“Kesetiaan adalah kodrat perempuan. Laki-laki yang selalu khianat. Dia menikahi seorang perempuan, memasung perempuan itu di rumahnya, lalu pergi ke jalan mencari istri-istri lain lagi. Laki-laki, begitu istrinya meninggal, segera mencari istri baru. Engkau misalnya, sudah berapa perempuan kaunikahi? Engkau sudah lima kali menikah. Apakah itu bukti kesetiaanmu kepada istrimu yang pertama, tuan filsuf? Jika aku meninggal dunia lebih dulu darimu, engkau pasti mencari istri baru. Tapi, jika engkau mati lebih dulu, aku tidak akan menikah lagi, karena aku mencintaimu dan cinta adalah sesuatu yang engkau tidak ketahui, wahai Tuan.”

Terjemahan dari buku Ya Man Kunta Habibi, Anis Mansur.

“Jika engkau setia kepada suamimu yang telah meninggal, maka masuklah lewat pintu ini, dan jangan ragu-ragu!”

Ungkapan itu tertulis di nisan seorang filsuf yang dipercayai oleh orang-orang di negerinya. Di pintu kubur filsuf itu, para janda bersumpah akan tetap setia pada suaminya, tidak akan menikah pada laki-laki lain, tidak akan mengijinkan seseorang duduk di atas kursi yang telah diduduki suaminya, tidak minum di gelas suaminya, tidak memakai baju suaminya, dan tidak akan memandang dengan syahwat pada laki-laki lain.

Kisah filsuf itu adalah legenda yang panjang dari negeri Cina.

Alkisah, dia adalah laki-laki bertubuh pendek, berjanggut panjang, berkepala botak, dan terlihat lemah, tetapi mampu menggunakan jin-jin untuk menghadirkan segala sesuatu yang diinginkannya dari mana saja di dunia ini. Pada suatu hari, dia pergi ke pekuburan. Dia percaya bahwa pekuburan adalah satu-satunya tempat manusia saling bertemu tanpa rasa takut dan tamak. Semua manusia sama, semuanya sama di dalam tanah, semuanya jadi makanan ulat.

Pekuburan adalah tempat yang paling baik untuk para kekasih untuk saling berpelukan secara abadi.

Ketika sampai di pekuburan, dia bertemu dengan seorang gadis 20 tahunan yang berparas sangat cantik, mengenakan baju besi, memegang kipas, dan menggerak-gerakkan kipas itu di atas mayat yang berbaring di depannya.

Filsuf itu mendekati sang gadis dan bertanya, “Nyonya, engkau butuh bantuan?”

Gadis itu mengangguk dan berkata, “Pegang kipas ini, gerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan sekuat tenagamu.”

Filsuf itu menanyakan sebab penggunaan kipas itu, maka gadis tersebut berkata, “Aku telah berjanji pada suamiku untuk tidak akan menikahi seseorang sepeninggalnya kecuali setelah darahnya mengering. Dua puluh hari telah berlalu tapi darahnya masih mengalir di urat-uratnya. Aku berusaha membantu angin dan matahari untuk mengeringkan darahnya, maka aku membeli kipas ini. Jika engkau berhasil membantuku, aku berikan kipas ini untukmu serta hadiah yang besar.”

Filsuf itu meminta bantuan para jin, maka darah mayat itu pun segera mengering.

Dia mendapat hadiah dari gadis itu, lalu dia pulang ke rumahnya dalam keadaan sedih. Dia berkata kepada dirinya sendiri, “Inilah masa depanku dan masa depan semua laki-laki. Semua istri pasti punya satu kipas, atau bahkan puluhan kipas.”

Ketika istri filsuf itu melihatnya sedih, istrinya berkata, “Apa yang terjadi wahai filsuf? Siapa nama kekasih barumu? Siapa nama pemilik kipas itu? Itu kipas yang mahal, pasti milik nenek-nenek centil atau gadis kecil yang terpesona pada ketuaanmu dan tubuhmu yang bongkok. Siapa nama pengantinmu besok hari?”

Filsuf itu menceritakan peristiwa di pekuburan kepada istrinya, lalu berkata, “Engkau istriku tercinta, mana kipasmu? Aku akan membelinya untukmu sebelum aku mati agar engkau tidak meminta laki-laki lain untuk membelinya.”

Istrinya sangat marah dan berkata, “Kesetiaan adalah kodrat perempuan. Laki-laki yang selalu khianat. Dia menikahi seorang perempuan, memasung perempuan itu di rumahnya, lalu pergi ke jalan mencari istri-istri lain lagi. Laki-laki, begitu istrinya meninggal, segera mencari istri baru. Engkau misalnya, sudah berapa perempuan kaunikahi? Engkau sudah lima kali menikah. Apakah itu bukti kesetiaanmu kepada istrimu yang pertama, tuan filsuf? Jika aku meninggal dunia lebih dulu darimu, engkau pasti mencari istri baru. Tapi, jika engkau mati lebih dulu, aku tidak akan menikah lagi, karena aku mencintaimu dan cinta adalah sesuatu yang engkau tidak ketahui, wahai Tuan.”

Pada saat itu sang filsuf jatuh pingsan. Dia sempat membuka matanya sedikit lalu berkata kepada istrinya, “Jika aku meninggal, letakkan mayatku di kamar ini selama empat puluh hari, dan jangan engkau pindahkan dari tempatnya.”

Filsuf itu pun meninggal dan istrinya pun memakai baju besi. Tanda berduka.

Sepuluh hari kemudian, seorang kasim mengetuk pintu dan meminta janda filsuf itu untuk memberi ijin bagi seorang pangeran, tuan si kasim, murid sang filsuf, yang ingin berkunjung untuk melihat mayat gurunya. Istri filsuf itu memberi ijin. Satu jam kemudian, kasim itu datang bersama sang pangeran. Sang pangeran masuk dan berlutut sambil menangis di kaki gurunya.

Kemudian, pangeran itu keluar dari kamar, menemui sang janda, lalu bercerita tentang ayahnya dan kerajaan ayahnya, tentang kehidupan di istana, dan tentang penderitaannya. Dia mengatakan bahwa dia berharap bisa bertemu dengan seorang perempuan yang baik yang akan mengisi hidupnya dan rumahnya. Tetapi, yang ditemuinya hanya perempuan yang cantik atau perempuan yang kaya. Dia belum mendapatkan perempuan yang pintar. Dia katakan kepada janda sang filsuf bahwa mencari perempuan yang pintar seperti mencari jarum di gundukan kayu bakar.

Pangeran itu pulang. Hari selanjutnya, kasim itu kembali meminta ijin kepada sang janda agar menerima kunjungan tuannya. Sang pangeran pun datang lagi. Lalu, kasim itu menyiapkan jamuan yang mewah untuk tuannya dan sang janda. Pangeran itu berbisik di telinga sang ja
nda, “Maukah engkau menerimaku menjadi suamimu?”

Sang janda kontan menjawab, “Ya.”

Hari selanjutnya, pangeran itu mengutus kasimnya untuk menyampaikan pesan kepada sang janda, “Engkau tahu, pangeran setuju menikah, tapi dia punya beberapa syarat.”

Istri sang filsuf berkata, “Aku menerima semua syarat pangeran.”

Kasim itu berkata, “Syarat pertama, engkau harus memindahkan mayaf tuan filsuf dari rumah. Baunya sudah sangat busuk dan itu mengganggu pesta pernikahan.”

Sang janda berkata, “Aku pindahkan mayat itu sekarang juga!”

Janda itu meminta pembantunya untuk memindahkan dan meletakkan mayat itu di pekuburan.
Kasim itu berkata lagi, “Syarat kedua, engkau harus mengubah dekorasi dan mengecat kembali rumah ini.”

Janda itu berkata, “Aku hendak melakukan itu tanpa diminta. Tapi, karena pangeran memintanya, aku semakin gembira. Aku senang melaksanakan semua perintah tuanmu dan tuanku.”

Kasim itu berkata lagi, “Engkau harus menanggung semua biaya pesta karena tuanku tidak membawa harta yang cukup.”

Istri sang filsuf berkata, “Tentu aku akan melakukan itu. Aku mempunyai banyak harta.”

Kasim itu lalu pergi, mengabarkan kepada tuannya bahwa istri sang filsuf telah menyetujui semua persyaratan dan mengundang sang pangeran berkunjung besok untuk menyepakati semuanya.

Keesokan hari sang pangeran datang, dia melihat dekorasi di rumah sang janda sudah berubah. Gordin-gordin baru, bangku-bangku, kayu-kayu gaharu memenuhi ruangan, dan istri sang filsuf luar biasa cantik. Walau janda, dia masih sangat muda. Segala sesuatu pada dirinya hidup. Wajahnya. Matanya. Dadanya. Gerak jari jemarinya.

Sang pangeran mengarahkan tangannya untuk memeluk perempuan itu. Lalu, tiba-tiba dia jatuh pingsan. Istri sang filsuf menjatuhkan dirinya ke badan sang pangeran, sementara sang kasim berdiri tegak tak bisa bergerak.

Istri sang filsuf berteriak, “Apa yang terjadi pada pangeran, bicaralah!”

Kasim itu berkata, “Ini terjadi sekali setiap tahun. Tapi, ….”

Istri sang filsuf itu berkata, “Tapi apa? Aku tidak mengerti apa yang terjadi di sini. Panggil dokter untuknya!”

Kasim itu berkata, “Dokter tidak berguna untuknya, Nyonya. Penyakit pangeran sangat rumit. Andai saja dokter bisa. Nyonya, andai saja engkau tahu.”

Perempuan itu berteriak lagi, “Andai saja aku tahu apa? Katakan, apa yang harus kulakukan?”
Kasim itu menjawab, “Pengobatannya sangat sulit, Nyonya. Tapi, di negeri kami itu mudah. Raja sendiri yang menanganinya. Di sini, Nyonya, kami orang asing, tidak punya kuasa dan harta. Tolonglah, Nyonya!”

Sang istri menarik baju sang kasim hingga nyaris membunuhnya dan berkata kepadanya, “Aku tidak paham. Katakan sekarang, atau kubunuh kau. Katakan bagaimana cara mengobati tuanmu. Katakan sekarang. Bicaralah a….g, pengecut!”

Kasim itu berkata, “Sabar, Nyonya. Kukatakan kepadamu apa obatnya. Obatnya adalah kami harus mendapatkan otak seseorang yang sudah mati dua puluh hari, lalu kami rebus di air yang mendidih, lalu kami meminumkan air rebusan itu pada sang pangeran. Itulah obatnya, Nyonya. Mengertikah Anda kesulitan yang kami hadapi, Nyonya. Tahukah Anda bahwa nyawa pangeran terancam. Andai saja raja ada di sini.”

Istri sang filsuf diam, lalu berkata, “Obat itu ada.”

Istri filsuf itu memanggil pembantunya, lalu membisikkan sesuatu di telinga pembantunya itu.

Sang pembantu itu pun pergi, mengambil mayat sang filsuf, lalu meletakkan mayat itu di kamar. Sang istri lalu masuk, menghampiri kain kafan sang filsuf. Tapi, tiba-tiba kain kafan itu bergerak-gerak.

Tiba-tiba, sang filsuf bangun dan duduk. Janda itu berteriak kaget, suaminya, sang filsuf, bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi padaku di sini?”

Sang istri berkata, “Tidak ada apa-apa. Aku melihat ada gerakan di kain kafanmu, maka aku berdoa semoga Allah mengembalikan hidupmu. Allah mengabulkan doaku. Alhamdulillah.”

Filsuf itu bertanya, “Mengapa engkau kulihat memakai baju baru?”

Sang istri berkata, “Aku tahu engkau akan hidup lagi. Jadi, aku ingin hal pertama yang engkau lihat adalah sesuatu yang baru. Aku ingin gambarku berkesan kembali di hatimu dan bertambah cintamu!”

Filsuf itu melihat sekitarnya, lalu berkata, “Lilin-lilin ini untuk apa?”

Sang istri berkata, “Tidak ingatkah kau hari ini ulang tahunmu. Ingatanmu sudah lemah, tapi aku ingat semua hari hidupku bersamamu hari demi hari.”

Filsuf itu bertanya kepada istrinya, “Tapi, di mana peti matiku?”

Sang istri terdiam, tidak tahu apa yang mesti dikatakannya. Peti mati itu ditinggal pembantunya di pekuburan. Mayat suaminya dibawa terbungkus kain kafan itu saja.

Filsuf itu bertanya kepada istrinya, “Siapa itu yang berdiri di sana?”

Sang istri menoleh ke sampingnya dan melihat sang pangeran dan kasimnya. Lalu, dia menoleh kembali ke arah suaminya, namun dia tidak melihat suaminya. Dia menoleh kembali ke tempat sang pangeran berdiri, namun yang dilihatnya justru sang filsuf. Mereka berdua tidak mungkin ada bersama-sama dalam satu waktu dan satu tempat.

Sang istri itu akhirnya mengerti bahwa sang filsuf telah menggunakan kekuatannya gaibnya, berpura-pura mati, kemudian kembali hidup dalam bentuk pangeran, dan dia harus memilih antara suaminya atau pangeran. Suaminya saja, atau pangeran saja. Dia tidak boleh menyatukan kedua orang itu. Saat dia memilih sang suami, sang pangeran tidak ada. Dan saat dia memilih pangeran, sang suami hilang.

Sang istri mengambil tali yang panjang dan menggantung dirinya di atap rumah. Sang filsuf lalu membakar rumah itu, segala isinya, dan sang istri, lalu membangun kuburan untuk dirinya dan menulis ungkapan yang dikenal semua perempuan Cina dan dipandang setiap janda saat mereka berjanji setia pada suami mereka sepanjang hidup sang suami dan sepanjang hidup mereka.

Di Cina diceritakan bahwa filsuf itu muncul di pekuburan memukul setiap perempuan yang tidak menangisi suami mereka yang meninggal dunia dan tidak memakai baju besi, serta merusak semua kipas yang dilihatnya di tangan perempuan.

Jadi, tidak akan setia seorang perempuan muda yang menikahi seorang filsuf tua. Jika filsuf tua itu mati, perempuan itu adakan mencari seorang pangeran. Itulah hikmah yang bisa kita petik dari legenda dari negeri Cina tersebut.

About these ads