(يا بني أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانهَ عن المنكر واصبر على ما أصابك إن ذلك من عزم الأمور)

“Wahai anakku, dirikan shalat, suruhlah kebaikan, laranglah kemungkaran, dan bersabarlah atas musibah yang menimpamu. Sesungguhnya hal itu termasuk yang diperintahkan oleh Allah.” (Lukman: 17)

Pendidikan anak, laki-laki atau perempuan, dengan benar harus berpijak pada prinsip-prinsip agama, iman, akhlak, dan amal shalih. Salah satu hal terpenting yang harus diajarkan keluarga kepada anak-anak mereka adalah shalat.

Kewajiban yang berada di pundak keluarga ini harus dijalankan dengan proses bertahan serta memenuhi syarat-syarat dan prosedurnya.

Yang sudah sama-sama diketahui adalah shalat itu tidak wajib atas anak-anak yang belum balig. Tapi, tidak wajib dan tidak disangsi tidak berarti anak-anak yang belum balig dibiarkan tanpa program dan tuntutan agama tertentu.

Banyak hadits yang menerangkan pengajaran shalat pada anak. Di antaranya:
ذا عرف الغلام يمينه من شماله فمروه بالصلاة
“Jika seorang anak sudah dapat membedakan kanan dengan kiri, maka suruhlah dia untuk shalat.” (Kanz al-‘Ummal, 16:440)

Al-Hasan bin Qarun meriwayatkan bahwa dia bertanya kepada Imam ar-Ridha tentang orang yang memaksa anaknya yang tidak shalat sehari atau dua hari. Imam ar-Ridha berkata, “Berapa umur anak itu?” Dia berkata, “Delapan tahun.” Imam berkata, “Subhanallah, dia meninggalkan shalat?” Dia berkata, “Dia sedang sakit.” Imam berkata, “Dia harus shalat dengan cara yang dia bisa.” (Wasail asy-Syi’ah, 3:13)

Peran Keluarga Dalam Mengajarkan Shalat
Riwayat-riwayat menunjukkan bahwa perintah mengajarkan anak shalat ditujukan terutama kepada ayah dan ibu. Keluargalah tempat awal anak belajar, menghormati, dan mendawamkan shalat. Keluarga adalah teladan dan panutannya. Arahan yang berasal dari mereka, serta perilaku yang mereka biasakan, akan berpengaruh langsung dan besar pada jiwa dan perilaku anak. Karena itu, kebiasaan keluarga mengerjakan dan menjaga shalat akan menciptkan kesiapan anak untuk mengikuti, lalu berkomitmen dengan dasar pemahaman dan penerimaan. Jadi, level pendidikan dan penghormatan anak terhadap shalat sangat dipengaruhi oleh level penjagaan dan penghormatan keluarga terhadap shalat.

Kapan Mengajarkan Shalat Pada Anak?
Pertanyaan harus dijawab dari tiga aspek.
Pertama, aspek fisik dan mental. Yakni, yang berkaitan dengan tingkat kesiapan dan penerimaan anak. Tidak diragukan lagi, ketika anak sudah mampu mengendalikan organ tubuh dan gerakan badaniahnya, yaitu ketika dia dapat melakukan hal-hal fisik secara teratur dan tanpa bantuan orang lain, seperti turun-naik tangga, lari secara seimbang dalam jarak tertentu, maka pada saat itu dia sudah dapat melakukan gerakan-gerakan shalat yang bersifat fisikal yang merupakan upaya paling ringan dalam shalat. Jadi, tidak ada masalah sama sekali untuk meminta anak mengerjakannya. Biasanya, mereka mampu melakukan hal ini setelah usia lima tahun.

Kedua, aspek pendidikan dan spiritualitas. Ini merupakan hal yang sangat penting dan menjadi sebab agama menuntut diajarkannya shalat pada anak-anak. Anak yang mulai membuka diri pada dunia dan memiliki fitrah yang suci membutuhkan bahkan siap untuk melakukan aktivitas spiritual, memiliki keterikatan dengan Tuhannya, dan membangun relasi dengan dan keimanan yang terus berkembang pada kegaiban. Meskipun anak belum mampu menangkap banyak makna yang agung dalam shalat, tapi dia sudah memulai melangkahkan kaki untuk memahami hal itu secara bertahap, sehingga keimanan dan keberagamaannya akan makin dalam, dirinya terjaga dari kerusakan dan kekejian, dan fitrahnya selamat dari penyimpangan.

Ketiga, aspek syariat dan fiqih. Banyak hadits yang menerangkan batasan umur saat kita mengajarkan shalat pada anak-anak kita. Umur tersebut berkisar antara 6-10 tahun. Berikut ini beberapa riwayatnya:

Rasulullah saw bersabda,
مروا صبيانكم بالصلاة إذا كانوا أبناء ست سنين
“Suruhlah anakmu mengerjakan saat jika mereka telah berumur 6 tahun.” (Mustadrak al-Wasail, 3:19)

Imam ash-Shadiq berkata,
مروا صبيانكم بالصلاة إذا بلغوا سبع سنين
“Suruhlah anak-anakmu mengerjakan shalat jika mereka telah mencapai umur 7 tahun.” (Mustadrak al-Wasail, …)

Imam Ali berkata,
علموا أولادكم الصلاة وخذوهم بها إذا بلغوا ثمان سنين
“Ajari anak-anakmu shalat dan paksa mereka untuk mengerjakannya jika mereka telah berumur 8 tahun.” (Tuhaf al-‘Uqul, 150)

Perbedaan penentuan awal mengajar dan menyuruh shalat ini nampaknya disebabkan faktor fleksibilitas (?), memudahkan, dan penahapan yang menyesuaikan dengan umur, kesiapan, dan kemampuan anak. Orang tua bebas memilih awal pengajaran ini sesuai dengan kondisi anak. Ini menunjukkan bahwa shalat anak pada usia ini termasuk latihan. Hanya saja orang tua harus memberikan penegasan pada umur tertentu, yaitu delapan tahun, sebagaimana ditunjukkan oleh kata-kata Imam Ali, “Dan paksa mereka.”

Fase-Fase Pengajaran Shalat Pada Anak
Jelas sahnya shalat yang tergantung pada terpenuhinya banyak perbuatan yang termasuk rukun dan syarat shalat tidak dapat diwujudkan sekaligus pada manusia pada umumnya, apalagi pada anak kecil.

Karena itu, penahapan dalam pengajaran shalat sangat penting. Islam adalah agama yang lapang dan Allah SWT itu Mahalembut pada hamba-hamba-Nya. Orang tua harus mengajarkan shalat pada anak sedikit demi sedikit sehingga anak dapat menangkapnya satu per satu dengan mudah, serta tidak takut dan tidak trauma pada shalat karena menganggapnya susah.

Diriwayatkan dari Imam ash-Shadiq,
يترك الغلام حتى يتم له سبع سنين، فإذا تم له سبع سنين قيل له: اغسل وجهك وكفيك، فإذا غسلهما قيل له: صل، ثم يترك حتى يتم له تسع سنين، فإذا تمت له علم الوضوء…
“Seorang anak dibiarkan sampai berusia 7 tahun. Jika dia sudah genap 7 tahun, maka dikatakan kepadanya, ‘Cuci wajah dan kedua tanganmu.’ Jika dia sudah mencucinya, maka dikatakan kepadanya, ‘Shalatlah.’ Lalu, dia dibiarkan sampai genap 9 tahun. Jika sudah genap, maka dia diajari berwudhu.” (Wasail asy-Syi’ah, 3:13)

Mengajarkan Shalat Dengan Janji Hadiah Atau Ancaman Hukuman?
Mengajarkan perilaku dan kebiasaan yang baik pada anak tentu saja harus dengan menggunakan metode pendidikan dan agama yang tepat. Berkaitan dengan pengajaran shalat, setelah melihat kesiapan fitrah dan alamiah pada anak untuk menghadap pada Tuhan, dan setelah membekali mereka dengan iklim keluarga yang menjaga dan menghormati shalat, ada dua metode pendidikan yang dapat diterapkan:

1. Metode reward.

Yaitu, mendorong anak untuk shalat, menerangkan urgensi dan keutamaannya di dunia dan akhirta, memuji dan memberi hadiah yang memotivasi atas setiap kemajuan sekecil apa pun yang dia lakukan. Metode inilah yang terbaik, tersukses, dan terjamin, sehingga harus diutamakan. Setiap cara, ide, dan pengalaman yang baik tentang hal ini harus dicari dan dicoba.

2. Metode punishmet.

Yaitu, hukuman-hukuman yang bersifat mental maupun material yang digunakan agar anak tidak meninggalkan shalat. Hukuman ini dapat dilakukan mulai dari perkara yang sangat kecil, tapi berefek besar pada anak, seperti tidak mau bercanda dan bermain dengannya, tidak mau membelikan apa yang dia minta, atau melarangnya dari hal-hal yang dia sukai seperti televisi, komputer, dll. Hukuman ini, selain tidak boleh terlalu berat, juga tidak boleh disertai kemarahan dan penghinaan, dan harus memperhatikan kesiapan anak. Selain itu, jika hukuman terlalu sering dilakukan, justru bisa kontraproduktif, sehingga orang tua harus bernafas panjang, karena intinya adalah mencapai hasil yang positif.

Mencapai level hukuman dengan pukulan, walaupun ringan dan boleh dilakukan oleh keluarga, harus didahului oleh pemikiran dan kebijaksanaan yang mendalam, agar proses pendidikan ini tidak gagal, yakni orang tua yang pada mulanya hendak mengajarkan kebaikan, justru mengerjakan keburukan.

Majalah Baqiatollah, vol. 13, edisi 152, tahun 2004.

About these ads