidah fi al-Fikr al-Islami, j. 3, h. 382-383

[19] Mutahhari, Ru’a Jadidah fi al-Fikr al-Islami, j. 3, h. 383.

[20] Mutahhari, al-Usul, h. 39.

[21] Baca buku al-Ijtihad fi Muqabil al-Nas karya Sharf al-Din al-Musawi.

[22] Muhammad bin ‘Abd ‘Ali Al ‘Abd al-Jabbar, Hady al-‘Uqul ila Ahadis al-Usul, 9 jilid, ed. Mustafa al-Shaykh ‘Abd al-Hamid Al Marhun, Beirut: Dar al-Mustafa li Ihya’ al-Turath, cet. I, 1425 H./ 2004 M., h. 412.

[23] Muhammad bin ‘Abd ‘Ali Al ‘Abd al-Jabbar, Hady al-‘Uqul ila Ahadis al-Usul, 9 jilid, ed. Mustafa al-Shaykh ‘Abd al-Hamid Al Marhun, Beirut: Dar al-Mustafa li Ihya’ al-Turath, cet. I, 1425 H./ 2004 M., h. 418

[24] Khomeini, Riyadah al-Fiqh al-Islami wa Mutatallabat al-‘Asr, Beirut: Dar al-Hadi, cet. I, 1412 H./1992 M.

 

USUL FIQH PERTEMUAN 04: SEJARAH ILMU USUL FIQH

Ahmad Fadhil

 

Kelahiran Ilmu Usul Fiqh

Abu Zahrah[1] berpendapat bahwa Ilmu Usul Fiqh lahir berbarengan dengan Ilmu Fiqh karena setiap kali ada fiqh tentu saja ada metode istinbat fiqh dan jika ada metode itu maka tentu ada Usul Fiqh. Menurutnya, metode istinbat fiqh sudah ada pada Masa Sahabat pasca wafatnya Nabi saw. Para sahabat seperti Ibnu Mas‘ud, ‘Ali bin Abu Talib, dan ‘Umar bin Khattab adalah fuqaha yang tidak akan melontarkan pendapat tanpa kendali dan aturan. Saat ‘Ali bin Abu Talib mengatakan bahwa hukuman peminum sama dengan hukuman pembuat tuduhan zina palsu, maka ‘Ali telah membuat hukuman dengan dasar al-dhara’i‘. Saat Ibnu Mas‘ud menyatakan bahwa ‘idah wanita hamil yang ditinggal mati suaminya adalah sama dengan ‘idah wanita hamil, maka putusannya ini berdasarkan kaidah naskh.

Pada Masa Tabi‘in, istinbat semakin luas karena banyaknya peristiwa baru dan karena hadirnya sejumlah Tabi‘in di mimbar fatwa seperti Sa‘id bin al-Musayyab di Madinah, ‘Alqamah dan Ibrahim al-Nakha‘i di Irak. Mereka berfatwa dengan menggunakan al-Quran, Sunnah Nabi saw, dan fatwa-fatwa sahabat, serta menggunakan metode maslahah atau qiyas jika tidak mendapatkan nas. Pada masa ini, metode Usul Fiqh semakin jelas karena setiap kali terdapat perbedaan madrasah fiqh, maka perbedaan itu menjadi penyebab semakin jelasnya metode istinbat masing-masing madrasah.

Pada Masa Imam Mazhab, metode Usul Fiqh bertambah jelas. Masing-masing imam mazhab menerangkan metode istinbatnya dengan jelas. Abu Hanifah membatasinya pada al-Kitab dan Sunnah. Fatwa sahabat hanya dia pakai jika merupakan ijma. Sedangkan jika bukan, maka dia memilih salah satunya. Dia tidak mendasarkan pandangannya pada pendapat Tabi‘in. Abu Hanifah berbeda dengan Malik yang menjadikan ‘amal ahl al-madinah sebagai argumen.[2]

 

Kepeloporan al-Shafi‘i dalam Ilmu Usul Fiqh

Mayoritas ulama berpandangan bahwa Ilmu Fiqh ada sebelum Ilmu Usul Fiqh seperti Ilmu Nahwu ada setelah orang berbicara dengan bahasa Arab Fusha, Ilmu ‘Arud ada setelah para penyair berpuisi, dan Ilmu Logika ada setelah orang ramai berdebat dan berpikir.[3] Lalu, karena umat Islam telah terlebih dulu mengkaji masalah praktis dan menetapkan metodenya (Usul Fiqh) sebelum mereka mengkaji masalah teologis teoritis dan mencari metodenya, maka mereka pun lebih dulu menciptakan metode penelitian dalam masalah praktis (usul al-fiqh) daripada dalam masalah teoritis (usul al-din).[4]

Kebanyakan peneliti dan ahli Ilmu Usul Fiqh mengatakan bahwa pendiri Ilmu Usul Fiqh adalah al-Shafi‘i dan buku al-Risalah karyanya adalah buku pertama dalam bidang Ilmu Usul Fiqh. Al-Razi mengatakan, “Al-Shafi‘i telah menggali Ilmu Usul Fiqh, menetapkan aturan umum bagi manusia yang jadi rujukan dalam usaha mengetahui tingkatan dalil-dalil syariat. Nisbah al-Shafi‘i dengan Ilmu Syariat sama dengan nisbah Aristoteles dengan Ilmu Rasional.”[5] Ibnu Hambal dan al-Juwayni menyatakan bahwa tidak ada seorang pun sebelum al-Shafi‘i yang mengenal dan menulis tentang Usul Fiqh. Ibnu Rushd di dalam Fasl al-Maqal pun mengatakan bahwa kajian tentang analogi fiqh dilakukan setelah abad pertama.[6]

Keyakinan bahwa al-Shafi‘i adalah pendiri Ilmu Usul Fiqh didasari oleh tiga hal. Pertama, buku tertua dalam bidang Usul Fiqh yang kita ketahui adalah karya al-Shafi‘i. Dia tidak hanya menulis al-Risalah, tapi juga Ahkam al-Qur’an, Ikhtilaf al-Hadith, Ibtal al-Istihsan, Jima‘ al-‘Ilm, dan al-Qiyas.” Kedua, bahasan al-Shafi‘i sangat holistik sehingga membuat pencarian metode pra al-Shafi‘i seolah-olah tidak diperlukan. Bab-bab dan tema-tema yang dipaparkan al-Shafi‘i adalah yang paling mendetail dan paling berharga di antara semua yang telah ditulis para ulama. Bahkan, menurut Ahmad Shakit, editor buku al-Risalah, semua tulisan setelah al-Shafi‘i adalah cabang darinya dan berhutang kepadanya, sedangkan dia telah menghimpun serta menulis ilmu tersebut tanpa contoh terdahulu. Ketiga, pemikiran al-Shafi‘i dikembangkan dan disebarluaskan secara intensif oleh murid-muridnya.[7]

Abu Zahrah mengatakan bahwa al-Shafi‘i pantas untuk menjadi orang pertama yang mengkodifikasi Ilmu Usul Fiqh. Sebab, al-Shafi‘i mahir dalam Ilmu Bahasa Arab, Ilmu Hadith, menguasai berbagai jenis fiqih pada zamannya, mengetahui perbedaan para ulama dari masa sahabat hingga masanya, sangat terobsesi untuk mengetahui sebab-sebab perbedaan pendapat dan ragam orientasi orang-orang yang berbeda pendapat.[8]

Al-Shafi‘i mengerti bahasa Yunani seperti diterangkan oleh ‘Abdullah al-Hakim dalam Manaqib al-Shafi‘i yang dikutip oleh Ibnu al-Qayyim dalam Miftah Dar al-Sa‘adah 2/232. Tapi, ini bukan bukti yang kuat tentang terpengaruhnya Usul Fiqh al-Shafi‘i oleh Logika Aristoteles. Sebab, menurut al-Nashshar, kajian dan metode dalam Usul Fiqh al-Shafi‘i tidak menunjukkan dia berhubungan dengan kajian di luar pemikiran dan bahasa Arab.[9]

Sikap al-Shafi‘i terhadap logika Aristoteles tidak hanya negatif atau sekadar tidak terpengaruh, tapi juga positif, yakni menyerang logika Aristoteles dengan sengit, bahkan mengharamkannya. Salah satu alasannya adalah logika Aristoteles berbasis bahasa Yunani yang berbeda dengan bahasa Arab dan aplikasi logika yang berbasis pada bahasa Yunani pada logika yang berbasis pada bahasa Arab akan berimplikasi banyak kontradiksi. Kritik ini memperkuat pendapat bahwa al-Shafi‘i mengerti bahasa Yunani.[10]

 

Ilmu Usul Fiqh Pasca al-Shafi‘i

Di dalam buku Mu‘jam Usul al-Fiqh, h. 8-13,[11] dijelaskan metode-metode para ulama dalam menulis buku Usul Fiqh. Menurut penulis buku ini, metode para ulama dalam membahas Usul Fiqh ada tiga, yaitu metode Mutakallimin, metode Ahnaf, dan metode Muta’akhkhirin.

Metode Mutakallimin (metode Shafi‘iyyah)

Di dalam metode ini, para mutakallim meneliti masalah-masalah, memeriksa perbedaan-perbedaan pendapat dengan cara logis dan teoritis semata-mata. Metode ini tidak terpengaruh dan tidak fanatik pada mazhab tertentu. Tujuan mereka adalah teoritisasi kaidah-kaidah Usul Fiqh secara ilmiah dan tidak terikat oleh apa pun selainnya.

Para pengusung mazhab ini menjadikan indikasi kata dan kaidah-kaidah Bahasa Arab sebagai sumber rujukan. Selain disebut metode al-Mutakallimin, metode ini terkadang disebut metode al-Shafi‘iyyah karena al-Shafi‘i-lah pelopornya dan diikuti oleh para ulama Hanabilah, para ulama Malikiyyah, dan ulama-ulama lain.

Karakteristik metode ini adalah kecenderungan pada inferensi rasional, tidak fanatik pada mazhab, sedikit menyebutkan hukum furu‘ fiqh, dan jika menyebutkannya hanya sebagai contoh.[12]

Buku-buku babon dalam metode ini adalah: al-Risalah oleh al-Shafi‘i (w. 204 H.), al-Mu‘tamad fi Usul al-Fiqh oleh Abu al-Hasan Muhammad bin ‘Ali al-Tayyib al-Basri al-Mu‘tazili (w. 436 H.) yang merupakan sharh buku al-‘Ahd oleh al-Qadi ‘Abd al-Jabbar al-Mu‘tazili (w. 415 H.), al-Mustasfa min ‘Ilm al-Usul oleh Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H.), al-Burhan fi Usul al-Fiqh oleh Abu al-Ma‘ali ‘Abd al-Malik al-Juwayni (w. 478 H.), al-Mankhul oleh Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H.), al-Luma‘ oleh Abu Ishaq Ibrahim bin ‘Ali bin Yusuf al-Fayruz Abadi al-Shirazi (w. 476 H.), al-Tabsirah fi Usul al-Fiqh, oleh Abu Ishaq, al-Qawati‘ oleh Ibnu al-Sam‘ani (w. 489 H.), al-‘Iddah fi Usul al-Fiqh oleh Abu Ya‘la Muhammad bin al-Husayn al-Farra’ al-Baghdadi (w. 458 H.), Rawdah al-Nazir wa Jannah al-Manazir oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisi (w. 620 H.), Al-‘Ahd oleh ‘Abd al-Jabbar bin Ahmad al-Hamdhani al-Mu‘tazili, ‘Iddah al-‘Alim wa al-Tariq al-Salim oleh Ibnu al-Sabbag Abu Nasr ‘Abd al-Sayyid bin Muhammad al-Baghdadi (w. 477 H.).

 

Metode Ahnaf

Menurut para ulama Mazhab Hanafiyyah (Ahnaf), fiqh sangat terkait dengan usul fiqh. Keterikatan ini sangat jarang terurai. Karena itu, dalam membahas Usul Fiqh, mereka sangat terpengaruh oleh furu‘-furu‘ fiqh. Mereka mengarahkan perhatian pada upaya menetapkan kaidah-kaidah usul fiqh berdasarkan furu‘-furu‘ fiqh yang mereka nukil dari para pemimpin mazhab mereka sehingga kita dapat menemui banyak sekali furu‘ dan masalah fiqh di dalam buku usul fiqh mereka.

Metode ini menetapkan kaidah usul fiqh, lalu mengqiyaskan furu‘ fiqh di dalam mazhab mereka dengan kaidah tersebut. Metode ini memiliki karakter praktis, karena ia merupakan kajian praktis aplikatif terhadap furu‘-furu‘ fiqh yang dinukil dari para imam mazhab serta merupakan abstraksi terhadap aturan, kaidah, dan rambu usul fiqh yang diperhatikan oleh para imam mazhab tersebut ketika mereka melakukan deduksi. Jadi, metode ini menetapkan kaidah yang mendukung furu‘-furu‘ fiqh di dalam mazhab dan membela tata cara para imam mazhab dalam berijtihad.

Karya-karya utama dalam metode ini adalah: Usul al-Kurkhi oleh ‘Ubaydullah bin al-Husayn bin Dallal bin Dalham al-Kurkhi (w. 340 H.), Usul al-Jassas oleh Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali al-Razi al-Jassas (w. 370 H.), Usul al-Sarkhasi oleh Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Abu Sahl al-Sarkhasi (w. 483 H.), Usul al-Bazdawi (Kanz al-Wusul ila Ma‘rifah al-Usul) oleh Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad bin al-Husayn bin ‘Abd al-Karim al-Bazdawi (w. 482 H), Ta’sis al-Nazr dan Taqwim al-Adillah fi Taqwim Usul al-Fiqh oleh Abu Zayd al-Dabbusi ‘Abdullah bin ‘Umar bin ‘Isa al-Hanafi (430 H.), Al-Mannar oleh ‘Abdullah bin Ahmad al-Nasafi (w. 710 H.).

 

Metode Muta’akhkhirin

Metode ini muncul pada awal abad ketujuh Hijriyah. Pelopornya adalah Muzaffar al-Din Ahmad bin ‘Ali al-Sa‘ati al-Hanafi yang menulis buku Badi‘ al-Nizam al-Jami‘ bayna Usul al-Bazdawi wa al-Ihkam. Metode ini menggabung dua metode terdahulu. Dengan munculnya metode yang dipakai baik oleh para ulama Mazhab Hanafiyyah maupun Shafi‘iyyah ini, juga oleh selain mereka, maka Ilmu Usul Fiqh semakin berkembang dan memperoleh kesempurnaan. Aplikasi praktis menjadi beriringan dengan metode teoritis murni.

Karya-karya utama dalam metode ini adalah: Badi‘ al-Nizam al-Jami‘ bayna Usul al-Bazdawi wa al-Ihkam oleh Muzaffar al-Din Ahmad bin ‘Ali al-Sa‘ati al-Hanafi (w. 693 H.), Jam‘ al-Jawami‘, Man‘ al-Mawani‘, dan Tawshih al-Sahih oleh Abu Nasr ‘Abd al-Wahhab bin ‘Ali bin ‘Abd al-Kafi al-Subki (w. 771 H.). Dia juga menulis buku Tabaqat al-Shafi‘iyyah al-Kubra, Miftah al-Wusul ila Bina’ al-Furu‘ ‘ala al-Usul oleh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Maliki al-Tilmisani (w. 771 H.), Tanqih al-Usul wa Sharhuh al-Tawdih oleh ‘Abdullah bin Mas‘ud bin Taj al-Shari‘ah al-Hanafi (w. 747 H.) yang di-sharh oleh Sa‘d al-Din al-Taftazani al-Shafi‘i dalam buku al-Talwih fi Hall Ghawamid al-Tawdih, al-Qawa‘id wa al-Fawa’id al-Usuliyyah oleh Ibnu al-Liham Abu al-Hasan ‘Ala al-Din (w. 803 H.), al-Tahrir fi Usul al-Fiqh oleh Ibnu al-Hammam Kamal al-Din Muhammad bin ‘Abd al-Wahid bin ‘Abd al-Hamid bin Mas‘ud al-Siwasi al-Iskandari (w. 861 H.) yang di-sharh oleh Muhammad bin Amin Amir Bad Shah al-Hanafi dalam buku Taysir al-Tahrir, Musallam al-Thubut oleh Muhibb al-Din bin ‘Abd al-Shukur (w. 1119 H.).

 

Ilmu Usul Fiqh di Kalangan Shi‘ah

Abu Zahrah membantah pendapat Hasan al-Sadr, salah seorang ulama Mazhab al-Imamiyyah, yang menyatakan bahwa orang pertama yang mengkodifikasi Ilmu Usul Fiqh adalah Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zayn al-‘Abidin dan dilanjutkan oleh putranya Abu ‘Abd Allah Ja‘far al-Sadiq.[13]

Sejarah Ilmu Usul Fiqh di kalangan Shi‘ah berkaitan dengan lahirnya Mazhab Anti Usul Fiqh, yaitu Mazhab Al-Akhabariyyun, yang dibantah oleh ulama yang bernama al-Bahbahani. Nama lengkap al-Bahbahani Muhammad Baqir al-Bahbahani (w. 1205 H.). Dia adalah pimpinan Madrasah al-Usuliyyin di Karbala yang berpolemik dengan Madrasah al-Akhbariyyun. Dengan kepiawaiannya, dia berhasil memenangkan Ilmu Usul Fiqh dan menyurutkan serta mengalahkan orientasi Akhbarisme.[14]

Al-Bahbahani dan madrasahnya disebut oleh Baqir al-Sadar sebagai penanda lahirnya periode ketiga dalam sejarah Ilmu Usul Fiqh dalam Mazhab Ahlul Bayt. Periode pertama, ‘asr tamhidi (periode pendahuluan), yaitu periode peletakkan benih asasi Ilmu Usul mulai dari masa Ibnu Abi ‘Aqil dan Ibnu al-Junayd dan berakhir dengan munculnya al-Tusi. Periode kedua adalah ‘asr al-‘ilm (periode ilmu), yaitu periode tumbuhnya dan berbuahnya benih tersebut dengan jelasnya karakteristik pemikiran Usul yang tercermin dalam kajian fiqh secara masif. Pimpinan periode ini adalah al-Tusi. Tokoh-tokoh lainnya di antaranya adalah Ibnu Idris, al-Muhaqqiq al-Hilli, al-‘Allamah al-Hilli, dan al-Shahid al-Awwal. Periode ketiga adalah ‘asr al-kamal al-‘ilmi (periode kesempurnaan ilmu), yaitu periode yang membawa Ilmu Usul Fiqh ke puncak kematangannya.

Baqir al-Sadr menyebutkan bahwa tokoh-tokoh periode ini dibagi menjadi tiga generasi. Generasi pertama adalah murid-murid al-Bahbahani, yaitu Mahdi Bahr al-‘Ulum (w. 1212 H.), Ja‘far Kashif al-Ghita’ (w. 1227 H.), Mirza Abu al-Qasim al-Qummi (w. 1227 H.), ‘Ali al-Tabataba’i (w. 1221 H.), Asad Allah al-Tusturi ( w. 1234 H.). Generasi kedua adalah murid tokoh-tokoh generasi pertama, yaitu Muhammad Taqi bin ‘Abd al-Rahim (w. 1248 H.), Muhammad Sharif bin Hasan ‘Ali (w. 1245 H.), Muhsin al-A‘raji (w. 1227 H.), Ahmad al-Naraqi (w. 1245 H.), Muhammad Hasan al-Najafi (w. 1266 H.). Generasi ketiga dipimpin oleh Murtada al-Ansari (l. 1214 H.). Sampai sekarang Ilmu Usul Fiqh yang berkembang di hawzah Shiah masih merupakan kelanjutan dari periode ketiga ini.[15]

Kamal al-Sayyid mengatakan bahwa al-Bahbahani memiliki tiga karakter utama. Pertama, gemar menuntut ilmu. Ilmu adalah obsesi dan isi hatinya satu-satunya baik sedang diam di rumah maupun dalam perjalanan. Kedua, zuhud atas dunia yang fana. Ketiga, pengagungan terhadap akal manusia dan kemampuannya menuntun manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.[16]

 


[1] Muhammad Abu Zahrah lahir pada tahun 1316 H., bertepatan dengan 29 Maret 1898 M. di Mahallah al-Kubra, Provinsi al-Gharbiyyah, Mesir. Setelah pensiun mengajar pada tahun 1958, pada Februari 1962, dia menjadi anggota Majma‘ al-Buhuth al-Islamiyyah di al-Azhar. Dia menulis banyak buku, di antaranya: Khatam al-Nabiyyin (2 jilid), Al-Mu‘jizah al-Kubra, Abu Hanifah Hayatuh ‘Asruh Ara’uh Fiqhuh, Malik Hayatuh ‘Asruh Ara’uh Fiqhuh, Ibnu Hanbal Hayatuh ‘Asruh Ara’uh Fiqhuh, Al-Shafi‘i Hayatuh ‘Asruh Ara’uh Fiqhuh, Al-Imam Zayd Hayatuh ‘Asruh Ara’uh Fiqhuh, Ibnu Taymiyyah Hayatuh ‘Asruh Ara’uh Fiqhuh, Ibnu Hazm Hayatuh ‘Asruh Ara’uh Fiqhuh, Al-Imam al-Sadiq Hayatuh ‘Asruh Ara’uh Fiqhuh, Al-Jarimah wa al-‘Uqubah fi al-Fiqh al-Islami (al-Jarimah), Al-Jarimah wa al-‘Uqubah fi al-Fiqh al-Islami (al-‘Uqubah), Tarikh al-Madhahib al-Islamiyyah (2 jilid), Al-Ahwal al-Shakhsiyah, Ahkam al-Tirkat wa al-Mawarith, Usul al-Fiqh, Al-Milkiyyah wa Nazariyyah al-‘Aqd, Sharh Qanun al-Wasiyyah. (Lihat, Pengantar Penerbit buku Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt..)

[2] Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt., h. 11-12.

[3] Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, h. 10.

[4] ‘Ali Sami al-Nashshar, Manahij al-Bahth ‘Inda Mufakkiri al-Islam wa Naqd al-Muslimin li Mantiq al-Aristatalisi, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, cet. I, 1367 H./1947 M. h. 55

[5] Abu ‘A’ish ‘Abd al-Mun‘im Ibrahim, “Pengantar”, Sharh al-Waraqat fi ‘Ilm Usul al-Fiqh, Jalal al-Din Muhammad bin Ahmad al-Mahalli al-Shafi‘i, ed. Abu ‘A’ish ‘Abd al-Mun‘im Ibrahim, Riyad: Maktabah Nizar Mustafa al-Baz, cet. I, 1417 H./1996 M., h. 13.

[6] ‘Ali Sami al-Nashshar, Manahij al-Bahth, h. 56.

[7] ‘Ali Sami al-Nashshar, Manahij al-Bahth, h. 56; Abu ‘A’ish ‘Abd al-Mun‘im Ibrahim, “Pengantar”, Sharh al-Waraqat fi ‘Ilm Usul al-Fiqh, h. 13.

[8] Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt., h. 11.

[9] ‘Ali Sami al-Nashshar, Manahij al-Bahth, h. 60-61.

[10] ‘Ali Sami al-Nashshar, Manahij al-Bahth, h. 62.

[11] Khalid Ramadan Hasan, Mu‘jam Usul al-Fiqh, al-Rawdah, cet. I, 1998, h. 8-13.

[12] Cari buku Manahij al-Usuliyyin fi al-Ta‘lif karya Muhammad Ahmad Ma‘bar al-Qahtani.

[13] Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt., h. 12.

[14] ‘Abbas al-‘Abiri, al-Bahbahani Rajul al-‘Aql, terj. Kamal al-Sayyid, Qum: Mu’assasah Ansariyan, tt., Pengantar Penerjemah.

[15] Kamal al-Haydari, La Darar wa La Dirar min Abhath Sayyidina al-Ustadh Ayatullah al-‘Uzma al-Shahid Muhammad Baqir al-Sadr, Qum: Mu’assasah al-Imam al-Jawwad li al-Fikr wa al-Thaqafah, h. 7-8, mengutip dari Muhammad Baqir al-Sadr, Ma‘alim al-Jadidah li al-Usul, Teheran: Maktabah al-Najah, cet. II, h. 87.

[16] ‘Abbas al-‘Abiri, al-Bahbahani Rajul al-‘Aql, terj. Kamal al-Sayyid, Qum: Mu’assasah Ansariyan, tt., Pengantar Penerjemah.

 

HUBUNGAN ILMU USUL FIQH DENGAN ILMU-ILMU LAIN

Ahmad Fadhil

 

Ilmu-Ilmu Islam

Apa yang dimaksud dengan ilmu-ilmu Islam?

Murtada Mutahhari membahas kata “ilmu-ilmu Islami” dan membuat definisi yang jelas baginya untuk menjelaskan apa yang kita maksud jika kita menyebut kata ilmu-ilmu Islami dan apa esensi universalitas-universalitas yang hendak kita ketahui pada pelajaran-pelajaran ini. Dia mengatakan bahwa ilmu-ilmu Islami yang menjadi subjek pembahasan kita dapat didefinisikan dari berbagai aspek, dan seiring perbedaan definisi itu, maka subjek-subjeknya juga berbeda-beda.

  1. Ilmu yang subjek atau temanya seputar pokok (usul) dan cabang (furu‘) ajaran Islam, atau ilmu yang dengannya dapat ditetapkan usul dan furu‘ ajaran Islam yaitu al-Quran dan Sunnah, seperti Ilmu Qiraah, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadith, Ilmu Kalam Tradisional,[1] Ilmu Fiqh, Ilmu Akhlak Tradisional.[2]
  2. Ilmu-ilmu tersebut ditambah dengan ilmu-ilmu pengantarnya, seperti Sastra Arab, yaitu Sarf, Nahwu, Linguistis, Ma‘ani, Bayan, Badi‘, dll; juga Kalam Rasional, Akhlak Rasional, Hikmah Ilahiyyah, Logika, Usul Fiqh, Rijal, dan Dirayah.
  3. Ilmu yang dari aspek tertentu merupakan bagian dari kewajiban Islami, yaitu ilmu yang wajib dikuasai oleh Kaum Muslimin sebagai sebuah kewajiban kifayah yang tercakup dalam hadith Nabi yang terkenal, “Menuntut ilmu itu fardu bagi setiap muslim.”

(Pertama), ilmu yang subjek dan temanya termasuk usul atau furu‘ ajaran Islam; atau ilmu yang menjadi sandaran dalam menetapkan usul dan furu‘ ajaran Islam, adalah ilmu yang wajib dipelajari. Sebab, memahami usul ajaran agama adalah wajib ‘ayni atas semua muslim, dan memahami furu‘ ajaran agama adalah wajib kifa’i, sebagaimana mempelajari al-Quran dan Sunnah juga merupakan kewajiban, karena tanpa keduanya maka pengetahuan tentang usul dan furu‘ ajaran Islam tidak mungkin diperoleh.

Jadi, (yang kedua), mempelajari ilmu-ilmu pengantar untuk menguasai ilmu-ilmu tersebut juga merupakan kewajiban dari segi “pengantar bagi sesuatu yang wajib adalah wajib”. Artinya, harus selalu ada orang-orang yang menguasai ilmu-ilmu tersebut minimal dalam kadar yang mencukupi. Bahkan, harus selalu ada orang-orang yang mampu berperan dalam melakukan inovasi dalam ilmu-ilmu dasar dan pengantar tersebut, serta berusaha memperkaya dan mengembangkannya secara kontinyu.

Para ulama Islam sepanjang 14 abad telah berusaha meluaskan wilayah ilmu-ilmu tersebut. Dalam bidang ini, mereka telah meraih keberhasilan yang nyata. Kita secara bertahap akan mengkaji pertumbuhan, perkembangan, perubahan, dan penyempurnaan ilmu-ilmu tersebut.

(Ketiga), ilmu yang wajib dipelajari oleh kaum Muslimin tidak terbatas pada ilmu-ilmu yang sudah disebutkan. Sebab, jika terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan primer masyarakat Islam tergantung kepada penguasaan, spesialisasi, dan ijtihad pada suatu ilmu, maka ilmu itu wajib dikuasai oleh umat Islam.

Untuk menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang holistik dan komprehensif, agama yang tidak hanya memuat serangkaian nasihat moral dan individual, agama yang berfungsi melindungi masyarakat, maka kami katakan bahwa Islam mewajibkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat sebagai wajib kifayah. Misalnya, jika masyarakat membutuhkan dokter, maka kedokteran menjadi wajib kifayah. Artinya, penyediaan dokter dalam jumlah yang mencukupi adalah kewajiban atas masyarakat. Jika dokter dalam jumlah yang mencukupi tidak tersedia, maka masyarakat harus menyiapkan kondisi hingga tersedianya dokter-dokter dan terpenuhinya kebutuhan tersebut. Karena kedokteran tergantung pada dikuasainya ilmu kedokteran, maka menguasai ilmu ini tentu saja menjadi salah satu wajib kifayah. Demikian juga dalam pendidikan, politik, perdagangan, dan bidang-bidang ilmu serta bidang-bidang keterampilan lainnya.

Jika pada pos-pos tertentu terlindunginya eksistensi masyarakat Islam tergantung kepada penguasaan ilmu dan keterampilan pada level yang sangat tinggi, maka ilmu dan keterampilan itu wajib dikuasai pada level tersebut. Dari contoh ini kita dapat memahami bahwa Islam menganggap semua ilmu yang penting bagi masyarakat Islam sebagai kewajiban, sehingga ilmu-ilmu Islam, berdasarkan definisi ketiga ini, mencakup banyak ilmu fisika dan matematika “yang dibutuhkan oleh masyarakat Islam”.

  1. Ilmu-ilmu yang memperoleh kesempurnaan di peradaban ilmiah Islam. Ilmu-ilmu ini lebih banyak (lebih umum) daripada ilmu-ilmu yang dianggap wajib dan primer oleh Islam, serta lebih banyak daripada ilmu-ilmu yang dianggap Islam sebagai ilmu yang terlarang, karena dengan cara bagaimana pun ilmu-ilmu ini berkembang di masyarakat Islam. Misalnya, ilmu astrologi (‘ilm al-tanjim al-ahkami) yang berbeda dengan ilmu astronomi (‘ilm al-tanjim al-riyadi). Kita mengetahui bahwa ilmu astronomi itu termasuk dari ilmu-ilmu Islam yang boleh dipelajari jika ilmu ini berkaitan dengan rumus-rumus matematika yang mengkaji kondisi-kondisi alam semesta, menjelaskan rangkaian prediksi yang berbasis prinsip-prinsip matematika, seperti memprediksi gerhana matahari dan gerhana bulan. Sedangkan jika berkaitan dengan sesuatu di luar batas rumus-rumus matematika, yaitu jika berkaitan dengan penjelasan rangkaian hubungan yang samar antara kondisi-kondisi perbintangan (samawiyyah) dengan kejadian-kejadian sehari-hari, yang berujung pada ramalan-ramalan tentang peristiwa-peristiwa sehari-hari, maka ilmu ini diharamkan oleh Islam. Meskipun demikian, kedua jenis ilmu perbintangan ini ada di tengah peradaban dan kebudayaan Islam.

Dari keempat definisi itu, Mutahhari mengambil definisi ketiga sebagai pengertian ilmu-ilmu Islam, yaitu ilmu-ilmu yang dianggap Islam sebagai fardu, memiliki sejarah yang mendalam di dalam peradaban dan budaya Islam, serta menempati posisi terhormat di kalangan umat Islam karena menjadi instrumen untuk memenuhi kebutuhan atau untuk melaksanakan suatu kewajiban tertentu.[3]

Mutahhari mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban yang khas di antara peradaban-peradaban lain di dunia. Peradaban yang khas artinya peradaban yang memiliki orisinalitas dan karakteristik tersendiri, sedangkan peradaban yang tidak khas artinya peradaban yang sekadar mengikuti peradaban lain. Kriteria untuk menentukan sebuah khas atau tidak sebuah peradaban adalah ada atau tidak adanya motif, tujuan, gerak, dan cara pertumbuhan tersendiri, serta ciri-ciri utama yang menonjol.[4]

Tapi, menyatakan suatu peradaban memiliki orisinalitas tidak berarti bahwa peradaban itu tidak mengambil manfaat dari  peradaban-peradaban lain karena hal itu mustahil. Tidak ada satu pun peradaban di dunia yang tidak mengambil manfaat dari peradaban lain. Cara mengambil manfaatlah yang menentukan orisinal/tidaknya suatu peradaban. Yang tidak orisinal adalah yang hanya mengambil atau mengimpor peradaban lain tanpa mengolahnya sedikit pun. Sedangkan yang orisinal adalah yang mencerna peradaban lain seperti yang dilakukan organ makhluk hidup yang menyerap suatu benda lalu mengolahnya menjadi benda lain. Peradaban Islam termasuk jenis peradaban dalam pengertian yang kedua.[5]

 

Usul Fiqh adalah ilmu alat seperti Ilmu Bahasa dan Ilmu Logika

Umat Islam telah mengkaji masalah-masalah praktis dan menetapkan metodenya (Usul Fiqh) sebelum mereka mengkaji masalah-masalah teologis teoritis dan mencari metodenya. Para ulama Usul Fiqh lebih dulu menciptakan metode penelitian daripada para ulama Usul al-Din dan metode itu menjadi rujukan utama sampai pada abad 5 H., al-Ghazali menyerukan untuk memadukan logika Aristoteles dengan ilmu-ilmu Islam dan menjadikannya satu-satunya metode kajian ilmiah.[6]

Karakter metodologis Ilmu Usul Fiqh sangat kentara sehingga dalam kaitannya dengan ilmu fiqih dia berperan seperti Ilmu Logika bagi filsafat atau Ilmu Nahwu dalam kaitannya dengan berbicara dan menulis dengan Bahasa Arab.[7] Mengapa? Al-Zarkashi dalam Bahr al-Muhit yang dikutip oleh al-Nashshar, menegaskan bahwa Usul Fiqh adalah majmu‘ turuq al-fiqh min haythu annaha ‘ala sabil al-ijmal wa kayfiyyah al-istidlal biha wa hal al-mustadall biha. Ringkasnya, Usul Fiqh adalah metode penelitian seorang faqih. Dengan kata lain, Usul Fiqh adalah qanun ‘asim li dhihn al-faqih min al-khata’ fi al-istidlal ‘ala al-ahkam.[8]

Ilmu Usul Fiqh adalah salah satu ilmu rasional (al-‘ulum al-‘aqliyyah). Al-‘Ulwani mengatakan bahwa Mustafa ‘Abd al-Raziq menegaskan urgensi ilmu ini dan menyatakan bahwa peneliti sejarah Filsafat Islam harus mempelajari al-ijtihad bi al-ra’y karena hal ini merupakan kajian rasional pertama yang terbukti dilakukan kaum muslimin hingga memunculkan mazhab-mazhab fiqh dan melahirkan Ilmu Usul Fiqh.

‘Abd al-Raziq bukan orang pertama yang menyatakan hal ini. Ibnu Khaldun, Tashi Kubra Zadah, dan al-Shatibi telah menyatakan hal tersebut. Buku-buku babon Usul Fiqh pun kebanyakan ditulis oleh para teolog, seperti al-Burhan oleh al-Haramayn [ulama mazhab al-Shafi‘i, w. 487 H.], al-Mustasfa oleh al-Ghazali, al-‘Ahd oleh ‘Abd al-Jabbar, dan al-Mu‘tamad oleh Abu al-Husayn al-Basri [ulama mazhab Mu‘tazilah, w. 413 H.]. Tapi, ‘Abd al-Raziq berjasa mengingatkan dan mengekspos rasionalitas ilmu ini secara metodologis disertai dengan argumentasi rasional dan historis.[9]

Tentang tema ini baca lagi buku al-Qiyam al-Daruriyyah wa Maqasid al-Tashri‘ al-Islami karya Fahmi Muhammad ‘Ulwan (Kairo al-Hay’ah al-Misriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1989) bab III tentang “Usul Fiqh, ilmu-ilmu filosofis, dan tasawuf.”


[1] Nanti akan dijelaskan bahwa Ilmu Kalam ada dua macam: rasional dan tradisional.

[2] Nanti akan dijelaskan bahwa Ilmu Akhlak juga ada dua macam: rasional dan tradisional.

[3] Murtada Mutahhari, al-Usul, terj. Hasan ‘Ali al-Hashimi, Beirut: Dar al-Wala’, cet. I, 2009 M./1430 H., h. 8.

[4] Murtada Mutahhari, al-Usul, h. 8-9.

[5] Murtada Mutahhari, al-Usul, h. 9.

[6] ‘Ali Sami al-Nashshar, Manahij al-Bahth ‘Inda Mufakkiri al-Islam wa Naqd al-Muslimin li Mantiq al-Aristatalisi, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, cet. I, 1367 H./1947 M. h. 53-55.

[7] Fahmi Muhammad ‘Ulwan, al-Qiyam al-Daruriyyah wa Maqasid al-Tashri‘ al-Islami, Kairo al-Hay’ah al-Misriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1989, h. 8; Muhammad Abu Zahrah, Usul al-Fiqh, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt., h. 5-6.

[8] ‘Ali Sami al-Nashshar, Manahij al-Bahth ‘Inda Mufakkiri al-Islam wa Naqd al-Muslimin li Mantiq al-Aristatalisi, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, cet. I, 1367 H./1947 M., h. 55.

[9] Fahmi Muhammad ‘Ulwan, al-Qiyam al-Daruriyyah wa Maqasid al-Tashri‘ al-Islami, h. 7.

 

HUKUM ISLAM

Ahmad Fadhil

 

Definisi Hukum

Hukum adalah ketetapan Allah yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan manusia baik sebagai tuntutan, pilihan, atau wad‘.

Penjelasan definisi:

Ketetapan Allah adalah ketetapan Allah yang langsung seperti wahyu dengan al-Quran atau Sunnah, atau yang berlandaskan pada ketetapan-Nya yang langsung seperti ijma dan qiyas.

Yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan manusia: manusia yang dimaksud dalam definisi ini akan dijelaskan pengertiannya dalam pembahasan al-mahkum ‘alayh (subjek hukum).

Tuntutan atau permintaan mencakup tuntutan untuk mengerjakan sesuatu, tuntutan untuk meninggalkan atau tidak mengerjakan sesuatu. Kedua tuntutan itu ada yang pasti/kuat (lazim) dan ada yang tidak pasti/tidak kuat (ghayr lazim).

Pilihan artinya sama antara dikerjakan atau tidak dikerjakan.

Wad‘ artinya sesuatu yang dijadikan Allah sebagai penyebab bagi sesuatu, seperti terbitnya matahari sebagai sebab wajibnya salat; atau sebagai syarat bagi sesuatu, seperti wudu sebagai syarat sahnya salat; atau sebagai pencegah dari sesuatu, seperti pembunuhan sebagai pencegah dari hak mendapat warisan; atau hukum Allah tentang sah, tidak sah, batal, berat, atau ringannya sesuatu.

 

Jenis Hukum

Hukum taklifi

Definisi: yang menuntut dilakukan atau ditinggalkannya suatu perbuatan, atau diberi pilihan antara melakukan dan meninggalkan suatu perbuatan. Disebut taklifi (penugasan/pembebanan) karena ada tugas/beban yang ditunaikan dengan mengerjakannya. Apa yang boleh dipilih antara dikerjakan dengan ditinggalkan sebenarnya bukan tugas/beban (taklif), tapi disebut taklif karena sebutannya mengikuti apa yang harus dilakukan/ditinggalkan.

 

Jenis-jenisnya

Dari definisi hukum taklifi, nampak ada lima jenis hukum yang tercakup di dalamnya:

  1. Wajib.
  2. Mandub.
  3. Haram.
  4. Makruh.
  5. Mubah

 

  1. Wajib

Definisi: sesuatu yang dituntut oleh Allah untuk dikerjakan dengan tuntutan yang pasti, yang jika dikerjakan maka berimplikasi pujian dan pahala, dan jika ditinggalkan padahal mampu maka berimplikasi celaan dan siksa.

 

Rumusan-rumusannya:

Ada banyak rumusan di dalam teks al-Kitab dan Sunnah yang menunjukkan wajib, terutama:

  1. Rumusan perintah dengan lafaz insha’, sighah al-amr bi lafz al-insha’.

Dengan  fi‘l amr, seperti firman Allah (al-An‘am: 72), وأقيمواالصلاة

Dengan fi‘l mudari‘ yang diimbuhi lam amr, seperti firman Allah (al-Nisa’: 9), فليتقواالله وليقولوا قولا سديدا

Dengan ism fi‘l amr, seperti firman Allah (al-Ma’idah: 105), يا ايها الذين أمنوا عليكم أنفسكم لا يضركم من ضل إذا اهتديتم.

Dengan masdar pengganti fi‘l amr, seperti firman Allah (Muhammad: 4), فإذا لقيتم الذين كفروا فضرب الرقاب.

  1. Rumusan amara dan derivasinya, seperti firman Allah (al-Nahl: 90), إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى, dan firman-Nya (al-Nisa: 58), إن الله يأمركم أن تؤدواالأمانات إلى أهلها, sabda Nabi saw (HR. Tirmidhi), وانا آمركم بخمس الله أمرني بهن : السمع والطاعة والجهاد والهجرة والجماعة.
  2. Dengan rumusan kataba atau kutiba, seperti firman Allah (al-Baqarah: 216), كتب عليكم القتال وهو كره لكم, dan sabda Nabi (HR. Muslim), إن الله كتب الإحسان على كل شيء فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة وإذا ذبحتم فأحسنواالذبح وليحد أحدكم شفرته فليرح ذبيحته.
  3. Rumusan farada dan derivasinya, seperti firman Allah (al-Nur: 1), سورة أنزلناها وفرضناها, dan sabda Nabi saw (Muttafaq ‘alayh), أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما بعث معاذا إلى اليمن قال : إنك تقدم على قوم أهل كتاب فليكن أول ما تدعو إليه عبادة الله عز وجل فإذا عرفوا الله فأخبرهم أن الله فرض عليهم خمس صلوات في يومهم وليلتهم فإذا فعلوا فأخبرهم أن الله قد فرض عليهم زكاة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم فإن أطاعوا بها فخذ منهم وتوق كرائم أموالهم.
  4. Rumusan, “Baginya atasmu perbuatan ini,” seperti firman Allah (Al Imran: 97), ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا .
  5. Rumusan predikat yang menempatkan perbuatan yang diperintahkan sebagai perbuatan sempurna yang sudah terjadi sebagai penegasan terhadap perintah atasnya, seperti firman Allah (al-Baqarah: 234), والذين يتوفون منكم ويذرون أزواجا يتربصن بأنفسهن اربعة أشهر وعشرا.
  6. Rumusan yang menyebutkan celaan atas tidak dilakukannya suatu perintah, seperti firman Allah (al-Baqarah: 279), فإن لم تفعلوا فأذنوا بحرب من الله ورسوله.
  7. Penyebutan tidak dilakukannya suatu perbuatan sebagai pelanggaran, seperti firman Allah (al-Hujurat: 11), ومن لم يتب فأولئك هم  الظالمون, dan sabda Nabi saw (Muttafaq ‘alayh), شر الطعام طعام الوليمة يدعى لها الأغنياء ويترك الفقراء ومن ترك الدعوة فقد عصى الله ورسوله.
  8. Sesuatu yang jika tidak dilakukan maka suatu perintah dianggap belum dilaksanakan, seperti sabda Nabi saw (Muttafaq ‘Alayh), لا صلاة لمن لم يقرأ بقاتحة الكتاب.

 

Masalah

  1. Perbuatan Nabi saw.

Jika ada perbuatan Nabi saw yang menjadi penjelasan (tafsir) bagi kewajiban yang bersifat global (mujmal), seperti sabdanya (HR. Al-Bukhari), صلوا كما رأيتموني أصلي, dan sabdanya (HR. Muslim), لتأخذوا مناسككم, apakah perbuatan Nabi saw dalam salat dan haji itu menjadi wajib?

Jawabannya tidak. Mayoritas ulama berpendapat bahwa penjelasan dengan perbuatan itu terjadi atas perbuatan yang wajib seperti ruku dan sujud dalam salat, juga atas perbuatan yang mandub seperti mengangkat tangan dan merapatkan kaki; maka, sekadar adanya perbuatan Nabi saw tidak mengubah yang mandub menjadi wajib.

Jika pertanyaan tersebut dijawab ya, maka perbuatan-perbuatan mandub bagi Nabi saw akan berubah menjadi wajib bagi umatnya berdasarkan perbuatan beliau. Hal ini tidak mungkin. Sebab, sudah jelas bahwa taklif atas Nabi saw lebih tegas daripada atas umatnya. Jadi, tidak dapat dikatakan bahwa perbuatan Nabi saw yang menjadi penjelasan bagi perbuatan yang wajib, maka semua bagian dari perbuatan beliau menjadi kewajiban atas umatnya. Kewajiban perbuatan itu atas umat disimpulkan bukan dari perbuatan tersebut. Dan, hukum syariat yang berkaitan dengan mengikuti perbuatan Nabi saw tertentu tidak berubah, yakni wajib atas perbuatan yang wajib, dan mandub atas perbuatan yang mandub.

 

  1. Fardu sama dengan wajib.

Menurut Jumhur Ulama, fardu sama dengan wajib. Jadi, jika mereka mengatakan, “Puasa Ramadan itu wajib,” ini sama dengan mengatakan, “Puasa Ramadan itu fardu.”

Tapi, para ulama Hanafiyyah berbeda pendapat. Mereka membedakan fardu dengan wajib. Perbedaannya bukan dari definisi terdahulu, tapi dari segi dalil yang menunjukkannya. Menurut mereka, perbuatan yang ditetapkan dengan dalil yang dipastikan asalnya dari Allah dan Rasul, yaitu al-Quran dan hadith mutawatir, adalah fardu; sedangkan yang ditetapkan dengan dalil yang tidak dipastikan asalnya dari Allah dan Rasul, seperti hadith ahad yang sahih, adalah wajib. Jadi, dengan pertimbangan ini kepastian wajib lebih rendah daripada fardu.

Pendapat jumhur lebih sahih dan lebih kuat karena kuatnya pendapat yang menyatakan kewajiban beramal dengan berlandaskan hadith ahad yang sahih sebagaimana akan dibahas pada bahasan “Sunnah sebagai Dalil Hukum.”

 

  1. Kaidah, “Ma la yatimmu al-wajib illa bihi fahuwa wajib—Jika terlaksananya suatu kewajiban harus disertai dengan adanya sesuatu, maka sesuatu itu juga wajib.”

Pengantar terlaksananya suatu kewajiban, atau hal-hal yang kepadanya tergantung pelaksanaan suatu kewajiban, ada tiga macam:

Pertama, berada di luar kuasa manusia. Misalnya, tergelincirnya matahari adalah pengantar untuk mengerjakan salat Zuhur. Salat zuhur tidak dapat dilaksanakan tanpanya, tapi ia berada di luar kuasa manusia. Jadi, ia tidak termasuk di dalam kaidah tersebut.

Kedua, berada dalam kuasa manusia, tapi tidak diperintahkan untuk diraih. Contoh, mencapai nisab untuk wajibnya zakat dan mencapai kemampuan untuk wajibnya haji. Kedua hal ini termasuk dalam kuasa manusia, tapi hal ini tidak diwajibkan atas manusia. Jadi, hal ini juga tidak termasuk dalam kaidah tersebut.

Ketiga, berada dalam kuasa manusia dan diperintahkan untuk diraih. Misalnya, bersuci untuk salat dan bersegera untuk salat Jumat. Keduanya wajib dilakukan dan yang dimaksud oleh kaidah.

 

  1. Makna kata wajib dalam teks al-Kitab dan Sunnah tidak sama dengan makna wajib dalam istilah Usul Fiqh.

Kata wajib yang ada di dalam teks-teks al-Kitab dan Sunnah tidak bermakna wajib dalam istilah Usul Fiqh. Karena itu, salah mendalilkan wajibnya mandi sebelum Salat Jumat dengan sabda Nabi saw (Muttafaq ‘Alayh), غسل يوم الجمعة واجب على كل محتلم. Dalil-dalil yang ada menjelaskan bahwa hukum mandi Jumat bukan fardu, melainkan sunnah mu’akkad.

 

Jenis-Jenis Wajib

Wajib memiliki beberapa jenis berdasarkan beberapa pertimbangan.

  1. Berdasarkan waktu pelaksanaannya.
    1. Wajib mutlaq atau muwassa‘ (leluasa), yaitu perbuatan wajib yang pelaksanaannya dituntut syariat tanpa pembatasan dengan waktu tertentu. Misalnya, qada puasa Ramadan. Allah berfirman (al-Baqarah: 184), فعدة من أيام أخر. Qada puasa Ramadan leluasa dilakukan setelah Ramadan, tidak mesti disegerakan dan tidak berdosa jika diakhirkan, meskipun bersegera lebih baik karena itu akan membebaskan tanggungan dan dikhawatirkan ada penghalang untuk mengqada.
    2. Wajib muqayyad atau mudayyaq (sempit), yaitu perbuatan wajib yang pelaksanaannya dituntut syariat dengan pembatasan waktu tertentu. Misalnya, puasa pada bulan Ramadan. Allah berfirman (al-Baqarah: 185), فمن شهد منكم الشهر فليصمه. Tanggungan atas kewajiban ini tidak tertunaikan kecuali dengan melaksanakannya pada waktu yang telah ditentukan.
  2. Berdasarkan ukurannya.
    1. Wajib muqaddar atau muhaddad (terukur), yaitu perbuatan wajib yang diberi ukuran tertentu oleh Allah. Misalnya, nisab-nisab zakat.
    2. Wajib ghayr muhaddad (tidak terukur), yaitu perbuatan wajib yang tidak diberi ukuran tertentu oleh Allah. Misalnya, nafkah suami bagi istri dan tolong menolong dalam kebaikan. Ukuran perbuatan ini ditetapkan oleh kondisi dan kemampuan masing-masing orang, kebiasaan, atau keputusan hakim.
  3. Berdasarkan kepastian perbuatannya.
    1. Wajib mu‘ayyan (ditentukan), yaitu perbuatan tertentu yang harus dilakukan oleh manusia tanpa ada pilihan lain. Misalnya, puasa Ramadan. Manusia tidak memiliki pilihan antara mengerjakan atau tidak. Dia pasti harus berpuasa tanpa ada alternatif jika dia mampu melaksanakannya.
    2. Wajib ghayr mu‘ayyan (tidak ditentukan), yaitu perbuatan yang harus dilakukan manusia, tapi dengan pilihan antara beberapa jenis perbuatan, dan kewajiban itu gugur dengan mengerjakan salah satunya. Misalnya, menebus janji adalah wajib, tapi dapat dilakukan dengan salah satu dari tiga hal, yaitu memberi makan 10 orang miskin, memberi mereka pakaian, atau membebaskan satu orang budak.
  4. Berdasarkan orang yang harus mengerjakan.
    1. Wajib ‘ayni (fardu ain), yaitu perbuatan wajib yang harus dikerjakan oleh semua manusia dan pelaksanaan sebagian orang tidak menggugurkan tuntutan atas orang lain. Misalnya, salat, haji, silaturahim.
    2. Wajib kifa’i (fardu kifayah), yaitu perbuatan wajib yang dituntut Allah kepada sekelompok manusia dan jika sebagian dari mereka telah melakukannya, maka tanggungan sebagian yang lain telah gugur. Misalnya, jihad, amar makruf nahi munkar, dan memenuhi faktor-faktor krusial untuk menjaga lima tujuan utama syariat (melindungi agama, jiwa, harta, kehormatan, dan akal), seperti adanya orang yang mendalami bidang-bidang ilmu tertentu. Jika semua orang sepakat tidak mau mengerjakan kewajiban ini, mereka semua berdosa dan tanggungan mereka tidak terbebaskan sampai ada orang yang mewujudkan kadar yang mencukupi bagi orang lain.

 

 

  1. Mandub

Definisinya: sesuatu yang dituntut oleh Allah untuk dikerjakan dengan tuntutan yang tidak kuat, yang jika dikerjakan maka berimplikasi pujian dan pahala, tapi jika ditinggalkan maka tidak berimplikasi celaan dan siksa.

 

Rumusannya

  1. Semua rumusan perintah yang disertai bukti bahwa perintah itu tidak ditekankan. Semua rumusan perintah pada dasarnya menunjukkan wajib. Tapi, jika ada bukti yang menunjukkan bahwa perintah itu hanya anjuran, maka indikasi wajib tersebut dialihkan kepada anjuran. Misalnya, firman Allah (al-Baqarah: 282), يا أيها الذين آمنوا إذا تداينتم بدين إلى أجل مسمى فاكتبوه. Kata فاكتبوه adalah perintah yang indikasi dasarnya adalah wajib. Tapi, hukum dalam ayat ini berkaitan dengan hak manusia. Jika mereka merasa tidak perlu menulis hutang piutan di antara mereka karena saling percaya dan bersedia menanggung bila terjadi kerugian, maka tidak mengapa. Karena itu, dalam ayat berikutnya (al-Baqarah: 283) diterangkan, فإن أمن بعضكم بعضا فليؤد الذي اؤتمن أمانته. Jadi, perintah untuk menulis hutang piutang adalah anjuran dan bimbingan demi kebaikan mereka.
  2. Semua rumusan predikatif yang mengandung motivasi tapi tidak dapat di-takwil kepada perintah, seperti rumusan, “Orang yang mengerjakan ini, maka baginya pahala ini,” atau, “Orang yang melakukan salat ini, maka baginya pahala ini.”
  3. Semua perbuatan Nabi saw yang ditujukan sebagai penetapan syariat sebagaimana akan dijelaskan dalam “Sunnah sebagai Dalil Penetapan Syariat” seperti salat Rawatib dan puasa sunnah.

 

Sebutannya

  1. Sunnah.
  2. Nafilah.
  3. Mustahab.
  4. Tatawwu‘.
  5. Fadilah.

Ada ulama yang menyebut mandub jika faidahnya ukhrawi dan irshad jika faidahnya dunyawi.

 

Tingkatannya

  1. Sunnah mu’akkadah, yaitu perbuatan yang selalu dikerjakan Nabi saw dan terkadang diiringi dengan anjuran secara verbal. Misalnya, salat sunnah 2 rakaat sebelum Subuh. Rasulullah saw bersabda (HR. Muslim), ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها.
  2. Sunnah ghayr mu’akkadah, yaitu perbuatan yang tidak selalu dikerjakan oleh Rasulullah saw. Misalnya, puasa sunnah, salat sunnah 4 rakaat sebelum Asar, dan umrah Ramadan.
  3. Fadilah dan adab, atau sunnah zawa’id (tambahan) dan sunnah ‘adah (kebiasaan), yaitu perbuatan-perbuatan Nabi saw di luar masalah ibadah, seperti tata cara makan, minum, berpakaian, berjalan, berkendaraan, dll. Mengikuti hal ini adalah fadilah, yaitu upaya menyerupai Nabi saw. Perbuatan ini terpuji selama tidak bertentangan dengan kepentingan yang lebih kuat. Perbuatan ini terjadi sesuai dengan kondisi kemanusiaan Nabi saw atau mengiringi kebiasaan yang tidak bertentangan dengan agama. Sunnah dalam hal ini adalah orang mengikuti kondisi pribadinya atau mengikuti kebiasaan masyarakatnya selama tidak bertentangan dengan syariat. Tapi, dalam sunnah ‘adah ini ada juga yang tidak termasuk dalam kondisi kemanusiaan Nabi saw atau kebiasaan masyarakatnya. Misalnya, yang beliau terangkan dalam sabdanya, لا آكل متكئا, atau sabdanya (HR. Ahmad), آكل كما يأكل العبد وأجلس كما يجلس العبد. Kedua hadith ini menunjukkan prinsip tawadu.

 

Mandub adalah pilihan demi kepentingan pelakunya.

Perbuatan-perbuatan sunnah adalah rahmat Allah bagi manusia yang dapat membawa mereka ke derajat kemuliaan yang tinggi. Rasul saw bersabda dalam hadith Qudsi, لا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه. Ia juga dapat menjadi pengganti dan penambal kekurangan yang terjadi dalam pelaksanaan perbuatan fardu, seperti dalam sabda Nabi saw, إن أول ما يحاسب الناس به يوم القيامة من أعمالهم الصلاة ، قال : يقول ربنا جل وعز لملائكته وهو أعلم : انظروا في صلاة عبدي أتمها أم نقصها ، فإن كانت تامة كتبت له تامة وإن كان انتقص منها شيئا قال انظروا هل لعبدي من تطوع ؟ فإن كان له تطوع قال أتموا لعبدي فريضته من تطوعه ثم تؤخذ الأعمال على ذاكم.

 

Masalah

Ulama mazhab Hanafiyyah dan Malikiyyah berpendapat bahwa orang yang sudah memulai perbuatan sunnah, maka perbuatan itu menjadi wajib atasnya begitu dia mulai. Dia tidak boleh membatalkan atau meninggalkannya. Jika dia meninggalkannya, menurut Hanafiyyah dia wajib mengqada,; dan menurut Malikiyyah dia wajib mengqada jika meninggalkannya tanpa uzur. Dalilnya adalah firman Allah (Muhammad 33), يا أيها الذين أمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول ولا تبطلوا أعمالكم.

Menurut pendapat al-Shafi‘i, Ahmad, dan Sufyan al-Thawri, perbuatan sunnah tetap sunnah ketika dan setelah dikerjakan. Orang tidak perlu mengqadha jika membatalkan atau meninggalkannya. Jika dia meninggalkannya, dia boleh memilih antara mengqada atau tidak. Ayat tersebut tidak berkaitan dengan perbuatan sunnah, melainkan tentang pembatalan kebaikan dengan melakukan keburukan atau riya.

 

  1. Haram

Definisinya: sesuatu yang dituntut oleh Allah untuk tidak dikerjakan dengan tuntutan yang kuat, yang jika tidak dikerjakan dalam konteks kepatuhan, maka yang meninggalkannya diberi pahala, dan jika dikerjakan karena kesengajaan, maka pelakunya mendapat siksa.

Nama lainnya adalah al-mahzur (yang dilarang).

 

Rumusannya:

  1. Ada kata pengharaman yang jelas. Misalnya, firman Allah (al-Baqarah: 275), وأحل الله البيع وحرم الربا.
  2. Penegasian kehalalan. Misalnya, firman Allah (al-Baqarah: 230), فإن طلقها فلا تحل له من بعد حتى تنكح زوجا غيره.
  3. Rumusan larangan.
    1. Lafal larangan. Misalnya, firman Allah (al-Nahl: 90), وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي.
    2. Lafal perintah untuk berhenti. Misalnya, firman Allah (al-Nisa: 171), ولا تقولوا ثلاثة انتهوا خيرا لكم.
    3. Fi‘l mudari‘ yang diawali dengan la al-nahiyah. Misalnya, firman Allah (al-Isra’: 32), ولا تقربوا الزنا.
    4. Rumusan la yanbaghi (tidak sepantasnya). Misalnya, sabda Nabi saw tentang sutra (Muttafaq ‘alayh), لا ينبغي هذا للمتقين.
    5. Rumusan perintah untuk meninggalkan tidak dengan rumusan larangan yang tegas. Misalnya, firman Allah (al-Ma’idah: 90), إنما الخمر والميسر والأنصاب والأزلام رجس من عمل الشيطان فاجتنبوه.
  4. Yang pelakunya diancam dengan hukuman duniawi atau ukhrawi.
    1. Hukuman hadd. Misalnya, firman Allah (al-Ma’idah: 38), والسارق والسلرقة فاقطعوا أيديهما.
    2. Ancaman siksa. Misalnya, firman Allah (al-Baqarah: 278-279), يا أيها الذين أمنوا اتقوا الله وذروا ما بقي من الربا إن كنتم مؤمنين . فإن لم تفعلوا فأذنوا بحرب من الله ورسوله. Juga firman Allah (al-Nisa: 10), إن الذين يأكلون أموال اليتامى ظلما إنما يأكلون فى بطونهم نارا وسيصلون سعيرا.
    3. Perbuatan yang berimplikasi kutukan.
    4. Menggambarkan sebuah perbuatan sebagai dosa.
    5. Menggambarkan sebuah perbuatan sebagai pelanggaran.
    6. Menyerupakan sebuah perbuatan sebagai perbuatan binatang, setan, orang kafir, orang yang merugi, atau yang seperti itu.
    7. Menyebut sebuah perbuatan dengan perbuatan lain yang sudah jelas keharamannya.

 

Jenis-jenisnya

Syariat Islam mengharamkan sesuatu dikarenakan sesuatu itu benar-benar—atau kemungkinan besar—merusak. Kerusakan (mafsadah) pada sesuatu yang diharamkan bisa ada pada sesuatu yang diharamkan itu atau sesuatu yang diharamkan itu menjadi penyebab bagi kerusakan. Karena itu, keharaman ada dua macam:

  1. Haram karena dirinya sendiri. Misalnya, syirik, zina, pencurian, dan memakan babi. Semua ini diharamkan karena dirinya sendiri. Kerusakannya jelas. Jika dikerjakan, pelakunya mendapat dosa dan siksa, dan tidak dapat menjadi penyebab legal untuk tetapnya hukum tertentu. Zina tidak menetapkan nasab. Pencurian tidak menetapkan kepemilikan atas barang curian.
  2. Haram karena selainnya. Pada dasarnya ia mubah atau dibolehkan karena tidak mengandung kerusakan, tapi pada kondisi tertentu dia kemungkinan besar menyebabkan kerusakan. Maka, pada kondisi itu, dia haram. Misalnya, jual beli. Perbuatan ini dibolehkan. Tapi, dia haram ketika azan Salat Jumat sudah berkumandang, karena dapat menyebabkan tertinggal Salat Jumat. Contoh lain, meminang wanita. Perbuatan ini juga dibolehkan. Tapi, haram jika seseorang tahu bahwa wanita itu telah dipinang orang lain.

 

Makruh (Sabtu, 04 Agustus 2012)

Hari ini aku ingin membaca buku berjudul Usul al-Fiqh al-Ladhi La Yasa‘ al-Faqih Jahluh, ‘Iyad bin Nami al-Salami, tidak tercatat penerbit dan tahun terbitnya.

Yang pertama kubaca adalah penjelasannya tentang pengertian makruh.

Dia menjelaskan sebagai berikut:

Makruh secara etimologis berarti al-mubghad, yaitu sesuatu yang dibenci.

Menurut shara‘, makruh berarti al-muharram, yaitu sesuatu yang diharamkan. Sebab, di dalam al-Quran Surah al-Isra ayat 38 Allah menyebutkan beberapa perbuatan yang diharamkan, lalu berfirman, “Kullu dhalika kana sayyi’uhu ‘inda rabbika makruha.” Artinya, “Kejelekan-kejelekan dari semua perbuatan itu makruh (dibenci) oleh Allah.”

Selain itu, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah …., dan membenci adu domba, banyak bertanya, dan menghambur-hamburkan harta” (Hadith al-Mughirah bin Shu‘bah, diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim). Perbuatan-perbuatan yang disebutkan dalam hadith tersebut—yang diterangkan sebagai perbuatan yang dibenci Allah—adalah perbuatan-perbuatan yang haram dilakukan.

Sedangkan di dalam terminologi mayoritas ahli Usul Fiqh dan fuqaha, makruh berarti, “Sesuatu yang dilarang oleh syariat dengan pelarangan yang tidak tegas (ghayr jazim).” Atau, “Sesuatu yang jika tidak dilakukan seseorang, maka orang itu diberi pahala; sedangkan jika dilakukan, maka pelakunya tidak diberi sanksi.” Contoh, berjalan dengan menggunakan sepatu sebelah saja, tidak sepasang; memberi atau menerima sesuatu dengan tangan kiri.

Para ulama mazhab Hanafiyyah memerinci makruh menjadi dua macam.

Pertama, makruh tahrim, yaitu sesuatu yang dilarang syariat dengan larangan yang pasti, tapi dengan dalil yang bersifat zanni (dalil yang tidak pasti kemunculannya dari Allah atau Rasul-Nya). Contoh, memakan daging binatang yang bertaring atau burung yang bercakar tajam.

Kedua, makruh tanzih, yaitu sesuatu yang dilarang syariat dengan larangan yang tidak pasti. Ini sama dengan pengertian makruh menurut mayoritas ulama.

Sesuatu termasuk berhukum makruh tanzih dapat diketahui dengan beberapa hal. Di antaranya:

  1. Ada larangan atasnya tapi ada juga qarinah yang menunjukkan orang yang mengerjakannya tidak disanksi. Contoh, berjalan dengan memakai sepatu sebelah. Larangan ini hanya bersifat pendidikan tata krama, yakni agar orang menjaga muruahnya.
  2. Jika perbuatan itu dilakukan, maka pelakunya terhalang dari fadilah. Contoh, makan bawang putih atau bawang merah. Orang yang baru saja memakannya dilarang masuk masjid.

(Usul al-Fiqh al-Ladhi La Yasa‘ al-Faqih Jahluh, ‘Iyad bin Nami al-Salami, h. 51-52).

 

SUMBER HUKUM

Ahmad Fadhil

 

Teks sebagai Poros Budaya Umat Islam

Umat Islam telah menjadikan teks sebagai poros budaya, yakni sebagai kriteria penilaian, pijakan, dan rujukan. Dengan berporos pada teks, umat Islam telah melahirkan banyak ilmu, seperti Ilmu Fiqh, Usul Fiqh, Nahwu, Sarf, Balaghah, dan Kaligrafi.[1] Selain itu, keberadaan teks mencuatkan masalah validasi (tawthiq). Apakah teks yang ada ini adalah teks yang diucapkan oleh Rasulullah saw? Untuk menjawab pertanyaan ini, umat Islam telah menciptakan sekitar 20 ilmu, di antaranya Ilmu Rijal, Ilmu Sanad, Ilmu Jarh wa al-Ta‘dil, Ilmu Mustalah Hadith.[2]

Tidak ada kitab suci di dunia yang memiliki banyak sanad bersambung seperti al-Quran, yang semua perawinya—ulama ahli Qiraah—mengatakan, “Aku mendengar ucapan ini huruf demi huruf dalam tulisan dengan bentuk seperti yang ada di depan kita dari guruku yang lahir pada hari ini dan wafat pada tahun ini namanya adalah ini dan kebiasaannya adalah ini, ini, ini.” Lalu, guru itu juga mengatakan bahwa dia mendengar ucapan itu dari guru yang lain dengan penggambaran yang sama.

Di dalam sanad itu tidak ada orang yang tidak kita kenal. Sejarah hidup mereka semua termaktub dalam file Ilmu Qiraah. Bahkan, transmisi itu bukan berasal dari satu orang yang mungkin berdusta dan mungkin salah, bahkan bukan dari seribu orang, melainkan dari ribuan orang. Ibnu al-Juzuri menulis buku al-Nashr fi al-Qira’at al-‘Ashr yang menyebutkan seribu sanad al-Quran. Seribu orang yang menyampaikan bacaan al-Quran kepada Ibnu al-Juzuri, dan masing-masing orang dari seribu orang itu menerima dari 1000 orang guru lagi. Dan seterusnya. Ini baru satu buku. Dan, masalah perhatian terhadap validasi ini di dalam tradisi keilmuan Islam lebih hebat daripada yang paparan ini.[3]

Ibnu Hazm di dalam Kitab al-Fisal fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa al-Nihal mengatakan bahwa Taurat hanya memiliki satu sanad saja. Orang terakhir di dalam sanad ini berjarak 1000 tahun atau lebih dengan Nabi Musa. Teks asli Injil tidak ada. Yang ada adalah terjemahnya dalam Bahasa Yunani. Siapa penerjemahnya ke dalam Bahasa Yunani? Kita tidak tahu. Bagaimana sanad hingga ke terjemahan tersebut? Kita tidak tahu juga.[4]

Masalah validasi sanad dalam tradisi Islam mencapai kondisi di mana al-Bukhari pergi untuk mencari suatu hadith, lalu dia pergi kepada seseorang untuk menjelaskan riwayatnya. Al-Bukhari menemui orang itu ketika orang itu sedang memegang rumput untuk menarik perhatian binatangnya. Ketika binatang itu menghampiri, orang itu menangkapnya, lalu melemparkan rumput tersebut. Al-Bukhari meninggalkan orang itu tanpa berkata sepatah pun, selain, “Engkau telah berdusta kepada binatang itu.” Al-Bukhari lalu tidak mempercayai orang itu untuk meriwayatkan hadith. Al-Bukhari teringat pada sebuah riwayat bahwa Nabi saw melihat seorang wanita ingin memegang anaknya. Wanita itu menyodorkan korma. Ketika sudah memegang anaknya, wanita itu tidak memberikan korma itu kepada anaknya. Nabi saw pun bersabda, “Jika engkau lakukan itu, maka engkau telah berdusta”.[5]

 

Al-Quran dan Ulum al-Quran

Apakah ‘Ulum al-Quran itu?

Muhammad Baqir al-Sadr (al-Madrasah al-Qur’aniyyah, Qum: Markaz al-Abhath wa al-Dirasat al-Takhassusiyyah li al-Shahid al-Sadr, cet. III, 1426 H., h. 211-213) mengatakan:

‘Ulum al-Quran (ilmu-ilmu al-Quran) adalah semua pengetahuan dan kajian yang berkaitan dengan al-Quran. Ilmu-ilmu berbeda satu dengan lainnya dikarenakan perbedaan aspek al-Quran yang dikajinya.

Baqir al-Sadr menjelaskan bahwa al-Quran dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang dan masing-masing sudut pandang ini menjadi objek bagi kajian yang khusus.

Salah satu sudut pandang yang terpenting adalah al-Quran sebagai ucapan yang menunjukkan makna. Dengan karakter ini al-Quran menjadi objek bagi Ilmu Tafsir.

Ilmu Tafsir mencakup kajian terhadap al-Quran sebagai ucapan yang memiliki makna, lalu makna-maknanya dijelaskan, keterangan tentang pengertian-pengertian dan tujuan-tujuannya disampaikan secara detail.

Karena itu, Ilmu Tafsir adalah satu di antara ‘Ulum al-Quran yang paling penting dan menjadi asas bagi yang selainnya.

Al-Quran juga dapat ditinjau sebagai salah satu sumber penetapan hukum. Dengan sudut pandang ini, al-Quran menjadi objek bagi Ilmu Ayat-Ayat Hukum, yaitu sebuah ilmu yang khusus mengkaji ayat-ayat hukum di dalam al-Quran dan meneliti jenis hukum yang mungkin ditarik setelah dikomparasikan dengan semua dalil shar’i lainnya, yaitu Sunnah, Ijma, dan Akal.

Al-Quran dapat juga dipelajari sebagai indikator kenabian Nabi Muhammad saw. Dengan demikian, al-Quran menjadi objek Ilmu I‘jaz al-Quran, yaitu ilmu yang menerangkan bahwa al-Quran adalah wahyu ilahi yang dibuktikan dengan atribut dan karakteristik yang membedakannya dari ucapan manusia.

Lalu, al-Quran dapat dipelajari sebagai teks berbahasa Arab yang mengikuti aturan Bahasa Arab sehingga menjadi objek Ilmu I‘rab al-Quran dan Ilmu Balaghah al-Quran. Kedua ilmu ini menerangkan keselarasan teks al-Quran dengan kaidah-kaidah bahasa Arab dalam hal nahwu dan balaghah.

Al-Quran dapat dikaji dalam aspek keterkaitannya dengan peristiwa-peristiwa tertentu pada masa Nabi saw sehingga menjadi objek Ilmu Asbab al-Nuzul.

Al-Quran dapat dipelajari dengan memperhatikan lafalnya yang tertulis sehingga menjadi objek Ilmu Rasm al-Quran, ilmu yang mengkaji tulisan dan cara penulisan al-Quran.

Al-Quran dapat juga dipelajari sebagai ucapan yang dibaca sehingga menjadi objek Ilmu Qiraah, ilmu yang mengkaji penetapan huruf dan harakat kata-kata al-Quran dan cara membacanya.

Serta ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan al-Quran.

Baqir al-Sadr menegaskan, “Semua ilmu itu sama-sama mengambil al-Quran sebagai objek kajian dan berbeda hanya dalam aspek dari al-Quran yang diperhatikannya.”

Apakah penganut mazhab Shi‘ah meyakini al-Quran telah berubah?

Tidak. ‘Abd al-Hadi al-Fadli mengatakan, “Al-Kitab al-mutadawal bayna aydina huwa al-qur’an al-karim kama nuzila bi ma‘anih wa alfazih wa uslubih lam yazid ‘alayhi shay’ wa lam yanqus minhu shay’ li thubuti dhalika bi al-naql wa al-tawatur.[6]

 

Sunnah

Sunnah adalah implementasi praktis Islam oleh Nabi Muhammad saw.[7]

Sunnah dalam pengertian Shi‘ah adalah perkataan, perbuatan, dan ketetapan orang yang maksum. Orang yang maksum adalah orang yang kemaksumannya ditetapkan oleh bukti yang nyata (al-burhan). Mereka adalah Nabi saw dan 12 imam dari keturunannya yang kemaksumannya ditetapkan oleh bukti yang nyata.[8]

Al-Fadli mengatakan nilai berargumentasi dengan sunnah yang berasal dari para imam dari kalangan Ahlul Bayt tergantung kepada tetapnya keimaman dan kemaksuman mereka, serta berfungsinya mereka seperti fungsi Nabi saw setelah dia wafat dalam tugas menyampaikan hukum-hukum al-waqi‘iyyah. Ketetapan ini dibuktikan secara jelas di dalam buku-buku Ilmu Kalam.[9]

Al-Fadli mengatakan bahwa jenis kajian terhadap al-Quran maupun hadith untuk menemukan hukum-hukum syariat Islam di dalamnya adalah sama. Sebab, baik al-Quran maupun hadits sama-sama teks verbal dan hanya berbeda dari segi sumbernya saja. Sumber al-Quran adalah Allah, sedangkan sumber hadith adalah para imam maksum. Kajian terhadap teks verbal terbagi menjadi dua jenis, yaitu kajian terhadap sanad (jalur hadith secara keseluruhan, bukannya satu per satu para perawi hadith secara terperinci. Yang mengkaji satu per satu perawi hadith adalah Ilmu Rijal Hadith[10] yang bertujuan mengetahui keabsahan atau kesalahan penisbahan teks kepada pengucapnya, dan kajian terhadap matan yang bertujuan mengetahui kandungan atau isi teks.[11]

Keyakinan bahwa al-Quran berasal dari Allah adalah salah satu keyakinan mendasar dalam agama. Tidak ada seorang muslim pun yang meragukannya. Karena itu, kajian terhadap sanad al-Quran sudah selesai. Tapi, kebenaran penisbahan hadith kepada para imam bukan kepastian dikarenakan berbagai peristiwa dan situasi yang melingkupi dan menyertainya. Kebohongan, mengada-ada, mengganti, dan mengubah hadith baik dengan motif keagamaan, politik, sosial, maupun alamiah sangat mungkin terjadi dengan tujuan menguatkan mazhab tertentu, membenarkan kebijakan politis penguasa tertentu, mengambil keuntungan duniawi, atau karena lupa, samar-samar, salah paham, dan yang seperti itu. Karena itu, kajian terhadap sanad Sunnah, atau kajian tentang jalur-jalur Sunnah, sangat penting.[12]

Dari segi jalur periwayatan atau penisbahan hadith kepada orang yang maksum, hadith terbagi dua. Satu, hadith yang pasti berasal dari maksum atau hadith yang jalur periwayatannya menunjukkan kepastian kemunculannya dari maksum. Dua, hadith yang tidak pasti berasal dari maksum atau hadith yang jalur periwayatannya tidak menunjukkan kepastian kemunculannya dari maksum. Hadith jenis kedua ini disebut juga dengan istilah khabar al-wahid.[13]

Kapan Ilmu Usul Fiqh melakukan kajian terhadap sanad hadith dan kapan kajian ini menjadi tugas Ilmu Hadith dan Ilmu Rijal?

Al-Fadli mengatakan bahwa kajian terhadap sanad pertama-tama dilakukan oleh Ilmu Rijal. Ilmu ini mengenalkan perawi yang terpercaya (mawthuq) dan yang tidak terpercaya (ghayr mawthuq). Setelah itu, Ilmu Hadith. Ilmu ini mengenalkan riwayat yang dapat dijadikan pegangan (mu‘tabar) dan yang tidak dapat dijadikan pegangan (ghayr mu‘tabar) berdasarkan keterangan tentang penilaian terhadap para pembawa sanadnya yang diberikan oleh para ahli Ilmu Rijal. Setelah itu, barulah Ilmu Usul Fiqh mengenalkan nilai berargumentasi dengan riwayat tersebut.[14]

Di manakan posisi hadith sahih dalam pandangan mazhab Shi‘ah?

Dari segi kepastian kemunculan dari orang yang maksum, hadith terbagi dua, yaitu hadith yang pasti berasal dari maksum dan hadith yang tidak pasti berasal dari maksum. Hadith yang pasti berasal dari maksum ada dua macam, yaitu khabar mutawatir dan khabar yang tidak mutawatir tapi disertai sesuatu yang mengindikasikan kepastian kemunculannya dari maksum.[15]

Hadith yang tidak pasti kemunculannya dari maksum atau khabar wahid terbagi menjadi dua macam. Satu, musnad, yaitu khabar yang sanadnya memuat semua nama perawinya mulai dari orang yang merawikan dari maksum sampai orang yang merawikan kepada kita. Dua, mursal, yaitu khabar yang sanadnya tidak memuat semua nama perawinya.[16]

Khabar musnad terbagi dua macam. Satu, mu‘tabar, yaitu semua khabar musnad yang dapat dipercaya kemunculannya dari maksum. Dua, ghayr mu‘tabar, yaitu semua khabar musnad yang tidak dapat dipercaya kemunculannya dari maksum.

Khabar mu‘tabar terbagi empat macam.

Satu, sahih, yaitu hadith yang semua perawinya adalah penganut mazhab Shi‘ah Ithna ‘Ashariyyah yang adil. Dua, muwaththaq, yaitu hadith yang semua perawinya adalah orang-orang Islam (bukan penganut mazhab Shi‘ah Ithna ‘Ashariyyah, AF) yang dapat dipercaya atau hadith yang sebagian perawinya adalah orang-orang Islam yang dapat dipercaya dan sebagian lagi adalah penganut mazhab Shi‘ah Ithna ‘Ashariyyah.

Tiga, hasan, yaitu hadith yang semua perawinya adalah orang-orang yang terpuji di kalangan para ahli Ilmu Rijal; atau orang-orang yang adil, terpercaya, dan terpuji; atau orang-orang yang terpercaya dan terpuji; atau orang-orang yang adil dan terpuji.

Empat, da‘if, yaitu hadith yang sebagian perawinya periwayatannya tidak dipercaya tapi kandungan riwayatnya diterima oleh para fuqaha.[17]

Setelah Rasul wafat, ada pelarangan penulisan hadith. Jika tidak ada, tentu banyak hadith mutawatir sampai kepada kita.[18]

Kaum Muslimin sepakat tentang kedudukan Sunnah sebagai sumber kedua penetapan hukum Islam. Tapi, apakah jalur dan cara sampainya Sunnah itu dari Rasul saw kepada kita terjamin sehingga kita dapat yakin bahwa yang kita terima adalah Sunnah Rasulullah saw atau telah terjadi “kerusakan” yang menuntut pengkajian dan pemeriksaan terhadapnya? Terjadinya penyusupan, pemalsuan, penyimpangan, perusakan baik dengan sengaja atau tidak adalah fakta yang tidak dapat diragukan. Tentang tema inilah telah terjadi pembahasan sengit di kalangan umat Islam.

Sebagian orang berpandangan kajian tentang masalah ini lebih baik ditutup dengan motif membenarkan apa pun yang terjadi dalam realitas sejarah umat Islam, untuk menghindarkan tuduhan terhadap sahabat, para ahli hadith, dan para penulis kitab hadith, serta karena mereka mengetahui sensitifitas jawaban terhadap pertanyaan kontroversial yang mungkin diajukan dalam membahas masalah ini, seperti pertanyaan tentang keabsahan hadith-hadith yang telah tertulis di berbagai kitab hadith. Mereka mengira bahwa bahwa mengkaji hal ini akan berakibat hilangnya jalan yang mengantarkan kita kepada Sunnah, lalu menanggalkan Sunnah sebagai sumber hukum Islam.[19]

Khabar wahid adalah hadith yang disampaikan oleh satu orang atau beberapa orang yang tidak mencapai batas mutawatir sehingga tidak memastikan kepastian dan keyakinan terhadap hadith tersebut. Menurut Mutahhari, para ahli Usul Fiqh berpandangan bahwa khabar wahid dapat dijadikan sandaran dengan syarat perawi-perawinya adil dan jujur. Dalilnya adalah QS al-Hujurat: 6. Mafhum ayat ini menunjukkan nilai argumentatif khabar wahid.[20]

Ilmu Dirayat adalah ilmu yang mengkaji matan, sanad, dan jalan-jalan hadith, baik yang sahih, sakit (saqim), atau cacat (‘alil), dan hal-hal yang diperlukan untuk mengetahui hadith yang diterima dan ditolak; atau ilmu yang mengkaji sanad dan matan hadith, serta cara menerima dan adab menyampaikannya; atau ilmu yang mengkaji kondisi-kondisi yang terjadi  pada hadith dari segi sanad atau matan.[21]

 

Penulisan atau Kodifikasi Sunnah

Ketika Islam datang buta huruf memang dominan di kalangan Arab. Artinya, kemampuan baca tulis tidak tersebar luas di kalangan Arab berbeda halnya dengan di kalangan Persia dan Romawi. Tapi, bukti-bukti sejarah menunjukkan jumlah orang Arab yang mampu baca tulis tidak sesedikit yang disebutkan oleh al-Baladhiri di dalam Futuh al-Buldan. Selanjutnya Islam membawa perubahan besar. Diriwayatkan bahwa jumlah orang yang belajar al-Quran kepada Abu al-Darda’ saja sekitar 1.600 orang. Setiap 10 orang diajar oleh satu orang dan Abu al-Darda’ membimbing mereka semua. Jadi, menurut Ma‘ruf al-Hasani, keterlambatan penulisan Sunnah bukan karena sedikitnya orang yang mampu membaca dan menulis seperti dikatakan sejumlah penulis baik Arab maupun orientalis.[22]

 


[1] Ibnu Muqlah adalah ahli kaligrafi penemu sistem segi enam dan lingkaran yang dapat memuat gambar semua aksara. Abu Hayyan di dalam Risalah al-Fadl mengatakan bahwa Allah telah mewahyukan segi enam aksara kepada Ibnu Muqlah sebagaimana Dia mewahyukan kepada lebah sistem segi enam rumahnya. Di dunia ini, kata Abu Hayyan, tidak ada aksara yang tunduk pada satu sistem seperti aksara Arab dan kaum muslimin menemukan sistem itu karena mereka telah mengabdi kepada teks dan menjadikannya poros budaya mereka. ‘Ali Jum‘ah Muhammad, al-Madkhal, Kairo: IIIT, cet. I, 1417 H./1996 M., h. 10.

[2] ‘Ali Jum‘ah Muhammad, al-Madkhal, Kairo: IIIT, cet. I, 1417 H./1996 M., h. 10.

[3] ‘Ali Jum‘ah Muhammad, al-Madkhal, Kairo: IIIT, cet. I, 1417 H./1996 M., h. 10.

[4] ‘Ali Jum‘ah Muhammad, al-Madkhal, Kairo: IIIT, cet. I, 1417 H./1996 M., h. 12.

[5] ‘Ali Jum‘ah Muhammad, al-Madkhal, Kairo: IIIT, cet. I, 1417 H./1996 M., h. 12.

[6] Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 22.

[7] Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin, Kairo: Maktabah Wahbah, cet. II, 1408 H./1988 M., h. 1.

[8] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 23.

[9] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 24.

[10] Ja‘far Subhani, Usul al-Hadith, h. 15.

[11] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 25.

[12] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 26.

[13] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 27-28.

[14] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 29.

[15] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 27.

[16] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 29.

[17] ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Mabadi’ Usul al-Fiqh, h. 30-31.

[18] Mustafa Qasir al-‘Amili, Kitab ‘Ali ‘Alayhi al-Salam wa al-Tadwin al-Mubakkir li al-Sunnah al-Nabawiyyah al-Sharifah wa yalihi Bahth Mujaz ‘an al-Jafr wa Mushaf Fatimah ‘Alayha al-Salam, Beirut: Dar al-Thiqlayn, cet. I, 1415 H./1995 M., Pengantar Penerbit.

[19] Mustafa Qasir al-‘Amili, Kitab ‘Ali, h. 6-7.

[20] Murtada Mutahhari, al-Usul, h. 40

[21] Ja‘far al-Subhani, Usul al-Hadith, h. 14

[22] Dirasat fi al-Hadith wa al-Muhaddithin, Hashim Ma‘ruf al-Hasani, Beirut: Dar al-Ta‘aruf li al-Matbu‘at, h. 17-19.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.