Tag

فسوف تعلمون من تكون له عاقبة الدار إنه لا يفلح الظالمون

“Kalian akan tahu siapa yang akan mendapat tempat terbaik di akhirat dan sesungguhnya orang-orang zalim itu tidak akan beruntung.” (QS. al-An’am: 135)


Kezaliman adalah kerusakan di dalam fitrah manusia, karena Allah SWT menciptakan fitrah manusia senantiasa cenderung kepada kebaikan dan menjauhi keburukan. Tapi, karena fitrah dapat menjadi lemah dikarenakan rusaknya pendidikan yang diterima seseorang, hawa nafsu, kepentingan, dan sebab-sebab yang lain, maka manusia tidak jarang menuju ke arah yang tidak benar dan bertentangan dengan fitrah, meskipun fitrah orang ini masih dapat menampakkan diri pada waktu-waktu tertentu.

Penyebab seseorang melakukan kezaliman:

1. Merasa ada kekurangan dan kelemahan di dalam diri.

Karena orang yang zalim tidak memiliki sifat-sifat yang baik, dan dia mengetahui hal ini, maka dia justru mengkompensasinya dengan melakukan perbuatan zalim. Karena itulah Allah tidak mungkin berbuat zalim, karena Dia Mahasempurna dalam segala aspek dan tidak membutuhkan apa pun. Karena itu, untuk apa Dia berbuat zalim.

Di dalam hadits diterangkan,

إنما يحتاج إلى الظلم الضعيف

Yang merasa perlu berbuat zalim hanyalah orang yang lemah.

2. Tidak dapat mengendalikan syahwat.

Allah hanya menciptakan yang baik-baik saja. Syahwat Dia berikan kepada manusia demi kebaikan manusia. Cinta pada diri sendiri membuat orang mau memperhatikan dan menjaga dirinya. Cinta pada harta membuat orang mau bekerja untuk memperolehnya. Cinta pada lawan jenis membuat orang dapat menjaga kelangsungan umat manusia. Dst.

Tapi, jika syahwat ini melewati batasannya, maka itu karena perbuatan manusia semata-mata dan itu akan menjadi penyebab kesengsaraannya. Orang yang tidak dapat mengendalikan syahwat boleh jadi akan berbuat zalim, merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain, menyusahkan orang lain, bahkan membunuh orang lain, karena dia menyangka hal itu akan memuaskan syahwatnya.

Allah SWT berfirman:

واتبع الذين ظلموا ما أترفوا فيه وكانوا مجرمين

“Dan orang-orang zalim hanya mementingkan kenikmatan dan kemewahan, dan mereka itu adalah orang-orang yang berdosa/pelaku kejahatan.” (Hud: 116)

3. Mempertahankan kekuasaan

Cinta pada kekuasaan adalah salah satu nafsu manusia yang paling berbahaya. Orang yang terkena penyakit cinta pada kekuasaan akan berusaha mempertahankan jabatan dan kedudukannya dengan berbagai cara, hingga dengan membunuh, memberangus suara orang lain, dan menelantarkan orang lain sekalipun karena dia menyangka bahwa hal ini akan melanggengkan kursinya. Padahal, keadilanlah yang melanggengkan seseorang pada kedudukan dan jabatannya, dan bukannya kezaliman.

Nabi saw bersabda:

إن الملك يبقى مع الكفر ولا يبقى مع الظلم

“Kekuasaan itu dapat langgeng sekalipun sang penguasa kafir kepada Allah, tapi tidak akan langgeng jika sang penguasa berbuat zalim.”

4. Mental jongos.

Maksudnya, seseorang berbuat zalim demi seseorang yang dituankannya. Seseorang yang bermental jongos akan berusaha menjaga kepentingan tuannya agar tetap bertahan sebagai tuan. Dia bersedia melakukan kezaliman dan kejahatan apa pun semata-mata agar tuannya memandang dirinya pantas menjadi jongos sang tuan.

Sifat orang zalim

Al-Quran menggambarkan secara sempurna sebab-sebab yang mendorong seseorang berbuat zalim di dalam banyak ayat dan memotivasi kita untuk menghindarinya. Secara ringkas sebab-sebab itu sebagai berikut:

1. Menentang dan berpaling dari ayat-ayat Allah.

وما يجحد بآياتنا إلا الظالمون

“Hanya orang-orang zalim yang mengingkari ayat-ayat Kami.” (al-Ankabut: 49)

Allah menyediakan ayat-ayat-Nya sebagai hidayah dan pengarah. Mengingkarinya berarti tidak mengamalkannya. Ini adalah pengantar menuju kezaliman, bahkan kezaliman itu sendiri.

2. Melanggar batasan-batasan Allah.

Maksudnya, tidak berkomitmen pada jalan yang benar sehingga pada waktu yang sama seseorang menyimpang dari jalan yang lurus dan terjebak di padang kesesatan.

Allah SWT berfirman:

تلك حدود الله فلا تعتدوها، ومن يتعد حدود الله فأولئك هم الظالمون

“Itulah batasan-batasan Allah, janganlah kalian melanggarnya. Orang-orang yang melanggar batasan-batasan Allah, mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 223)

Mereka menzalimi diri sendiri dengan menempatkan diri mereka dalam hidup yang serba sulit dan serba sempit, juga menzalimi orang lain dengan menimbulkan berbagai masalah di masyarakat.

3. Tidak menjadikan hukum Allah sebagai dasar dalam mengambil keputusan.

Perbedaan poin ini dengan poin sebelumnya, poin terdahulu dilakukan oleh masyarakat secara keseluruhan, sedangkan poin ini dilakukan oleh para penguasa. Kadang kala masyarakat ingin menerapkan ajaran Tuhan, tapi penguasa menghalang-halanginya dengan cara mengaburkan hukum Tuhan dan mengedepankan hukum manusia.

Allah SWT berfirman:

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الظالمون

“Orang-orang yang tidak mengambil keputusan dengan berdasarkan kepada hukum Allah, mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 45)

4. Mengikuti orang-orang kafir.

Salah satu sebab terbengkalainya hukum Allah dan terjerumusnya kita di padang kesesatan dan kelemahan adalah membiarkan orang kafir menguasai diri kita. Orang-orang kafir tentu saja ingin menerapkan ideologi yang mereka yakini, yaitu ideologi yang selaras dengan kepentingan dan hawa nafsunya. Karena itu, masyarakat kita melangkah ke arah yang tidak memberi manfaat, tapi justru membahayakan diri sendiri.

Allah SWT berfirman:

يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا آبائكم وإخوانكم أولياء إن استحبوا الكفر على الإيمان ومن يتولهم منكم فأولئك هم الظالمون

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai pelindung, jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan. Barangsiapa di antara kalian yang menjadikan mereka sebagai pelindung, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (at-Taubah: 23)

5. Mengikuti hawa nafsu.

Al-Quran telah menjelaskan alasan-alasan seseorang menuruti bisikan hawa nafsunya, yaitu:

a. Menipu orang lain demi melindungi kepentingannya.

Allah SWT berfirman:

ومن أظلم ممن افترى على الله كذباً ليضل الناس بغير علم

“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kebohongan terhadap Allah untuk menyesatkan orang-orang tanpa pengetahuan?” (Al-An’am: 144)

b. Menghalang-halangi dilaksanakannya ajaran Allah jika bertentangan dengan kepentingannya.

Allah SWT berfirman:

ومن أظلم ممن منع مساجد الله أن يذكر فيها اسمه

“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mencegah disebutnya nama Allah di masjid-masjid?” (al-Baqarah: 114)

c. Membelot dari kebenaran dan tidak mendukungnya.

Allah SWT berfirman:

ومن أظلم ممن كتم شهادة عنده من الله

“Siapakah orang yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan kesaksian dari Allah yang ada padanya?” (al-Baqarah: 140)

Bolehkah tunduk kepada kezaliman?

Islam melarang ketundukan kepada kezaliman.

Allah SWT berfirman:

ولا تركنوا إلى الذين ظلموا فتمسكم النار وما لكم من دون الله من أولياء ثم لا تنصرون

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sedangkan kamu tidak mempunyai penolong seorang pun selain Allah sehingga kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Hud: 113)

Ketundukan kepada orang-orang zalim akan berakibat:

1. Memperkuat mereka dan meluaskan kezaliman. Karena itu, jika ada hakim syariat, maka seseorang tidak boleh mendatangi hakim yang zalim untuk mendapatkan haknya.

Di dalam hadits disebutkan:

التحاكم اليهم تحاكم إلى الطاغوت

“Meminta putusan kepada mereka sama dengan meminta putusan kepada thaghut.”

2. Mempengaruhi budaya masyarakat, menghilangkan kejelekan dari kezaliman, dan membuat orang menyenanginya. Sebab, manusia biasanya menghindari sesuatu yang jelek untuk menjaga nama baik mereka. Tapi, jika sesuatu sudah tidak dianggap jelek atau sudah disenangi oleh banyak orang, maka mereka akan melakukannya. Begitu juga hal-hal yang diharamkan Allah. Jika itu dianggap jelek oleh suatu masyarakat, maka masyarakat itu akan menghindarinya. Tapi, keharaman itu jika sudah dianggap sebagai sesuatu yang biasa, disenangi, maka orang-orang yang lemah imannya akan mengerjakannya. Akibatnya, keharaman itu semakin tersebar. Karena itu, Islam tidak hanya melarang penyebaran perbuatan yang keji, tapi juga segala hal yang mengantarkan kepadanya. Bahkan, para fuqaha berpendapat bahwa mengakui dosa atau menyebutkan kemaksiatan yang kita lakukan kepada orang lain termasuk keharaman karena termasuk menyebarkan kekejian dan mematahkan benteng mental antara orang-orang dengan maksiat. Demikian juga ketundukan kepada orang yang zalim, ini menyebabkan hilangnya kejelekan dari kezaliman itu.

Oleh karena itu, Islam memotivasi penganutnya untuk melawan kezaliman dan tidak takut kepada orang-orang zalim.

Allah SWT berfirman:

إلا الذين ظلموا منهم فلا تخشوهم واخشوني

“Janganlah kalian takut kepada orang-orang zalim dan takutlah kalian kepada-Ku.” (al-Baqarah: 150)

Islam memerintahkan umatnya untuk mengungkap kezaliman dan menentangnya secara terang-terangan. Ini akan membuat kezaliman itu tetap jelek dan tidak tersebar, bahkan mungkin dapat menghentikan kezaliman orang itu. Allah mewajibkan saling menolong dalam melawan kezaliman.

Allah SWT berfirman:

والذين إذا أصابهم البغي هم ينتصرون

“Jika mereka tertimpa kezaliman, mereka meminta tolong.” (asy-Syura: 39)

Artinya, memberi pertolongan adalah kewajiban. Jika tidak, maka perintah meminta tolong ini menjadi sia-sia.

Membela orang-orang zalim jelas merupakan perbuatan yang haram.

Allah SWT berfirman:

قال رب بما انعمت عليّ فلن أكون ظهيراً للمجرمين

“Dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, karena nikmat-Mu kepadaku, maka aku tidak akan menjadi pembela para pelaku kejahatan.” (al-Qashash: 17)

Akibat dari kezaliman

Akibat dari kezaliman adalah kejelekan baik di dunia maupun di akhirat.

1. Pada akhirnya, setiap kezaliman seseorang pada orang lain akan menimpa dirinya sendiri. Sebab, kezaliman dilakukan seseorang pertama-tama ketika orang itu mengingkari daya-daya kebaikan di dalam dirinya. Selain itu, jika kezaliman sudah menyebar di masyarakat, maka kezaliman itu akan mencakup pelaku kezaliman itu sendiri. Ini seperti orang yang mengajarkan kebohongan kepada orang lain, maka pada suatu hari orang itu akan berbohong juga pada dirinya. Jadi, kezaliman pada orang lain itu pada hakikatnya adalah kezaliman pada diri sendiri. Karena itu, banyak sekali ayat al-Quran yang melarang kita menzalimi diri sendiri, seperti:

ومن يفعل ذلك فقد ظلم نفسه

“Orang yang melakukan hal itu, dia telah menzalimi dirinya sendiri.” (al-Baqarah: 231)

ومن يتعد حدود الله فقد ظلم نفسه

“Orang yang melanggar batasan-batasan Allah, dia telah menzalimi dirinya sendiri.” (ath-Thalaq: 1)

والذين ظلموا من هؤلاء سيصيبهم سيئات ما كسبوا

“Orang-orang zalim akan terkena akibat buruk dari perbuatan mereka sendiri.” (az-Zumar: 51)

فأصابهم سيئات ما عملوا وحاق بهم ما كانوا به يستهزئون

“Mereka akan tertimpa akibat dari perbuatan mereka sendiri dan merelak akan diliputi oleh azab yang dulu selalu mereka perolok-olokkan.” (an-Nahl: 34)

2. Hidup dalam kesesatan dan jauh dari hidayah

Orang zalim, karena tidak mau disebut sebagai orang zalim, akan menjustifikasi perbuatannya dengan berbagai dalih dan alasan. Dia akan semakin jauh tersesat demi membela diri. Orang yang sekali berbohong, akan berbohong lagi dan lagi untuk menutupi kebohongannya. Orang yang sekali berbuat zalim, tidak akan segan melakukan kezaliman berikutnya demi kezaliman yang pertama itu. Orang itu semakin sulit menerima kebenaran, tidak dapat mengambil manfaat dari hidayah Allah, tidak dapat mengambil manfaat dari ajaran agama, serta nasihat dan petuah orang lain.

3. Kebinasaan.

Allah SWT berfirman:

هل يهلك إلا القوم الظالمون

“Tidak akan dibinasakan kecuali orang-orang zalim.” (al-An’am: 47)

وما كنا مهلكي القرى إلا وأهلها ظالمون

“Kami tidak akan menghancurkan suatu kaum, kecuali mereka dalam keadaan zalim.” (al-Qashash: 59)

4. Azab di akhirat

Allah SWT berfirman:

ولو ترى إذا الظالمون موقوفون عند ربهم يرجع بعضهم إلى بعض القول يقول الذين استضعفوا للذين استكبروا لولا أنتم لكنا مؤمنين ، قال الذين استكبروا للذين استضعفوا أنحن صددناكم عن الهدى بعد إذ جائكم بل كنتم مجرمين

“Dan (alangkah mengerikan) jika engkau melihat ketika orang-orang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebagian dari mereka mengembalikan perkataan kepada sebagian yang lain. Orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Kalau tidaklah karena kamu, tentulah kami menjadi orang-orang beriman.’ Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, ‘Kamikah yang telah menghalangimu untuk memperoleh petunjuk setelah petunjuk itu datang kepadamu? Tidak. Sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berbuat dosa.’” (Saba: 31-32)

Terjemahan dari azh-Zhulm wa azh-Zhalimun al-Ma’ayir wa al-‘Awaqib, Sayyid Ja’far asy-Syirazi, http://fashion.azyya.com/105964.html, diakses pada Kamis, 09 Desember 2010.

About these ads