Tag

, ,

Ahmad Fadhil

Materi Kuliah Logika IAIN “SMH” Banten

DEDUKSI[i1] DAN INDUKSI

Pembuktian yang dilakukan manusia ada dua macam, yaitu deduksi (istinbath) dan induksi (istiqra).

Deduksi

Deduksi adalah semua pembuktian yang konklusinya tidak lebih besar dari premis-premisnya. Jadi, dalam dalil deduktif, konklusi selalu sama atau lebih kecil dari premis-premisnya.

Contoh 1:

Muhammad adalah manusia.

Semua manusia akan mati.

Jadi, Muhammad akan mati.

Contoh 2:

Binatang ada yang diam dan ada yang bisa berbicara.

Yang diam akan mati dan yang bisa berbicara akan mati.

Jadi, binatang akan mati.

Pada contoh 1, kita menyimpulkan “Muhammad akan mati”. Kesimpulan ini lebih kecil daripada premisnya karena berlaku khusus pada salah satu individu manusia, yaitu Muhammad, sedangkan premisnya yang menyatakan “Semua manusia akan mati” mencakup seluruh individu. Dengan demikian, pada penyimpulan ini pemikiran mengambil jalan dari yang umum kepada yang khusus; dari universalitas kepada individu, dari prinsip umum kepada aplikasi-aplikasi khusus.

Logika Aristoteles dengan cara yang ditempuh oleh dalil deduktif pada contoh ini disebut silogisme (qiyas). Metode silogisme adalah model utama dalil deduktif.

Silogisme adalah pembuktian tidak langsung, yaitu pembuktian yang menggunakan dua premis. Berbeda dengan pembuktian langsung, yaitu yang menggunakan satu premis saja, seperti dapat tanaqudh dan ‘aks.

Pada contoh 2, kita menyimpulkan “Binatang—binatang apa saja—akan mati”. Konklusi ini sama dengan premis yang membentuknya yang menyatakan, “Yang diam akan mati dan yang bisa berbicara akan mati”, karena yang diam dan yang bisa berbicara adalah semua binatang berdasarkan premis sebelumnya yang menyatakan “Binatang ada yang diam dan ada yang bisa berbicara.”

Induksi

Induksi adalah semua pembuktian yang konklusinya lebih besar dari premis-premis yang membentuknya.

Contoh:

Potongan besi # 1 memuai oleh panas.

Potongan besi # 2 memuai oleh panas.

Potongan besi # 3 memuai oleh panas.

Jadi, semua potongan besi memuai oleh panas.

Konklusi dalam pembuktian ini lebih besar dari premis-premisnya, karena yang tercakup di dalam premis-premis tersebut hanya potongan-potongan besi dalam jumlah terbatas, tiga potong, empat potong, … atau jutaan, sedangkan konklusinya mencakup semua potongan besi dan diputuskan memuai oleh panas, sehingga mencakup potongan-potongan besi yang tidak termasuk di dalam premis-premis dan belum diuji.

Karena itu, langkah pemikiran dalam dalil induktif berlawanan dengan langkah pemikiran dalam dalil deduktif yang membentuk silogisme. Jika dalil deduktif melangkah dari yang umum kepada yang khusus, maka dalil induktif melangkah dari yang khusus kepada yang umum.

Prinsip ‘adam at-tanaqudh sebagai dasar deduksi

Sejak manusia mempelajari metode-metode pembuktian dan pemikiran, serta berusaha menyusunnya secara logis, ia mengajukan pertanyaan berikut ini kepada dirinya: Anggaplah premis-premis yang aku tetapkan di dalam dalil deduktif dan induktif benar-benar sahih, lalu bagaimana aku dapat menelurkan kesimpulan darinya dan menjadikannya faktor yang mencukupi untuk membenarkan keyakinanku pada konklusi itu?

Saat menghadapi pertanyaan ini, manusia mengetahui perbedaan asasi antara deduksi dan induksi, dan atas dasar ini ia pun melihat adanya celah di dalam susunan dalil induktif yang tidak ia temukan di dalam dalil deduktif.

Di dalam deduksi, penarikan kesimpulan dari premis-premis selalu berpijak kepada dan mendapatkan justifikasi logis dari prinsip ‘adam at-tanaqudh. Sebab, di dalam deduksi, konklusi sama atau lebih kecil daripada premis-premisnya. Karena itu, konklusi pasti benar jika premis-premisnya benar, karena mengasumsikan kebenaran premis-premis tanpa konklusi mengandung kontradiksi logis selama konklusi itu sama atau lebih kecil darinya, atau selama konklusi itu secara keseluruhan terkandung di dalamnya. Jadi, peralihan dari premis-premis kepada konklusi di dalam dalil deduktif adalah sahih dan pasti berdasarkan prinsip ‘adam at-tanaqudh.

Problem induksi

Sedangkan di dalam induksi, dalil induktif melompat dari yang khusus kepada yang umum, karena konklusi di dalam dalil induktif lebih besar daripada dan tidak terkandung di dalam premis-premisnya. Di dalam premis-premis, kita menetapkan bahwa potongan-potongan besi dalam jumlah tertentu terlihat memuai oleh panas, lalu dari situ kita menarik kesimpulan umum bahwa semua besi memuai oleh panas.

Prinsip ‘adam at-tanaqudh tidak dapat menjustifikasi peralihan dari yang khusus kepada yang umum ini, karena di sini kita dapat mengasumsikan kebenaran premis-premis dan kesalahan konklusinya tanpa terjatuh ke dalam kontradiksi. Kita dapat mengasumsikan bahwa potongan-potongan besi dalam jumlah terbatas itu benar-benar memuai oleh panas dan pada waktu yang sama mengasumsikan perampatan induktif yang menyatakan, “Semua besi memuai oleh panas,” adalah salah, tanpa terjatuh ke dalam kontradiksi logis karena perampatan ini tidak terkandung di dalam asumsi pertama.

Dengan demikian kita tahu bahwa metode pembuktian dalam dalil deduktif adalah logis dan memperoleh justifikasi dari prinsip ‘adam at-tanaqudh, berbeda dengan metode pembuktian di dalam dalil induktif yang justifikasi logisnya tidak tercukupi oleh prinsip tersebut. Prinsip ini tidak dapat menjelaskan lompatan yang dilakukan oleh dalil induktif dari yang khusus kepada yang umum dan tidak dapat menutup celah yang ditimbulkannya di dalam struktur logisnya.

Karena itu, kita dapat mengerti alasan mengapa logika Aristoteles percaya bahwa pembuktian silogistis jika premis-premisnya—secara material dan formal—meyakinkan akan menghasilkan kesimpulan yang meyakinkan, berbeda dengan dalil induktif.

Solusi bagi problem induksi

Untuk mengatasi problem ini, logika Aristoteles berupaya mengembalikan dalil induktif (yang melangkah dari yang khusus kepada yang umum) kepada dalil silogistis (yang melangkah dari yang umum kepada yang khusus).

Penjelasannya:

Setelah memperoleh banyak contoh lewat observasi, pembuktian induktif membuat syakl (bentuk: figure) silogistis dan menetapkan: peristiwa A (pemanasan besi) dan peristiwa B (pemuaian besi) seringkali beriringan dalam observasi, dan setiap kali dua peristiwa seringkali beriringan maka yang satu adalah penyebab bagi yang lain, karena kebetulan tidak selalu dan tidak sering terjadi; dan menyimpulkan bahwa A adalah penyebab B.

Ini adalah pembuktian silogistis[i2] , karena ia melangkah dari yang umum kepada yang khusus. Jika sudah terbukti dengan pembuktian silogistis bahwa ada relasi kausalitas antara panas dengan pemuaian besi, maka kita dapat menegaskan[i3] bahwa besi memuai setiapkali dipanaskan, karena akibat selalu ada bila ada penyebab.

Dengan demikian jelaslah bahwa dalil induktif di dalam logika Aristoteles mengandung silogisme. Dalil induktif pada hakikatnya adalah dalil silogisme yang melangkah dari yang umum kepada yang khusus dan bukannya dalil induktif yang melangkah dari yang khusus kepada yang umum.

Dalil induktif yang mengandung silogisme ini disebut oleh logika Aristoteles dengan nama tajribah (experiment[i4] ) dan dianggap sebagai salah satu sumber pengetahuan, atau salah satu proposisi yang meyakinkan yang nilainya terpercaya dan dapat dijadikan landasan pengetahuan, berbeda dengan induksi tidak sempurna (istiqra naqish: incomplete induction) yang merupakan salah satu unsur tajribah dan menjadi premis minor di dalam silogisme yang terkandung di dalamnya.

Pembedaan antara experiment dengan incomplete induction di dalam logika Aristoteles dilakukan atas dasar ncomplete induction adalah sekadar ungkapan numerik tentang contoh-contoh yang diobservasi dalam induksi, sedangkan experiment tersusun dari induksi tersebut dan prinsip rasional terdahulu yang keduanya membentuk silogisme logis yang sempurna.

Karena itu, kita tahu mengapa terkadang logika Aristoteles terkadang mengatakan bahwa incomplete induction tidak melahirkan pengetahuan, dan terkadang mengatakan bahwa experiment melahirkan pengetahuan, bahkan menjadikan experta sebagai bagian dari proposisi meyakinkan (yaqiniyat: certain proposition). Yakni, yang dimaksud Logika Aristoteles dengan incomplete induction yang tidak melahirkan ilmu adalah kondisi yang kita lihat dengan melakukan percobaan pada beberapa peristiwa alami tanpa menambahkan prinsip rasional terdahulu kepadanya yang menjadi premis mayor proses pembuktian, sedangkan yang dimaksud dengan experiment yang melahirkan ilmu adalah peristiwa-peristiwa alami tersebut jika mungkin diaplikasikan padanya prinsip rasional yang menyatakan bahwa kebetulan tidak selalu dan tidak sering terjadi, lalu peristiwa-peristiwa alami dan prinsip rasional itu disusun menjadi silogisme logis yang lengkap yang membuktikan perampatan yang hendak kita capai.


[i1]

Sumber: Madkhal Ila Manahij al-Ma’rifah ‘Inda al-Islamiyin, Sayyid Kamal al-Haidari, h. 352 dst.

[i2]

Peristiwa A dan peristiwa B seringkali beriringan.

Setiapkali dua peristiwa beriringan, maka yang satu adalah penyebab bagi yang lain, karena kebetulan tidak selalu dan tidak sering terjadi.

Jadi, A adalah penyebab B.

[i3]

Pemanasan besi seringkali beriringan dengan pemuaiannya.

Setiap kali dua peristiwa beriringan, maka maka yang satu adalah penyebab bagi yang lain, karena kebetulan tidak selalu dan tidak sering terjadi.

Jadi, pemanasan besi adalah penyebab pemuaiannya.

[i4]

Tajribah (experience atau experiment) adalah perbuatan yang dengannya diperoleh mujarrabat (latin: Experta), yaitu proposisi-proposisi yang untuk memastikan putusannya akal membutuhkan penyaksian berulang-ulang, tidak dinyatakan kecuali dalam memberi atau menerima pengaruh, dan dengan melihatnya berulangkali maka diperolehlah pengetahuan empiris oleh penyaksinya. Pengalaman dalam pengertian umum disebut khibrah (experience), dan dalam pengertian khusus disebut tajribah ilmiyah (experiment) yang harus memenuhi syarat khusus yang disebut metode empiris yang berbasis pada mulahazhah, tashnif, fardh, dan tahqiq.

(Sumber: al-Mu’jam asy-Syamil li Mushthalahat al-Falsafah, Dr. Abdul Mun’im al-Hifni, Maktabah Madbouli, t. 2000, h. 182)

About these ads