Ahmad Fadhil

November 2007-Februari 2008 saya mendapat kesempatan mengunjungi Negeri Para Mulla, Iran. Di perpustakaan asrama tempat saya tinggal, saya melihat sebuah buku Al-Islam wa Iran, j. 3, karya asy-Syahid Ayatullah Murtadha al-Muthahhari, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Muhammad Hadi al-Yusufi al-Gharvi, dan diterbitkan oleh Munazhzhamah al-I’lam al-Islami Qism al-‘Alaqat ad-Dauliyah, Tehran, cet. 1, 1405/1985. Saya tertarik, lalu menerjemahkan sebagian isinya yang berkaitan dengan filsafat Islam di Iran. Berikut hasilnya.

Peran Iran dalam Transmisi Filsafat ke Bahasa Arab

Perkembangan filsafat Islam dimulai dengan penerjemahan buku-buku berbahasa Yunani, Persia, India, dan lain-lain pada abad ke-2 Hijriah. Banyak pendapat seputar awal penerjemahan dan transmisi ilmu-ilmu asing ke dalam bahasa Arab, seperti kedokteran, matematika, filsafat, dan lain-lain. Ibnu an-Nadim di dalam al-Fihrist mengatakan, “Pekerjaan ini dimulai atas perintah Khalid bin Yazid bin Muawiyah. Dia memerintahkan untuk mendatangkan para filsuf Yunani yang tinggal di kota Iskandariah, Mesir, dan telah fasih berbahasa Arab, untuk menerjemahkan buku-buku ilmiah  dari bahasa Yunani dan Qibthi ke dalam bahasa Arab. Inilah awal transmisi di dalam Islam.”[1]

Penerjemahan buku-buku filsafat, tidak diragukan lagi, dimulai pada masa Abbasiyah, seperti halnya banyak ilmu, keterampilan, sastera, dan akhlak.

Tidak ada buku filsafat yang diterjemahkan dari bahasa Persia, karena buku-buku berbahasa Persia yang diterjemahkan adalah yang berkaitan dengan sastra, sejarah, astronomi, dan fisika.

Ibnu an-Nadim, di berbagai tempat di dalam al-Fihrist, menyebutkan berbagai buku berbahasa Persia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan tidak ada satupun yang berkaitan dengan filsafat. Satu-satunya buku filsafat yang diterjemahkan dari bahasa Pahlevi adalah satu bagian dari logika Aristoteles yang sebelumnya telah diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Pahlevi oleh Abdullah bin al-Muqaffa’.

Sebagaimana tidak ada buku filsafat yang diterjemahkan dari bahara Iran, juga tidak ada orang Iran yang menerjemahkan logika dan filsafat dari bahasa Suryani dan Yunani. Tapi, karena penerjemahan buku-buku Persia (dalam bidang apa pun) ke bahasa Arab adalah salah satu sumbangan bangsa Iran bagi peradaban islam, maka pantas kiranya disebutkan di sini nama-nama para penerjemah buku-buku berbahasa Persia k dalam bahasa Arab, sebagaimana dipaparkan oleh Ibnu an-Nadim di dalam al-Fihrist, meskipun tidak ada seorang pun dari mereka berasal dari Iran.

Abdullah bin al-Muqaffa’: penerjemah Logika Aristoteles, Khadaenameh yang merupakan sumber dan rujukan utama bagi buku Shahnameh karya al-Firdausi dan Kalilah wa Dumnah yang diterjemahkan ke bahasa Persia dari buku berbahasa India pada masa Anushirwan.[2]

Abu Sahl al-Fadhl bin Noubekhti: direktur Bait al-Hikmah pada masa Harun ar-Rasyid dan al-Makmun. Hasan bin Musa an-Noubekhti. Ahmad bin Musa al-Baladziri: sejarahwan kondang. Musa bin Khalid. Yusuf bin Khalid. Ali bin Ziyad at-Tamimi, Hasan bin Sahl, Jibilah bin Salim (sekreratis Hisyam bin Abd al-Malik), Ishaq bin Yazid (penerjemah  Ikhtiyarnameh), Muhammad bin Jaham al-Barmaki, Hisyam bin al-Qasim, Musa bin Isa al-Kurdi, Zadawaih bin Syahawaih al-Ashfahani, Muhammad bin Bahram bin Mithyar al-Ashfahani, Bahram bin Mardansyah, Amr bin al-Farkhan, Salim (Direktur Bait al-Hikmah), Shalih bin Abd ar-Rahman (sekretaris al-Hajjaj dan penerjemah diwan-diwan Pahlevi ke dalam bahasa Arab), dan Abdullah bin Ali (penerjemah buku-buku India dari bahasa Persia ke dalam bahasa Arab).

Demikianlah peran Iran dalam proses penerjemahan buku-buku filsafat ke dalam bahasa Arab. Selanjutnya kita akan membahas para filsuf yang berasal dari Iran pada masa Islam.

Peran Iran dalam Pengembangan Filsafat Islam

Ayatollah Murtadha al-Muthahari mengatakan, “Saham Iran dalam filsafat Islam lebih besar daripada dalam bidang-bidang ilmu yang lain.” Hal ini beliau buktikan dengan usahanya membuat daftar bibliografis yang berisi paparan tentang thabaqat pada filsuf pada masa Islam dari periode pertama hingga sekarang. Ini adalah usaha pertama, karena kalau kita telah mengenal banyak buku yang menceritakan thabaqat fuqaha, nyaris belum ada buku dalam bidang filsafat. Beliau mengatakan, “Meniliti perkembangan filsafat secara kronologis tidaklah mudah. Tapi kita dapat menyebutkan thabaqat filsuf berdasarkan hubungan guru-murid serta orang-orang sezaman bagi masing-masing thabaqah, baik berperan dalam pengajaran bagi generasi setelahnya atau tidak, tapi sekedar menjadi murid bagi orang-orang sebelum mereka atau sekadar sezaman.”

Yang dimaksud oleh al-Muthahari dengan para filsuf pada masa Islam adalah orang-orang yang menggeluti filsafat dalam iklim yang Islami. Sebagian dari mereka—terutama pada periode pertama—adalah non muslim, seperti Yahudi, Nasrani, atau atheis (minimal dalam pandangan sebagian ulama).

Thabaqah 1

Filsafat Islam bermula dengan Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq al-Kindi yang dijuluki Failasuf al-‘Arab. Dia asli Arab, sezaman dengan al-Makmun dan al-Muktashim billah. Para penerjemah resmi yang sezaman dengannya adalah al-Husain bin Ishaq dan Abd al-Masih bin Na’imah al-Hamashi. Di dalam pendahuluan buku Uthulujiya terdapat keterangan, “Buku ini diterjemahkan olh Abd al-Masih dan disunting oleh Abu Yusuf Ya’qub al-Kindi. Beberapa peneliti meragukan apakah al-Kindi juga seorang penerjemah. Tapi, Abu Ma’syar al-Balkhi, murid al-Kindi, mengatakan bahwa al-Kindi adalah satu dari empat penerjemah resmi di Bait al-Hikmah.

Masa al-Kindi memang masih merupakan masa penerjemahan atau pengaraban filsafat. Tapi al-Kindi sendiri adalah seorang filsuf yang mumpuni dan memiliki pendapat yang mandiri. Ia menulis sekitar 270 risalah. Ibnu an-Nadim membuat sistematika buku-buku al-Kindi dalam berbagai bidang, mulai dari logika, filsafat, astronomi, matematika, geometri, kedokteran, hingga akidah. Belakangan ini, beberapa manuskrip al-Kindi telah ditemukan dan dipublikasikan. Dari buku-buku itu diketahui bahwa al-Kindi jauh lebih besar daripada yang telah diperkirakan sebelumnya. Ia adalah salah seorang terkemuka sejarah dan salah satu bintang pada periode awal Islam. Bahkan, beberapa peneliti Barat menilainya sebagai satu dari 12 raksasa yang paling berpengaruh bagi akal umat manusia.[3]

Al-Kindi adalah anak didik dirinya sendiri. Para penulis buku sejarah tidak menceritakan seorang pun, muslim atau non muslim, yang memiliki pandangan dan pendapat sendiri, baik sebelum zamannya maupun setelahnya. Mereka menceritakan bahwa al-Kindi belajar di Bashrah dan Baghdad. Pada saat itu, kita tidak mengenal seorang pun filsafat di kedua kota itu. Karena itu, al-Kindi dapat disebut sebagai pokok dari mata rantai para filsuf pada masa Islam dan tidak ada thabaqah atau mata rantai yang mendahuluinya.

Thabaqah 2

Thabaqah ini terdiri dari dua kelompok, yaitu murid-murid al-Kindi dan orang-orang di luar Madrasah al-Kindi.

Murid-murid al-Kindi

  1. Abu al-‘Abbas Ahmad bin ath-Thayyib as-Sarkhasi.

Dia adalah murid senior al-Kindi. Lahir tahun 218 dan terbunuh tahun 286 oleh al-Qasim bin Ubaidillah, menteri al-Mu’tadhid billah al-‘Abbasi. Ibnu Abi Ushaibiah mengatakan bahwa as-Sarkhasi menulis 54 buku dan risalah. Di antaranya al-Masalik wa al-Mamalik dalam geografi. Boleh jadi ini adalah kajian geografi pertama dalam Islam. Dia juga menulis buku tentang hubungan pilar-pilar dan prinsip-prinsip filsafat satu sama lainnya, serta buku tentang aturan debat dialektis. Sayangnya, tidak ada satu pun yang tersisa sekarang.

Henry Corbin menulis, “Dia menciptakan alfabet yang disempurnakan oleh Hamzah al-Ishfahani …. Dia juga memberikan informasi-informasi yang sangat berharga dalam tema istilah-istilah Ruwaqiyyin (Stoicism) dalam bahasa Arab, sehingga kalau bukan karena usahanya ini, maka kaum Stoicisme akan habis tertelan oleh sejarah.”

  1. Abu Zaid Ahmad bin Sahl al-Balkhi.

Dia adalah seorang pujangga dan filsuf. Ibnu an-Nadim menggolongkannya sebagai pujangga dan menyebutkan buku-buku filsafatnya di antara buku-buku sastera. Ketika memaparkan biografi Muhammad bin Zakariya ar-Razi (seorang dokter),  Ibnu an-Nadim merangkan bahwa ar-Razi belajar filsafat kepada al-Balkhi, tanpa menjelaskan apakah al-Balkhi ini Abu Zaid al-Balkhi atau bukan. Ibnu an-Nadim mengaku melihat banyak buku tulisan tangan al-Balkhi dalam berbagai bidang ilmu yang masih berbentuk outline dan belum disempurnakan.

Selain posisinya yang tinggi di dalam dunia filsafat, Abu Zaid al-Balkhi diakui sebagai pujangga muslimin kelas satu. Ada yang menganggapnya sebanding dengan al-Jahizh, bahkan lebih tinggi. Ibnu an-Nadim menyebutkan buku-buku non filsafat al-Balkhi dengan judul Syara’i’ al-Adyan, Nuzhum al-Quran, Qawari’ al-Quran, Gharib al-Quran, Fadha’il Makkah, dan lain-lain.

Ibnu an-Nadim di dalam al-Fihrist dan Ibnu al-Qifthi di dalam Tarikh al-Hukama tidak menyebutkan Abu Zaid al-Balkhi berguru kepada al-Kindi. Tapi, para penulis sejarah generasi belakangan sepakat mengenai hal ini. Nampaknya mereka merujuk pada Mu’jam al-Udaba karya Yaqut al-Hamawi. Tapi, jika al-Balkhi meninggal pada tahun 322, maka kecil kemungkinan ia berguru kepada al-Kindi yang meninggal sekitar tahun 258, karena rentang waktu di antara keduanya adalah 46 tahun, kecuali jika kita mengasumsikan al-Balkhi berumur lebih dari 100 tahun. Tapi, dinyatakan di dalam Mu’jam al-Udaba bahwa al-Balkhi wafat dalam usia 87 atau 88 tahun. Dengan demikian, usia al-Balkhi ketika al-Kindi wafat adalah 13 tahun. Pada usia ini kecil kemungkinan al-Balkhi telah berguru kepada al-Kindi. Jadi kemungkinan besar ia berguru secara tidak langsung.

Ada kemungkinan al-Balkhi ini seorang Syiah. Ia juga dituduh atheis dan kafir.

  1. Abu Ma’syar Ja’far bin Muhammad al-Balkhi.

Pada awalnya dia adalah seorang ahli hadits yang memusuhi al-Kindi dan filsafat. Lalu al-Kindi berupaya memikat hatinya pada filsafat dan para filsuf, astonomi, dan matematika, hingga Abu Ma’syar al-Balkhi berminat mempelajarinya. Ibnu an-Nadim menjelaskan, pada akhirnya al-Balkhi termasuk dalam lingkaran murid-murid al-Kindi

  1. Hasnawaih, Nafthawaih, Salmawaih.
  2. Dabis bin Muhammad bin Yazid, Zarnab

Bukan murid-murid al-Kindi

  1. Abu Ishaq Ibrahim al-Quwairi.
  2. Abu Yahya Ibrahim al-Marwazi.
  3. Yohana bin Hailan.
  4. Abu al-‘Abbas Muhammad bin Muhammad an-Naisaburi al-Iransyahri.

Thabaqah 3

Ada lima tokoh terkenal pada periode ini:

  1. Abu Bakar Muhammad bin Zakariya ar-Razi.
  2. Abu al-Husain Syahid bin al-Husain al-Balkhi.
  3. Abu Ahmad bin Abu al-Husain Ishaq bin Ibrahim bin Zaid.
  4. Abu Bisyir Matta bin Yunus.
  5. Abu Nashr bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Thurkhan al-Farabi.

Thabaqah 4

Pada periode ini tidak terlalu banyak nama yang disebut. Tapi tidak dapat diragukan bahwa al-Farabi, Abu Bisyr, dan Ibnu Karnib memiliki murid-murid, hanya saja kita belum mendapat informasi yang valid tentang mereka. Di antaranya:

  1. Yahya bin ‘Adi.
  2. Ikhwan ash-Shafa wa Khillan al-Wafa.

Thabaqah 5

  1. Abu Sulaiman Muhammad bin Thahir bin Bahram as-Sijistani al-Manthiqi (murid Yahya bin ‘Adi)
  2. Abu al-Hasan al-Amiri an-Naisaburi.
  3. Abu al-Khair Hasan bin Suwar.
  4. Abu ‘Abdillah an-Natili.

Thabaqah 6

Thabaqah ini dapat disebut sebagai thabaqah para jenius, karena tidak ada thabaqah dngan jumlah filsuf lebih banyak dan lebih besar daripada thabaqah ini.

  1. Abu Ali Ahmad bin Muhammad bin Ya’qub Miskawaih ar-Razi.
  2. Abu Raihan Muhammad bin Ahmad al-Biruni al-Khawarizmi.
  3. Abu Ali al-Husain bin Abdullah bin Sina.
  4. Abu al-Faraj ibn ath-Thayyib al-‘Iraqi al-Baghdadi.
  5. Abu al-Faraj ibn Hindu.
  6. Abu Ali al-Hasan bin al-Hasan (al-Husain) bin al-Haitsam al-Bashari.

Thabaqah 7

Filsuf pada thabaqah ini terbagi menjadi dua kelompok: murid-murid Ibnu Sina dan selain murid Ibnu Sina.

Kelompok pertama:

  1. Abu Abdillah al-Faqih al-Ma’shumi.
  2. Abu al-Hasan Bahmaniyar bin Marzban al-Azarbaijani.
  3. Abu ‘Ubaid ‘Abd al-Wahid al-Juzjani.
  4. Abu Manshur Husain bin Thahir bin Zilah al-Ashfahani.

Kelompok kedua:

  1. ‘Ali bin Ridhwan al-Mishri.
  2. Abu al-Hasan Mukhtar bin Hasan ‘Abdan bin Sa’dan bin Bathlan al-Baghdadi an-Nashrani (terkenal dengan julukan Ibnu Bathlan).
  3. Abu al-Hasan al-Anbari.

Thabaqah 8

Thabaqah murid dari murid Ibnu Sina:

  1. Abu al-‘Abbas Fadhl bin Muhammad al-Lukuri al-Marwi.
  2. Abu al-Hasan Sa’id bin Hibatullah bin al-Husain.
  3. Hujjah al-Haqq Abu al-Fath ‘Umar bin Ibrahim al-Khayyami an-Naisaburi.
  4. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali ath-Thusi.

Thabaqah 9

  1. Syaraf ad-Din Muhammad al-Ilaqi.
  2. Abu al-Barakat Hibatullah bin ‘Ali (Ya’la) Milka al-Baghdadi.
  3. Muhammad bin Abu Thahir ath-Thabasi al-Marwazi.
  4. Afdhal ad-Din al-Ghailani ‘Umar bin Ghailan.
  5. Abu Bakar bin Muhammad bin Yahya ash-Sha’igh al-Andalusi (terkenal dengan julukan Ibnu Bajah).
  6. Abu al-Hakam al-Maghribi al-Andalusi.

Thabaqah 10

  1. Shadr ad-Din Abu ‘Ali Muhammad bin ‘Ali bin al-Haritsani as-Sarkhasi.
  2. Abu Bakar Muhammad bin ‘Abd al-Malik bin Thufail al-Andalusi.
  3. Al-Qadhi Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd al-Andalusi.
  4. Majd ad-Din al-Jili.
  5. Al-Qadhi Zain ad-Din ‘Amr bin Sahlan as-Sawiji (terkenal dengan julukan Ibnu Sahlan).
  6. Abu al-Futuh Najm ad-Din Ahmad bin Muhammad as-Sirri (terkenal dengan julukan Ibnu ash-Shalah).
  7. Muhammad bin ‘Abd as-Salam al-Anshari al-Mardi (al-Mardini).

Thabaqah 11

  1. Fakhr ad-Din Muhammad bin ‘Umar bin al-Husain ar-Razi.
  2. Syekh Syihab ad-Din Yahya bin Habasy bin Mirk as-Suhrawardi az-Zanjani.
  3. Afdhal ad-Din al-Marqi al-Kasyani (Baba Afdhal).

Thabaqah 12

  1. Farid ad-Din Damad an-Naisaburi.
  2. Syams ad-Din ‘Abd al-Hamid bin ‘Isa Khasrusyahi.
  3. Quthb ad-Din Ibrahim bin ‘Ali bin Muhammad as-Salami.

Thabaqah 13

  1. Khawwajah Nashir ad-Din Muhammad bin al-Hasan ath-Thusi.
  2. Atsir ad-Din Mifdhal bin ‘Umar al-Abhari.
  3. Najm ad-Din ‘Ali bin ‘Umar al-Katibi al-Qazwini.

Thabaqah 14

  1. Al-Hasan bin Yusuf bin al-Muthahhir al-Hilli.
  2. Kamal ad-Din Maitsam bin Maitsam al-Bahrani.
  3. Quthb ad-Din Mahmud bin Mas’ud bin Mushlih asy-Syirazi.
  4. Al-Hasan bin Muhammad bin Syarafshah al-‘Alawi al-Husaini al-Astraabadi.

Thabaqah 15

  1. Quthb ad-Din Muhammad bin Muhammad bin Abu Ja’far ar-Razi.
  2. Syams ad-Din Muhammad bin Mubarakshah al-Marwi.
  3. Al-Qadhi ‘Adhd ad-Din ‘Abd ar-Rahman al-Iji asy-Syirazi.

Thabaqah 16

  1. Sa’d ad-Din Mas’ud bin ‘Umar bin Abdullah at-Taftazani.
  2. As-Sayyid ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali al-Jurjani.

Thabaqah 17

  1. Muhy ad-Din Guskanari.
  2. Al-Khawwajah Hasan Shah al-Baqqal.
  3. Sa’d ad-Din As’ad ad-Dawwani ayah dari al-Muhaqqiq Jalal ad-Din ad-Dawwani.
  4. Qawam ad-Din al-Karbali.

Thabaqah 18

  1. Sayyid al-Hukama Muhammad bin Ibrahim al-Husaini ad-Dasytaki asy-Syirazi.
  2. Al-Allamah Jalal ad-Din Muhammad bin As’ad ad-Din ad-Dawwani.
  3. ‘Ali bin Muhammad as-Samarqandi al-Qusyji.

Thabaqah 19.

  1. Ghiyats ad-Din Manshur ad-Dasytaki Ibnu as-Sayyid Shadr ad-Dasytaki.
  2. Mahmud an-Nirizi.
  3. Al-Qadhi Kamal ad-Din al-Mibadi al-Yazdi.
  4. Jamal ad-Din Mahmud asy-Syirazi.
  5. Al-Maula Husain al-Alihi al-Ardabili bin al-Khawwajah Syaraf ad-Din ‘Abd al-Haqq al-Ardabili.

Thabaqah 20

  1. Al-Maula ‘Abdullah al-Yazdi.
  2. Al-Maula Habibullah al-Bagh Nawi asy-Syirazi.
  3. Syams ad-Din Muhammad al-Khufri asy-Syirazi.
  4. Al-Khawwajah Afdhal ad-Din Turkah.
  5. Al-Hakim Dawud bin ‘Umar al-Anthaki al-Mishri.

Thabaqah 21

  1. Al-Mir Muhammad Baqir Damad.
  2. Asy-Syaikh Baha ad-Din Muhammad bin al-Husain bin ‘Abd ash-Shamad al-‘Amili.
  3. Mir Abu al-Qasim Fandaraski.

Thabaqah 22

  1. Rafi’ ad-Din Muhammad Haidar al-Husaini ath-Thabathabai an-Naini.
  2. Muhammad bin Ibrahim al-Qawwami asy-Syirazi (Mulla Shadra).
  3. Syams ad-Din al-Gailani.
  4. Sulthan al-‘Ulama al-Amili.
  5. As-Sayyid Ahmad al-‘Amili ibnu Khal.
  6. Syams ad-Din al-Asykuri.
  7. As-Sayyid Amir Fadhlullah al-Astraabadi.

Thabaqah 23

  1. Al-Maula Muhsin al-Faidh al-Kasyani.
  2. Al-Maula ‘Abd ar-Razzaq al-Lahiji.
  3. Al-Maula Rajab ‘Ali at-Tibrizi al-Ashfahani.
  4. Al-Maula Muhammad Baqir al-Muhaqqiq as-Sabzawari.
  5. Agha Husain al-Khunsari.

Thabaqah 24

  1. Muhammad bin Sa’id bin Muhammad Mufid al-Qumi.
  2. Al-Maula Muhammad at-Tangabani.
  3. Jamal ad-Din al-Khunsari.
  4. Qawam ad-Din Muhammad ar-Razi.
  5. Muhammad Rafi’ Virzadeh.

Thabaqah 25

  1. Maula Muhammad Shadiq al-Urdustani.

Thabaqah 26

  1. Al-Maula Ismail al-Khajui.
  2. Al-Mirza Muhammad Taqi al-Massi.

Thabaqah 27

  1. Agha Muhammad al-Baidabadi al-Gailani al-Ashfahani.
  2. Al-Maula Mahdi an-Naraqo al-Kasyani.
  3. Mirza Abu al-Qasim al-Husaini al-Khatun Abadi.
  4. Al-Maula Mihrab al-Gailani.

Thabaqah 28

  1. Al-Maula ‘Ali an-Nuri al-Mazandari al-Ashfahani.
  2. Al-Hajj al-Maula Ahmad an-Naraqi.
  3. Al-Mirza Mahdi bin al-Mirza Hidayatullah asy-Syahid al-Masyhadi.

Thabaqah 29

  1. Mirza Hasan an-Nuri bin Maula ‘Ali an-Nuri.
  2. Al-Maula Ismail bin al-Maula Muhammad Sami’ ad-Darb Kusyki al-Ishfahani.
  3. Al-Maula ‘Abdullah az-Zanuzi.
  4. Al-Maula Muhammad Ja’far al-Langgarudi al-Lahiji.
  5. Al-Maula Agha al-Qazwini.

Thabaqah 30

  1. Al-Hajj al-Maula Hadi as-Sabziwari.

Murid-muridnya:

  1. Al-Maula Abd al-Karim Khabusyani (al-Qujani).
  2. Mirza Husain as-Sabziwari.
  3. Al-Hajj Mirza Husain al-‘Alawi as-Sabziwari.
  4. Al-Hakim Abbas ad-Darabi.
  5. Asy-Syaikh Ibrahim as-Sabziwari.
  6. Asy-Syaikh Muhammad Ibrahim ath-Thahrani.
  7. As-Sayyid Abu al-Qasim al-Musawi.
  8. As-Sayyid Abd ar-Rahim as-Sabziwari.
  9. Al-Maula Muhammad ash-Shabbagh.

10.  Asy-Syaikh Muhammad Ridha al-Burughni.

11.  Al-Mirza Abd al-Ghafur ad-Darabi.

12.  Al-Maula Ghulam Husain Syaikh al-Islam al-Masyhadi.

13.  Al-Mirza Muhammad as-Sarwaqudi.

14.  Asy-Syaikh Ali al-Fadhil at-Tibti.

15.  Mirza Agha Hakim ad-Darabi.

16.  Mirza Muhammad al-Yazdi.

17.  Al-Hajj Mirza Abu Thalib az-Zanjani.

18.  Al-Hajj al-Maula Ismail al-Arif al-Bajanurdi.

19.  Asy-Syaikh Abd al-Husain.

20.  Mirza Muhammad al-Hakim al-Alihi.

  1. Agha Ali az-Zanuzi (Agha Hakim/Agha Ali al-Mudarris)
  2. Agha Muhammad Ridha al-Hakim al-Qumsyahi.
  3. Mirza Abu al-Hasan Jaluh.

Thabaqah 31

  1. Al-Mirza Hasyim al-Asykuri ar-Risyti.
  2. Mirza Hasan  al-Kirmansyahi.
  3. Mirza Syihabuddin an-Nirizi asy-Syirazi.
  4. Al-Mirza Abbas asy-Syirazi ad-Darabi.
  5. Jihan Girkhan al-Qasyqai.
  6. Al-Akhun al-Maula Muhammad al-Kasyi.
  7. Agha Mirza Muhammad Baqir.
  8. Al-Mirza Ali Akbar al-Hukmi al-Yazdi al-Qumi.
  9. Al-Hajj asy-Syaikh Abd an-Nabi an-Nuri.
  10. Al-Hajj Mirza Husain al-Alawi as-Sabzawari.
  11. Asy-Syaikh Ghulam Husain Syaikh al-Islam al-Khurasani.
  12. Al-Mirza Muhammad as-Sarwaqadi al-Masyhadi.
  13. Al-Maula Muhammad al-Haidaji az-Zanjani.

Thabaqah 32

  1. Al-Hajj asy-Syaikh Abbas Ali al-Fadhil al-Khurasani.
  2. Al-Mirza al-Askari asy-Syahidi al-Masyhadi.
  3. Agha Sayyid Husain al-Badkubai.
  4. As-Sayyid Agha Mirza Muhammad Ali asy-Syah Abadi ath-Thahrani al-Ishafahani.
  5. As-Sayyid Ali al-Mujtahid al-Kazruni asy-Syirazi.
  6. Asy-Syaikh Muhammad al-Khurasani al-Ganabadi.
  7. Al-Hajj asy-Syaikh Muhammad Husain al-Gharwi al-ishfahani.
  8. Asy-Syaikh Muhammad Taqi al-Amili.
  9. As-Sayyid Agha Mirza Mahdi al-Isytiyani.
  10. Al-Hajj Agha Mirza Ahmad al-isytiyani.
  11. Agha Mirza Thahir at-Tankayini.
  12. As-Sayyid Abu al-Hasan ar-Rafi’i al-Qazwini.
  13. Asy-Syaikh Muhammad Husain al-Fadhil at-Tuni.
  14. As-Sayyid Muhammad Kazhim al-‘Ashshar.

Thabaqah 33

Thabaqah guru-guru Ayatollah Murtadha al-Muthahhari.

Bahan Pustaka:

Al-Islam wa Iran, j. 3, asy-Syahid Ayatullah Murtadha al-Muthahhari, terj. Muhammad Hadi al-Yusufi al-Gharvi, Munazhzhamah al-I’lam al-Islami Qism al-‘Alaqat ad-Dauliyah, Tehran, cet. 1, 1405/1985, h. 114-184.


[1] Al-Fihrist, h. 337-338.

[2] Al-Fihrist. H. 172.

[3] Lihat: Henry Corbin dalam Tarikh Falsasah Islami, h. 199; Dr. SH Nasr dalam Se Hakam Musliman, h. 116.

About these ads