Qawa’id Imla’ 01: Hamzah Wasl

Praktikum Qira’at al-Qur’an Wa al-Tahfiz

Ahmad Fadhil

 

Qawa‘id al-Imla’

Pelajaran Pertama: Hamzah Wasl

Tulislah kata-kata berikut ini:

  1. اِسْمٌ، اِبْنٌ، اِبْنَةٌ، اِمْرُؤٌ، اِثْنَانِ، اِثْنَتَانِ
  2. اَلْحَمْدُ، اَلْعَالَمِيْنَ، اَلرَّحْمَنُ، اَلرَّحِيْمُ، اَلدِّيْنُ، اَلصِّرَاطُ، اَلْمُسْتَقِيْمُ، اَلْمَغْضُوْبُ، اَلضَّالِّيْن
  3. اُكتُبْ، اِنْكَسَرَ، اِنْطَلِقْ، اِنْطِلَاقًا، اِسْتَخْرَجَ، اِسْتَخْرِجْ

Perhatikan huruf-huruf alif (ا) di awal setiap kata tersebut. Huruf-huruf alif itu disebut Hamzah Wasl. Hamzah Wasl artinya hamzah tambahan yang ada di awal kata untuk menjadi penyambung dengan huruf mati yang ada setelahnya. Huruf ini dibaca jika ia berada di awal ucapan dan tidak dibaca jika ia tersambung dengan kata lain sebelumnya. Huruf alif di dalam kata-kata ini ditulis tanpa hamzah (ء).

Hamzah pada kata اسم dibuang baik sebagai tulisan maupun bacaan dalam lafal basmalah karena sering digunakan, tidak dibuang pada lafal lainnya.

Hamzah pada lafal ابن menjadi Hamzah Qat‘ (akan diterangkan pengertiannya pada pertemuan selanjutnya) jika lafal tersebut dibentuk menjadi tathniyah (إبنان) atau jam‘ (أبناء).[1]

 

Latihan

Bacalah ayat-ayat al-Quran berikut ini: Al-Fatihah: 1, al-‘Alaq: 1, Al ‘Imran: 45, al-An‘am: 118, al-A‘la: 1, al-Baqarah: 177, al-Tahrim: 12, al-Nisa’: 176, Al ‘Imran:  35, al-Ma’idah: 106, al-Baqarah: 60, al-A‘raf: 156, al-‘Asr 1-3, Al ‘Imran: 53; lalu tulislah ayat-ayat berikut:

  1. بِسۡمِ ٱللهِ, اقْرَأْ بِاسْمِ, مِنْهُ اسْمُهُ, ذُكِرَ ٱسۡمُ, سَبِّحِ اسْمَ, وَالْمَسَاكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ, وَمَرْيَمَ ابْنَةَ عِمْرَانَ, إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ, إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ, حِيْنَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ, مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ
  2. Tulislah QS al-‘Asr.
  3. واكتب لنا في هذه الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة إنا هدنا إليك
  4. ربنا أمنا بما أنزلت واتبعنا الرسول فاكتبنا مع الشاهدين

 Senin, 15 Oktober 2012.

Sekularisme Parsial Dan Sekularisme Absolut

http://www.elmessiri.com/articles_view.php?id=31

بين العلمانية الجزئية والعلمانية الشاملة

د. عبد الوهاب المسيرى

 

SEKULARISME PARSIAL DAN SEKULARISME ABSOLUT

‘Abd al-Wahab al-Masiri

Terjemah oleh Ahmad Fadhil

ما هي العلمانية؟ هذا السؤال قد يبدو بسيطا، و الإجابة عليه أكثر بساطة، فالعلمانية هي فصل الدين عن الدولة ، أليس كذلك؟ قد يندهش القارئ إن أخبرته أن إجابتي علي هذا السؤال بالنفي و ليس بالإيجاب. و لتوضيح وجهة نظري أري أنه من الضروري أن أطرح قضية منهجية خاصة بالتعريف.

Apakah sekularisme itu? Pertanyaan ini nampak sederhana dan jawabannya lebih sederhana. Sekularisme adalah upaya memisahkan agama dari negara. Bukankah begitu? Pembaca mungkin akan terkejut jika saya katakan bahwa jawaban saya bagi pertanyaan ini adalah tidak, dan bukannya ya. Untuk menjelaskan pandangan ini, saya pikir penting untuk terlebih dulu membahas wacana metodologis yang berkaitan dengan definisi.

  Baca lebih lanjut

Memenuhi Kebutuhan Orang Lain

MEMENUHI KEBUTUHAN ORANG LAIN

Allah SWT menghendaki berjalannya tradisi saling menolong dan solidaritas di tengah-tengah masyarakat. Itulah hukum yang harus berlaku di tengah-tengah masyarakat agar masyarakat itu dapat menunaikan tugas dan perannya, sebagaimana tolong menolong juga menjadi hukum yang berlaku di antara anggota-anggota tubuh seorang manusia agar dia dapat menunaikan tugas dan tanggung jawabnya.

Baca lebih lanjut

Ibrahim Tak Pernah Bohong

Muhammad Hadi Ma’rifah di dalam buku Shubhat wa Rudud Hawla al-Qur’an al-Karim, h. 28-29 mengatakan bahwa beberapa hadith yang diriwayatkan Abu Hurairah menerangkan bahwa Ibrahim pernah tiga kali berbohong. Dua kali berkaitan dengan Allah, yaitu perkataannya inni saqim (al-Saffat: 89) dan bal fa’alahu kabiruhum hadha (al-Anbiya’: 63) dan ketiga berkaitan dengan istrinya, Sarah, yaitu pengakuannya bahwa Sarah adalah saudara perempuannya (Shahih al-Bukhari, 4/171 dan 7/7; Shahih Muslim 7/98; Musnad Ahmad 2/403-404).

Baca lebih lanjut

Tujuh Kiat Agar Gemar Membaca

Supaya bisa gemar atau rajin membaca:

Satu, jangan memaksa diri untuk membaca.

Membaca di sini maksudnya membaca buku-buku yang bebas dibaca. Kalau buku yang wajib dibaca seperti buku pelajaran, ya harus dipaksa.[1]

Dua, berusahalah memilih buku yang tepat.

Tidak ada satu buku yang cocok untuk semua orang, tidak ada satu penulis yang bisa disenangi semua orang. Pilih sendiri buku yang cocok bagi Anda, penulis yang Anda senangi. Jangan membenci atau berhenti membaca secara total hanya karena ada satu dua buku yang susah Anda pahami atau tidak dapat Anda nikmati. Dalam satu bidang bacaan, ada banyak sekali buku.[2]

Tiga, tentukan apa tujuan Anda membaca.

Mengapa Anda ingin menjadi pembaca? Mengapa Anda ingin gemar membaca? Bayangkan kondisi yang lebih baik yang dapat Anda peroleh setelah membaca suatu buku atau setelah menjadi kutu buku.[3]

Empat, jangan tergesa-gesa dalam membaca.

Jangan galau kalau Anda membaca lebih lambat daripada orang lain. Pembaca pemula lebih baik membaca dengan lambat. Kalau sudah bosan membaca tinggalkan saja, jangan memaksa untuk meneruskan. Kerjakan yang lain, setelah itu baca lagi.[4]

Lima, jangan ragu untuk mencoret-coret atau membuat catatan di buku.

Buku bukan guci antik yang tidak boleh tergores. Buku cuma alat untuk bersenang-senang. Kalau perlu menekuk halaman “hanca”, tekuk saja. Membuat catatan dapat memberikan kesan “pribadi” bagi buku yang Anda baca. Tapi ingat, pesan ini berlaku jika dan hanya jika buku itu milik Anda. Dilarang keras menekuk dan membuat catatan di buku milik orang lain.[5]

Enam, bergayalah seperti kutu buku.

Koleksi buku sebanyak mungkin walaupun tampaknya Anda tidak akan habis membaca buku-buku koleksi Anda. Rajin-rajin datang ke perpustakaan dan toko buku untuk melihat, meminjam, dan membeli buku bagus yang belum Anda punya. Selalu sediakan buku dalam jarak yang mudah Anda jangkau: di dalam tas, dasbor mobil, pinggir ranjang. Lama kelamaan hubungan Anda dengan buku pasti akan semakin erat.

Tujuh, ingat sekali lagi, tujuan membaca adalah bersenang-senang. Manfaat lainnya boleh datang belakangan.

Jangan jadikan membaca sebagai rutinitas. Bila perlu, siapkan ruang tertentu yang Anda untuk membaca seperti Anda menyediakan ruang untuk salat. Membaca boleh dijadikan sebagai ritual yang sakral dan indah. Atau, usaha apa saja yang meninggalkan kesan membaca adalah sesuatu yang menyenangkan.[6]


[1] Sajid al-‘Abdali, Iqra’: Kayfa Taj‘al al-Qira’ah Juz’an Min Hayatik, Dubai: Dar Madarik li al-Nashr, cet. I, September 2011, h. 19.

[2] Sajid al-‘Abdali, Iqra’: Kayfa Taj‘al al-Qira’ah Juz’an Min Hayatik, h. 20.

[3] Sajid al-‘Abdali, Iqra’: Kayfa Taj‘al al-Qira’ah Juz’an Min Hayatik, h. 21.

[4] Sajid al-‘Abdali, Iqra’: Kayfa Taj‘al al-Qira’ah Juz’an Min Hayatik, h. 21.

[5] Sajid al-‘Abdali, Iqra’: Kayfa Taj‘al al-Qira’ah Juz’an Min Hayatik, h. 22.

[6] Sajid al-‘Abdali, Iqra’: Kayfa Taj‘al al-Qira’ah Juz’an Min Hayatik, h. 23.

Anjuran untuk membaca dan pentingnya buku

Ramadan adalah bulan membaca. Pada bulan Ramadan Allah SWT menurunkan al-Quran. Dan, yang pertama diturunkan dari al-Quran adalah ayat yang memerintahkan untuk membaca.

Membaca sangat penting. Banyak orang menganjurkan kita untuk membaca. Berikut ini petikan kata-kata beberapa tentang pentingnya membaca atau pentingnya buku.

Sebelum kita mengarahkan orang untuk membaca buku-buku yang baik, mari terlebih dulu kita mengajari mereka gemar membaca.

(Skinner, Psikolog Amerika, 1904-1990)

Tidak ada cara untuk memperluas cakrawala dan dunia anak-anakmu, kecuali dengan membuat mereka gemar membaca.

(Jacqueline Kennedy Onassis, istri John F. Kennedy, mantan Presiden AS)

Membaca buku seorang pemikir tidak hanya berarti engkau mengambil gagasan dari ucapannya, tapi juga pergi dan mengadakan perjalanan bersamanya.

(Andre Gide, pemikir Perancis, 1869-1951)

Orang yang punya kesempatan untuk membaca pasti bahagia. Sebab, dia dapat memetik bunga-bunga dari taman-tamana dunia, kondisi-kondisi umat terdahulu tergambar di depan matanya, dia laksana hidup dengan orang-orang terbaik di setiap masa, dan seolah-olah dunia semuanya tercipta untuk dirinya.

(John Herschel, astronom Inggris, 1792-1871)

Rumah tanpa buku seperti badan tanpa jiwa.

(Marcus Tullius Cecero, penulis Romawi)

Di dalam buku terdapat rumah-rumah dari emas.

(Peribahasa Cina)

Buku adalah mercuar di pantai waktu yang penuh karang.

(Edwin Whipple, penulis Amerika, 1819-1886)

Buku bukanlah tumpukan kertas tak bernyawa yang disimpan di rak. Buku adalah akal-akal yang hidup.

(Gilbert White, Fisikawan Inggris, 1720-1793)

Jika engkau tidak dapat menikmati membaca satu buku yang sama, padahal telah mencoba membacanya berkali-kali, maka ketahuilah bahwa tidak ada alasan untuk membaca buku itu sama sekali.

(Oscar Wilde, penyair Irlandia, 1854-1900)

 

Sumber: Sajid al-‘Abdali, Iqra’: Kayfa Taj‘al al-Qira’ah Juz’an Min Hayatik, Dubai: Dar Madarik li al-Nashr, cet. I, September 2011.

Cahaya al-Quran

Ada seseorang yang buta huruf, tapi hapal al-Quran. Orang-orang memberinya sebuah buku tafsir. Orang itu mampu membedakan antara kata-kata al-Quran dengan kata-kata bukan al-Quran padahal dari segi penulisan tidak ada bedanya.

Orang itu benar-benar buta huruf dan tidak bisa menulis juga tidak bisa membaca. Dia menunjuk beberapa kata lalu mengatakan, “Ini dari al-Quran dan itu bukan dari al-Quran.”

Orang-orang bertanya kepadanya, “Bagaimana engkau tahu padahal engkau tidak bisa membaca?”

Dia menjawab, “Aku melihat cahaya pada kata-kata al-Quran yang tidak kulihat pada kata-kata bukan al-Quran.”

Ayatullah Bahjat mengomentari cerita ini dengan mengatakan, “Orang terbiasa menyebut buku ini sebagai al-Quran, padahal kaum Muslimin di awal sejarah Islam membaca al-Quran padahal al-Quran belum ditulis, lalu ditulis agar terjaga.”

Sumber: Muhammad Taqi Bahjat, Muqtatafat min Sirah al-‘Alim al-Rabbani Ayatullah al-Shaykh Muhammad Taqi Bahjat, http://www.alseraj.net/alseraj1/books/bahjah.zip

Perpecahan Umat Islam Dalam Pandangan Imam Ali

Seorang Yahudi menemui Ali bin Abu Talib dengan maksud hendak menyudutkannya dengan mengungkap perpecahan umat Islam tentang khalifah pasca wafatnya Nabi.

Orang itu berkata, “Nabi kalian baru saja wafat dan belum dikuburkan, tapi kalian sudah berbeda pendapat tentang dirinya.”

Imam Ali menjawab, “Kami berbeda pendapat tentang satu ajarannya, bukan tentang dirinya. Berbeda dengan kalian. Baru saja naik dari laut dan belum kering kaki kalian, kalian sudah berkata kepada nabi kalian, ‘Buatkan untuk kami (satu patung) Tuhan sebagaimana mereka memiliki (banyak patung) tuhan-tuhan.’”

Dengan kata-kata ini, menurut Murtada Mutahhari, Imam Ali hendak menjelaskan bahwa perbedaan umat Islam pada saat itu berpijak pada pondasi iman kepada tauhid dan kenabian. Umat Islam tidak berselisih tentang diri Nabi Muhammad saw, tapi tentang salah satu ajarannya, apakah dalam bentuk seperti ini atau itu? Apakah hukum Islam dan al-Quran tentang wajibnya khalifah Nabi adalah orang tertentu yang disebut dengan jelas oleh Nabi saw sebelumnya, atau orang yang dipilih umat sebagai khalifah bagi mereka? Sedangkan orang-orang Yahudi menginginkan sesuatu yang jelas-jelas berbeda dan bertentangan dengan yang diajarkan oleh nabi mereka padahal nabi mereka masih hidup.

 

Sumber: Murtada Mutahhari, Imamah, terjemah ke dalam Bahasa Arab oleh Jawwad ‘Ali Kassar, Dar al-Hawra’, tt., h. 26-27.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.